
Mirna masih gadis yang polos, lugu, tanpa pengalaman, dan belum mengetahui betapa mudahnya para muda-mudi seusia mereka meluncur ke dalam pergaulan bebas. Ia terpukau oleh Arya yang tampan dan memiliki keahlian merayu wanita. Maka ketika hari telah larut malam, tanpa disadarinya dia terjatuh ke dalam pelukan Arya. Meskipun usianya sudah hampir dua puluh tahun, dia masih begitu hijau untuk mengetahui lika-liku kehidupan yang mengandung banyak godaan karena jarangnya bergaul dengan para pemuda.
Sudah begitu di kampusnya, semua para mahasiswi perempuan nya tidak pernah ada seorang pun belum mengatakan betapa cantiknya dia. Pemuda itu memperlakukannya seolah dirinya adalah satu-satunya perempuan tercantik di Asia. Sepertinya tidak ada wanita lain sepenting dirinya di hati Arya. Dan tak ada hal lain yang menarik dirinya di mata Arya. Hanya Mirna sajalah yang meraih seluruh perhatian nya. Itulah bentuk-bentuk rayuan dan gombalan Arya terhadap Mirna. Maka meskipun dengan perasaan malu setengah mati dan tanpa berpikir apa resiko nya, semalam suntuk itu Mirna tenggelam dalam belaian hangat Arya dan terlarut dalam pelukannya. Otaknya tidak bisa diajak berpikir, karena yang ada di dalam pikirannya hanyalah Arya yang tampan dyang kini sedang bermesraan dengan dirinya.
Hingga pada akhirnya mereka melakukan perbuatan diluar dugaan. Tetapi kemudian sesudah kejadian tersebut, mereka tidak pernah lagi bertemu. Arya sama sekali tidak pernah menghubungi nya. Apalagi mencari keberadaannya sekarang. Lelaki yang memesonanya itu, hanya lewat begitu saja. Bagaikan debu yang ditiup oleh angin sesaat.
__ADS_1
Hari berikutnya Mirna pulang ke Panti kembali. Ketika itu dia merasa dirinya baru bangun dari tidur yang sangat lama. Dengan mimpi yang panjang pula, sehingga ia tidak bisa membedakan mana yang nyata, mana yang di alam mimpi. Berminggu-minggu sudah Mirna masih saja terpesona oleh segala hal yang ia alami. Namun berminggu-minggu yang datang pesona itu berubah menjadi rasa ketakutan yang amat luar biasa.
Haidnya tidak datang dan tubuhnya cepat sekali merasa lelah. Sepolos apa pun dirinya, langsung saja ia bisa mengaitkan keadaan dirinya itu dengan apa yang terjadi di rumah Silvi malam itu. Dengan uang yang di pinjam nya dari Silvi, Mirna memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Dan sebagaimana yang sudah ia duga, dia positif hamil.
Dengan rasa takut yang luar biasa ia menceritakan keadaannya kepada Silvi, satu-satunya orang yang mengetahui kejadian malam itu. Tetapi alangkah kaget nya Mirna ketika mendengar Silvi kasih saran pada Mirna sangat bertolak belakang. Silvi dan Mirna sama-sama berotak cerdas dan cermat. Gadis itu hangat dalam pergaulan dan tidak pernah membeda-bedakan latar belakang temannya. Tetapi tentang pergaulan nya yang bebas, Mirna mengetahui saat kehamilannya ia keluhkan pada teman dekatnya itu.
__ADS_1
"Kau kurang telaten sih."
Kepedulian Silvi saat itu bukan mengenai masa depan Mirna yang akan berubah, tetapi karena ia tidak memakai alat pencegah kehamilan dan kurang telaten melakukannya. Bagi Mirna, perkataan Silvi terdengar sangat menyeramkan. Seakan-akan dia sudah terbiasa melakukan hal-hal semacam itu. Karenanya dia langsung bicara seperti itu.
"Sil, aku baru pertama melakukan nya." Sahutnya dengan suara lemah.
__ADS_1
"Itu pun karena aku khilaf. Lupa bahwa itu adalah perbuatan zina dan dosa. Jadi bagaimana mungkin aku memikirkan tentang alat semacam itu yang tak pernah ku ketahui. Padahal melihat seperti apa alat pencegah kehamilan pun aku belum pernah!"
Mendengar jawaban itu barulah Silvi tersadar bahwa dibanding dirinya, Mirna ketinggalan jauh dalam hal pergaulan bebas. Bahkan menurut nya, termasuk kolot. Tetapi justru karena itulah Mirna mudah sekali terbawa perasaan.