
Bik Ijah sudah bekerja selama tiga tahun lebih di rumah Mirna bisa menangkap apa saja kegundahan yang sedang dirasakan perempuan muda itu.
Akhirnya karena merasa tak tega dan dengan pemikirannya yang sederhana,Bim Ijah menyampaikan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh Mirna.
"Neng Mirna,anak ini kan bukan anak Neng Mirna sendiri.Tetapi juga anak bapaknya.Kenapa Neng tidak memberitahu ayahnya mengenai kondisinya saat ini? Pasti dia akan membantu Neng membayar biaya rumah sakit,". Ucap Bik Ijah.
Ya, Kenapa? Pertanyaan itu memang perlu dipikirkan kembali. Toh Safa mempunyai seorang ayah.Orang tua ayahnya sangat kaya raya.Selain memiliki perusahaan, juga pernah menduduki jabatan yang lumayan tinggi di pemerintah masa lalu.Seharusnya demi Safa, ia tidak boleh lagi bertahan pada harga diri yang selama ini menghuni hati dan jiwanya itu.
Seumur hidupnya, Mirna belum pernah melihat orang tua ayah nya Safa, apalagi berhadapan muka dengan muka atau berbicara empat mata.Bahkan menginjak rumahnya pun tak pernah. Maka dengan perasaan gelisah dan khawatir, demi Safa, hadi itu juga ia berdiri di teras halaman rumah orang tua ayah Safa.
Rumah besar nan mewah itu kelihatan menyenangkan.Segalanya serba enak dilihat. Ada beberapa pohon pelindung yang dibentuk sangat cantik sekali dengan daunnya. Taman nya ditata rapi dan nampak asri.Pikirannya yangs sedang kacau,bimbang,malu,dan juga merasa bingung tentang apa yang harus ia katakan nanti.
__ADS_1
Ah bagaimanakah wajah ayah Safa sekarang?Apa masih sama dengan yang dulu?Atau berubah?
Sulit untuk menyatukan dalam satu wadah ingatan yang jelas dalam kenang nya.Tetapi yah, bukankah memang wajah itu tak pernah ada di dalam hatinya? kalau ia berusaha mengingatnya,selalu saja hati nya akan merasa bagai ditusuk seribu jarum dan rasa sesal yang melekat di dalam dirinya. Juga ada rasa malu yang sangat dan rasa sukar yang susah dienyahkan.
Tidak mengherankan jika dengan berjalannya waktu, wajah samar itu menjadi baur dan tidak pernah bisa menetap dalam ingatannya.
Kini sambil menantikan orang membukakan pintu setelah ia memencat bel di rumah itu, Mirna berdiri sambil menguatkan hati agar kakinya tak sampai kehilangan kekuatan.Dia datang untuk kepentingan Safa, dan tidak bermaksud ada kepentingan lain.Kalau laki-laki itu sudah tidak tinggal dengan orang tuanya,entah sudah menikah atau bekerja di tempat lain,setidaknya ia bisa mendapat informasi dimana keberadaan ayahnya Safa sekarang.
Pikiran Mirna terhenti oleh seseorang yang membukakan pintu untuk dirinya.Orang itu bukan ayah Safa, bukan orangtuanya. Tetapi seorang perempuan setengah baya yang menatapnya dengan heran karena melihat seorang perempuan muda berdiri di hadapannya dalam kebisuan.
Wajahnya memang cantik,tetapi keseluruhan dirinya tampak lemah.bisa dilihat dari raut wajahnya yang terlihat banyak pikiran.
__ADS_1
"Maaf,nona mencari siapa?" tanyanya kemudian,mendahului tamunya.
Nona? Mirna tersenyum getor.Masih saja ada orang yang salah sangka terhadap nya,ia mengira dirinya masih "nona". Bahkan banyak orang yang merasa tak percaya ketika tahu dirinya adalah ibu dari anak berusia empat tahun. Tetapi apakah mereka salah kalau pada kenyataannya dirinya masih pantas menyandang sebutan itu?
Mirna mengibaskan kenangannya yanh sering lewat di pikirannya. Apalagi sekarang, di saat dirinya sedang berhadapan dengan masa lalu yang kelam. Terlebih karena orang yang menyapanya masih menunggu jawabannya.
"Bik...apakah....Mas Arya ad di rumah??" ucapnya dengan suara gemetar.
untuk sejenak,pembantu itu merasa ragu dan bingung dengan ucapan Mirna.Orang yang namanya baru saja ddisebut memang sedang di rumah.
Para readers sejati jangan lupa coment dan kasih saran yaaa😊dan kasih dukungan biar authornya semangat nulis.
__ADS_1