
"Sebab saya hanya mau berbicara dengannya saja tanpa perantara.Lagi pula saya tidak punya banyak waktu dan harus segera kembali ke rumah sakit."
Ketegasan suara itu memunculkan suara dari arah dalam.
"Bibik masuk saja." Kata suara itu. Nada bicaranya terdengar berat tetapi empuk.
"Biar saya yang menemuinya."
Kepala Mirna bergerak, menoleh ke arah asal suara. Laki-laki itu muncul begitu saja di hadapannya begitu suaranya terbang dibawa angin. Dia ganteng, bermata tajam seperti burung elang melihat mangsanya, dan dengan bibir berlekuk bagus. Di atas bibirnya terdapat segaris tipis kumis rapi, yang memperjelas ketampanannya.
__ADS_1
Mirna seperti diingatkan pada tokoh Arjuna pandawa lima, tokoh pewayangan yang ganteng, gagah, sakti, dan jujur.
Tetapi aneh sekali rasanya.Ia merasa sangat asing berhadapan dengan ayah Safa. Bahkan sama sekali dia tidak ingat apakah dulu laki-laki itu berkumis atau tidak. Tetapi di atas segalanya, Mirna bagai diempaskan dari tebing ke bawah jurang yang penuh dengan bebatuan.
Ketika laki-laki itu menyapanya dengan dahi berkerut, ia kelihatan bingung.
"Bolehkah saya tahu siapa Anda?" begitu ia berkata.
Mirna melirik ke tempat pembantu rumah tangga Arya tadi berdiri. Tetapi ternyata perempuan setengah baya itu sudah tidak ada. Malu rasanya kalau pertanyaan Arya tadi di dengar olehnya. Oleh karenanya dengan perasaan agak lega, Mirna mengembalikan pikirannya kepada laki-laki itu.
__ADS_1
"Apakah Mas Arya lupa dengan saya?" tanyanya kemudian dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ah, kalau saja dia tahu begini yang terjadi, pasti dia tadi akan mencari pinjaman uang pada orang lain.
Kerut di dahi laki-laki itu semakin nyata dan matanya mulai menyipit saat menatap Mirna dengan Kilatan yang tajam. Hati Mirna tercekat. Dengan jelas ia bisa menangkap kejujuran yang tersirat dari kedua bola mata Arya. Jadi kali ini Mirna membenarkan dugaanya, bahwa Arya tidak pernah menganggapnya istimewa. Bahkan pernah lewat dalam hidupnya saja pun, laki-laki itu tidak ingat.
"Anda siapa? Coba tolong pertanyaan saya dijawab dengan jelas. Maafkan...." kata Arya setelah beberapa menit meneliti wajah Mirna. Tak sekilas pun ia ingat pernah bertemu dengan perempuan muda itu. Bahkan sampai ia benar-benar meneliti wajahnya, ia masih tetap tidak ingat.
Tampaknya tamunya lebih mengenal dirinya daripada sebaliknya. Entah mengapa ia bisa melupakannya. Padahal wajah perempuan ini sangat cantik dan natural meskipun pakaiannya tampak lusuh dan kusut. Wajah yang mestinya tak mungkin terlupakan begitu saja. Tetapi pada kenyataannya, tak secerah pun ia mengingat wanita yang kini berada di hadapannya.
Mirna ganti menatap Arya dengan mata tajam. Sungguh, nyata sekali laki-laki itu benar-benar tidak mengenalinya. Bukan pura-pura. Ah, sial sekali dirinya. Kenapa tadi mendengarkan saran Bik Ijah untuk menemui ayah Safa?
__ADS_1
"Saya Mirna." sahutnya kemudian dengan penuh keterpaksaan dalam hatinya. Demi Safa, apa pun akan ia hadapi. Kalau mungkin dan melupakan keberadaan Arya.
"Kita perna berkenalan di pesta jadiannya Silvi. Dulu, saya dan Silvi bersahabat. Kami sama-sama kuliah di AKMI.