Melangkah Tanpa Arah

Melangkah Tanpa Arah
Dua puluh enam


__ADS_3

Saat ini yang jauh lebih penting adalah memikirkan perasaan Safa. Anak itu sudah mendengarkan janji Arya terhadap dirinya. Rasanya terlalu kejam kalau harapan yang mengembang di hati kecil Safa akan meletus sebelum menjadi kenyataan. Sangat kejam kalau membiarkan hal seperti itu terjadi.


"Baiklah, Mas. Biarkan aku memikirkan masalah itu terlebih dahulu. Seperti yang ku bilang padamu, aku ini anak yatim piatu bahkan aku hidup sebatang kara. Tidak ada siapa-siapa yang bisa ku ajak bicara. Jadi seluruh kehidupan yang akan ku jalani bersama anak ku sudah menjadi tanggung jawab ku sendiri. Aku sudah pernah salah dalam melangkah dan menempuh kehidupan. Jadi jangan sampai aku salah lagi dalam menentukan keputusan yang menyangkut kehidupan kami berdua." Jawab Mirna sambil mengangguk.


Di dalam hati, Mirna akan meminta nasihat dan saran terlebih dahulu kepada para suster panti, terutama dengan suster Eva yang masih sering menghubungi dan menanyakan keadaannya. Hanya ada dua jawaban yaitu "Ya" atau "Tidak" dan jawaban apapun itu harus memiliki alasan yang bisa di pertanggungjawabkan secara rasional dan masuk akal. Jawaban yang hanya didasarkan pada perasaan saja, tidak bisa di benarkan.


"Iya, aku mengerti. Tetapi tolong dipikirkan betul-betul lamaran ku ini Mirna. Aku serius ingin menjadikanmu pasangan hidupku. Demi dirimu, demi diriku, dan demi anak kita. Aku tahu betul perasaanmu, Mirna. Tetapi percayalah padaku, aku janji tidak akan menyia-nyiakan dirimu lagi. Sekali lagi ku katakan kepadamu, berilah aku satu kesempatan untuk membahagiakan kalian berdua." Kata Arya.


"Aku akan menunggu jawabanmu."

__ADS_1


Mirna memejamkan matanya lagi. Suara Arya begitu tegas dan mengandung keseriusan sehingga dirinya mau mengangguk.


"Baiklah, aku akan memikirkan nya terlebih dahulu."


Sementara Mirna memikirkan lamaran Arya dengan serius dan sungguh-sungguh, Arya membuka laci lemari pakaian nya di rumah untuk membaca lagi surat yang pernah Mirna kirimkan. Sekarang surat itu dibacanya lagi dengan pelan-pelan dan hati-hati.


"Aku tidak meminta pertanggungjawaban mu dalam bentuk apa pun, tetapi setidaknya kita bisa berbagi pikiran dan memikirkan masalah bayi yang ada di kandunganku saat ini. Karena aku tidak mempunyai siapa-siapa sekalipun tante aku tak tahu dimana tanteku saat ini. Sejak bayi aku sudah tinggal di panti asuhan..." Isi surat yang Mirna kirimkan kepada Arya.


***SKIP WAKTU....***

__ADS_1


Mirna tidak sengaja bangun dari tidurnya karena ada suara teriakan gembira Safa dari halaman belakang. Suara itu terdengar sangat jelas sekali.


"Lempar kesini, om. Ayo...." Teriak Safa sambil tertawa bahagia.


"Ahhh, Papah curang. Om, Papah curang tuh.."


Dan saat ini terdengar suara tawa Arya yang terdengar sangat lembut.


"Papah tidak curang, sayang. Ini bola yang beda. Baru saja Papah keluarkan dari kamar Papah, tuh liat deh bola kamu ada di sebelah kursi taman..." Katanya.

__ADS_1


"Main bola tuh bolanya hanya satu, Papah. Kalau ada dua bolanya, nanti pemainnya bingung." Jelas Safa.


Sekarang Arya tertawa mendengar perkataan anaknya itu. Disusul suara tawa Putra yang tak lain adalah sepupu Arya.


__ADS_2