
"Mengirimu uang?"
"Ya, kau lupa? Sedemikian banyaknya uang dan harta yang kau punya. Dan entah sudah kau berikan kepada siapa saja sampai kau tidak mengingat nya." Katanya dengan suara pahit.
"Untunglah waktu itu aku tidak memakai uang itu untuk mengaborsi kandunganku."
Arya tertegun lagi. Kedua alisnya nyaris bertaut menjadi satu.
"Mirna, maafkan aku. Tetapi aku sungguh mohon kepadamu, janganlah kau ungkit masa-masa yang sudah berlalu. Sebaiknya kita melihat ke masa depan kita saja. Sekarang kita harus fokus dengan Safa yang belum sembuh total."
Diingatkan hal itu, Mirna segera mengembalikan hati dan pikiran nya ke Safa. Setelah Dokter Risa datang, perasaan Mirna sudah cukup lebih tenang. Meskipun kondisi Safa belum baik. Apalagi setelah itu Safa akan di bawa dan dirawat di ruang VIP. Dan dalam kesempatan berdekatan dengan Dokter Risa, Mirna menyempatkan memberi nya uang dalam amplop.
"Dokter, ini uang saya yang belum sempat terbayar beberapa hari yang lalu." ucap nya.
"Ayah nya Safa sudah membayar biaya perawatan Safa di rumah sakit. Saya mengucapkan terima kasih banyak ya Dok dan maafkan saya jika sudah merepotkan Dokter."
"Ah...tidak usah." Dokter Risa menolak amplop itu, tetapi Mirna langsung cepat-cepat memasukkannya ke saku jas putih yang dikenakan snag Dokter.
Dokter Risa hanya bisa tersenyum melihat Mirna.
__ADS_1
Berada di ruang perawatan VIP, Mirna merasa sangat lega. Ada sofa yang bisa ia gunakan untuk tidur. Tadi malam, ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Setelah Bik Ijah datang membawakan pakaian dan barang keperluan lainnya ia pamit pulang, Arya juga ikut pamit.
Apalagi Safa sudah tampak lebih tenang dan sedikit mulai tersadar.
Diteras rumah sakit, ketika Bik Ikan berjalan ke arah tempat parkir anaknya yang memarkirkan motornya, Arya memberi Bik Ijah sejumlah uang.
"Bik, ini untuk ganti uang bensin motor anakmu dan saya ingin mengucapkan terima kasih banyak pada Bibik." Ucapnya
"Wah, kok banyak sekali pak."
"Itu sama sekali tidak ada artinya di bandingkan sama apa yang sudah Bibik lakukan untuk anak saya."
"Tuan, maaf kalo saya lancang bicara seperti ini. Tapi ini demi kebaikan Neng Mirna dan Neng Safa." katanya.
"Kembalilah dengan Neng Mirna, kalau saya boleh kasih saran. Kasihan mereka berdua Tuan."
"Jangan minta maaf begitu Bik, saran mu sudah cukup bagus. Saya akan memikirkan nya." Jawab Arya tersenyum.
"Syukurlah, karena Neng Mirna harus bekerja. Neng Safa jadi kurang perhatian ibunya. Sehari-hari cuma dengan saya." kata Bik Ijah.
__ADS_1
"Iya Bik." Jawab Arya.
Pagi harinya sekitar jam tujuh pagi, Arya kembali ke rumah sakit. Dia membawa sarapan dan juga minuman untuk Mirna. Dan juga tak lupa membawa hadiah untuk Safa. Ketika Arya sampai di rumah sakit, ia melihat Mirna sedang duduk di tepi ranjang tidur dan terlihat wajah yang sangat lelah.
"Kenapa dia, Mirna??" Tanyanya.
"Tidak apa-apa, tetapi hatiku sangat khawatir. Sebab pasien di kamar sebelah semalam meninggal dunia." Jawab Mirna dengan nada gemetar.
"Juga kena tipes?"
"Bukan, ia terkena sakit Ginjal."
"Sungguh malang nasib nya...."
"Aku ingin Safa sembuh. Kalau ia tidak ada aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini."
Arya melirik wanita yang sedang cemas itu. Hantinya sungguh tersentuh. Ia berpikir dengan banyak tanda tanya. Ada dimana orang tua Mirna? Apakah ia tidak mempunyai saudara kandung? Arya sungguh tidak tahu semua kehidupan Mirna.
"Safa lekas sembuh ya sayang, ayo lekaslah sembuh dan bangun." Arya seperti orang yang tidak menyadari apa pun.
__ADS_1