
Tetapi Arya Zikri sudah memberi pesan kepada pembantunya itu untuk mengatakan bahwa ia tak ada di rumah kepada siapapun yang mencarinya. Terutama,perempuan muda di depannya ini tidak memakai rok ketat dan tidak pula mengenakan celana serta blus seksi.Dia mengenakan celana panjang serta blus model kemeja, yang tidak menunjukan sesuatu yang bisa digolongkan dengan kata "seksi". Kusut pula, seakan baru bangun tidur lalu pergi.
Bahkan pandang raut wajahnya nampak kusut dan sedih. Semacam akan putus asa. Oleh karena itu,pembantu rumah tangga itu jadi bingung untuk menentukan sikap.
"Bik...saya....ingin sekali menjumpai mas Arya.saya mohon," kata Mirna lagi ketika melihat keraguan perempuan separuh baya itu. Suaranya terdengar lembut namun penuh harap.
Bahkan tertangkap oleh telinga pembantu rumah tangga itu nada putus asa yang begitu dalam. "Ada sesuatu yang sangat perlu untuk di sampaikan?sampai Nona harus datang kemari?" tanya pembantu rumah tangga itu.
"Non siapa dan dari mana ya kalau boleh saya tahu?" pembantu rumah tangga itu melontarkan pertanyaan yang masih menyiratkan keraguan dirinya pada Mirna.
Mirna memandang perempuan dei depannya.Sepertinya, Arya sudah berpesan padanya untuk tidak menerima tamu.Kalau tidak,tak mungkin pembantu rumah tangga itu memperlihatkan keraguan nya seperti itu.
Pikiran Mirna memang benar,bahwa masih ada keraguan pada perempuan di hadapannya saat ini untuk menolak atau menerima kehadirannya untuk menemui Arya.
Tetapi baru saja namanya berada di ujung lidah,Mirna langsung membatalkannya, sadar bahwa namanya belum mempunyai arti khusus dalam kenangan Arya. Jadi ia mengatakan apa saja yang ia lontar kan keluar dari mulutnya.
Meskipun itu tidak ada kaitannya dengan pertanyaan pembantu rumah tangga ini.Harapannya,apa yang akan dikatakannya nanti bisa menimbulkan ingatan khusus di kepala Arya.paling tidak memunculkan pertanyaan yang mengusik dirinya.
"Saya dari rumah sakit," sahut Mirna terpaksa.
__ADS_1
"Dari rumah sakit?" pembantu rumah tangga itu semakin bingung.
"Lalu keperluan Nona apa,kalau saya boleh tau?"
Perempuan ini pasti bingung,pikir Mirna dengan perasaan yang maklum.Tetapi jelas,dia cukup mendapat kepercayaan dari Arya.
"Terus terang Bik,saya.....say membutuhkan bantuan Mas Arya," akhirnya Mirna memberanikan diri untuk bicara jujur dengan pembantu rumah tangga yang kini sedang berada di hadapannya.
Dibuangnya jauh-jauh rasa malu dan harga diri yang semula menjadi prinsip hidupnya karena demi anaknya.
Ini demi anak saya Safa. "Saya tak akan pernah datang lagi ke rumah ini kalau.. kalau ...kalau tidak amat terpaksa."
Pembantu rumah tangga itu tertegun,berpikir sejenak,kemudian mengucapkan sesuatu yang menunjukkan perasaannya yang Mulai tersentuh dengan rasa haru.Seluruh wajah,sikap,dan kata-kata Mirna jelas menunjukkan bahwa ia mencerminkan orang yang sedang putus asa.
"Coba tunggu sebentar ya, Non," katanya.
Mirna mengangguk tanda mengerti.Ditekannya perasaan tersinggung yang sempat melintasi hati nya.Pembantu rumah tangga itu tidak menyilahkan ia duduk dulu,bahkan di teras sekalipun.
Pikiran itu menyeret ingatan Mirna kembali ke rumah sakit, ke tempat Safa terbaring dalam kondisi lemah dan hanya di tunggui Bik Ijah, orang yang tak ada ikatan darah sedikit pun dengan Safa.Kasihan.
__ADS_1
Pikiran Mirna kembali ke ruang dan waktu sekarang ketika pembantu rumah tangga tadi keluar lagi.
"Non,apakah ada yang sakit?" tanyanya.
"Ya."
"Siapa yang sakit,Non?"
Lidah Mirna terasa tebal dengan seketika.Keluar atau tidaknya Arya,tampaknya tergantung dari jawaban yang akan dikatakannya. Melirik cara si pembantu rumah tangga menghadapi tamu,tampaknya Arya termasuk laki-laki yang angkuh dan tidak sembarangan menerima tamu.
Sekaligus juga memberi kode padanya bahwa selama ini ia hampir tidak tahu apa-apa mengenai pribadi ayahnya Safa.
"Siapa yang sakit,Non?" pembantu rumah tangga itu mengulangi pertanyaan nya.
"Mmmm.....yang sakit itu mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Mas Arya," jawab Mirna dengan sangat-sangat terpaksa.
"Oh ya?" matanya pembantu itu melebar.
"Siapa dia, Non?"
__ADS_1
Mirna menarik napas dalam-dalam.Rasanya sudah cukup banyak yang dilakukan pembantu itu untuk menjadi alasan bicara intuk Arya.Bahkan sudah terlalu jauh pula mengurusi apa yang bukan menjadi urusannya.Ataukah dirinya saja yang terlalu peka karena hubungan antara Arya dan Safa tidak diketahui orang lain?
"Katakan seperti yang saya katakan tadi,Bik.kalau Mas Arya memang mau menemui saya, tolong minta dia keluar.Tetapi kalau tidak,saya akan segera pergi," ucapnya dengan tegas.