Melangkah Tanpa Arah

Melangkah Tanpa Arah
Sepuluh


__ADS_3

Mudah pula menaruh kepercayaan terhadap pemuda yang memperlakukannya dengan istimewa. Memikirkan hal itu hati Silvi mulai tersentuh dengan kondisi Mirna.


"Lalu apa yang akan kau perbuat selanjutnya, Mirna?" tanyanya kemudian dengan prihatin yang berbeda dari sebelumnya. Kalau bukan karena permintaan dirinya untuk menginap dir rumahnya Mirna pasti tidak akan bernasib buruk seperti ini. Memang tidak mudah untuk gadis-gadis menghindari daya tarik gombalan Arya. Apalagi gadis lugu seperti Mirna.


"Justru karena itulah aku mengajakmu untuk mendengarkan curhatan ku, Sil. Barangkali saja kau punya saran yang baik untuk masa depan ku. Sebab tak mungkin aku melanjutkan kuliah ku. Bahkan besar kemungkinan aku di usir dari panti, lalu aku harus bagaimana?" Sambil berkata, air matanya tak bisa dibendung lagi.


"Bagaimana kalau kandunganmu di aborsi saja?" usul Silvi kemudian.


Mirna pernah berpikir seperti itu. Tetapi ada banyak ketakutan lain yang menjeratnya. Takut berdosa, karena bagaimana pun juga anak itu adalah amanah dari Allah swt. Ia sering merasa marah dan kecewa terhadap tante nya yang sudah menyerahkan dirinya ke Panti asuhan. Meskipun tidak bisa membayangkan apa dan bagaimana wajah tantenya, kekecewaan itu masih saja sering melintasi pikirannya. Sungguh perih sekali rasanya. Maka kalau sekarang ia mengaborsi bayi yang bergantung kehidupannya dengan hati Mirna sebagai ibu, bukankah itu lebih buruk dari apa yang telah dilakukan oleh sang tante nya?


"Tidak, Sil. Tidak. Aku tidak akan mengaborsi bayi ku." Katanya begitu perang batinnya dimenangi oleh hati nuraninya itu.

__ADS_1


Silvi terdiam beku sesaat. Kemudian mengungkapkan apa yang ia pikirkan di benaknya.


"Kalau begitu, hubungilah Arya secepatnya. Dia harus tau tentang keadaan mu sekarang!" Katanya.


"Supaya menikahiku? Tidak, Sil. Dia memang pemuda yang sangat menarik bagi semua wanita yang melihat nya. Tetapi aku sadar, itu bukanlah cinta. Aku belum mengenalnya dengan baik. Aku ini yatim piatu, Silvi. Karenanya aku mempunyai impian yaitu aku ingin menikahi pria yang aku cintai dan yang sangat mencintaiku. Dan kami berdua akan membentuk rumah tangga yang penuh kehangatan kasih... tidak seperti apa yang aku dan juga teman-teman serumah panti alami." Suara Mirna menahan tangis.


"Aku tidak ingin menikah karena keterpaksaan."


"Aku tidak kasih saran untuk Arya menikahimu. Aku hanya ingin Arya juga bertanggung jawab terhadap bayimu. Dia kan juga ayah dari bayi itu, Mirna."


"Sebetulnya seperti apa latar belakang Arya? Bagaimana sifatnya? Aku belum mengenalnya lebih dalam." Tanyanya.

__ADS_1


"Terus terang aku tidak sangat mengenalinya, Mirna. Aku hanya tahu dia anak orang kaya dan terpandang." Jawab Silvi.


"Orangnya sih baik, dia termasuk orang yang hangat pembawaannya ramah. Tetapi kata Dio, kuliahnya agak kendur. Bukan karena bodoh, tetapi karena tidak pernah serius dan lebih suka berfoya-foya di luar daripada belajar. Dia biasa dimanja orangtuanya."


"Ah....aku jadi takut menghadapinya." keluh Mirna begitu mendengar apa yang dikatakan Silvi.


"Kenapa?"


"Dia anak orang kaya dan terpandang. Apakah ia mau memperhatikan keluhanku? Setelah kejadian malam itu pun ia tak pernah menghubungi ku, padahal katanya aku ini begini dan begitu."


"Tetapi kau sedang hamil anaknya, Mirna. Janganlah terlalu berpikir negatif menilai dirinya. Memang ku akui, Arya yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan dari orangtuanya itu agak kurang dewasa dalam memandang kehidupan dunia ini. Tetapi aku tahu, hatinya baik. Masa sih dia akan mengabaikan kehamilan mu begitu saja?"

__ADS_1


"Jadi apa saranmu?" Mirna memotong perkataan Silvi dengan rasa geram.


"Kalau kau tidak ingin menghubungi nya, maka kau tulis saja surat lalu aku yang akan mengasih surat itu untuk Arya. bagaimana?" kata Silvi menyarankan Mirna.


__ADS_2