
"Mirna....Silvi...?" Arya bergumam, masih dengan kerut yang dalam di dahinya. Kesal dia pada diri sendiri karena tidak juga ingat nama-nama yang disebut tamunya itu. Tetapi nama Silvi tidak terlalu asing, kendati hanya samar-samar saja di dalam pikirannya.
Setelah lelah berpikir barulah ia menyadari saat itu mereka berdua masih berdiri di teras rumah.
"Eh, silahkan masuk, duduk. Sebaiknya kita bicara di dalam."
Mirna menurut dan memilih duduk di sudut, di dekat guci-guci besar dan antik yang diletakkan di atas meja rendah bertingkat- tingkat. Arya menyalakan AC dan membiarkan udara sejuk keluar menyebar di ruang tamu. Mirna langsung merasa dirinya lebih tenang dan nyaman.
Arya menyusul duduk di sofa. Kedua bola matanya yang tajam masih saja tak henti-hentinya mengintai Mirna.
__ADS_1
"Nah, sekarang ceritakan siapa dirimu dan siapa yang sakit. Lalu apa hubungannya dengan kedatanganmu, sebab tadi aku sempat mendengar kau datang ke sini untuk meminta bantuan...."
Mirna menelan ludah. Sebutan "Anda" dan "Saya" telah berganti. Lebih luwes, rasanya. Tidak seperti sedang berada di tempat yang dibilang formal. Jadi ia bosa menirunya untuk juga tidak bersikap formal.
"Sebelum ku lanjutkan bicaraku, ada perlunya kalau aku mencoba menyegarkan ingatanmu lebih dulu, Mas. Kita berkenalan hampir lima tahun yang lalu di pesta jadian nya Silvi, seperti yang telah ku ceritakan tadi. Setelah pesta usai dan para tamu undangan bubar, hanya tinggal beberapa orang saja di rumah Silvi, termasuk aku dan juga dirimu. Begitu pun Dio sahabat mu, pacar Silvi. Karena orang tua Silvi sedang pergi ke luar kota, maka kita semua berlama-lama di sana dengan bebas. Kita berkaraoke, dan minum-minum. Ingat, kan?" Mirna mengambil napas dalam-dalam. "Aku hanya mencicipi minuman sedikit saja karena membuatku jadi sangat pusing. Tetapi....kau.....kau mabuk."
Arya menarik napas panjang. Gila sungguh, ia tidak ingat apa pun mengenai kejadian yang baru saja di ceritakan Mirna. Nama-nama mereka pun, kecuali nama Silvi baru di dengar nya. Jadi mungkin saja perempuan itu memang sedang mengada-ada dan mengarang cerita.
Tetapi ah, rasanya itu tidak mungkin. Kedua bola mata perempuan ini meskipun tampak letih, menyiratkan kejujuran. Karenanya untuk menggali lebih detail cerita Mirna, ia berkata lagi padanya.
__ADS_1
"Ya....ya...aku mulai mengingatnya." Katanya, Suatu dusta, tentu saja. "Lanjutkan ceritamu."
"Waktu itu dirimu....dirimu....mulai lupa diri." lanjut Mirna. "Ketika temanmu....pacar Silvi itu.... mengajak Silvi masuk ke kamar, kau juga mengajakku ke kamar lain... tanpa aku mengerti apa maksud nya.." Mirna menghentikan bicaranya. Wajahnya tampak memerah. "Nah, kau....kau tahu apa yang terjadi selanjutnya."
Arya teertegun. Matanya menatap tajam Mirna dan menyiratkan kemarahan karena merasa terhina. Ekspresi wanita ink tak mungkin dapat ditiru oleh aktris mana pun. Itu jelas murni keluar dari dirinya. Bukan mengada-ada dan bukan cerita rekayasa.
Tetapi, ya Tuhan, kapan aku pernah melakukan perbuatan seburuk itu terhadap seorang perempuan, apalagi perempuan yang baru di kenal nya? sedikit pun ia tak ingat di pikirannya. Atau sudah pikun kah dirinya sampai-sampai melupakan semua hal yang pernah terjadi di masa lampau? Tetapi rasanya ia sehat. Seratus persen sehat.
para reader jangn lupa coment dan kasih like yaa😊
__ADS_1