Melangkah Tanpa Arah

Melangkah Tanpa Arah
Enam belas


__ADS_3

"Ya, aku yakin itu. Wajah dan sikapmu sudah mengatakannya padaku." sahut Arya sambil mengangguk.


"Kalau tidak sangat terpaksa, aku yakin kau tidak akan datang lalu menemui diriku. Nah, ceritakanlah siapa yang sakit dan mengapa? Siapa pun dia dan apa pun yang terjadi pasti aku akan membantumu."


Mirna menarik napas panjang. Arya tampak merasa kasihan dan kata-katanya menunjukkan perhatian yang sangat penuh. Tetapi rasa asing masih saja bermegah-megah di dadanya terhadap Arya.


Dan tampaknya pria itu juga merasakan hal yang sama. Bukankah perkenalan mereka terjadi di hari jadian Silvi dan hubungan mereka berdua itu pun terjadi pada malam itu. Jadi bagaimana ada kedekatan antara Mirna dan Arya?


Karena Mirna belum juga belum menjawab pertanyaan nya, Arya berbicara lagi. Dia tahu, tamunya merasa berat hati untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Ayolah, katakan saja tanpa merasa sungkan. Aku pasti akan membantu mu. Siapa yang sakit?" tanyanya.


"Baiklah." sahut Mirna canggung. Matanya yang menatap lurus ke depan tampak berkaca-kaca.


"Safa sakit keras akibat tipes yang sudah agak terlambat untuk di tangani. Sekarang dia dirawat di rumah sakit. Dan aku mengalami kesulitan untuk membayar biaya rumah sakit, sebab biayanya cukup mahal."


"Safa? Siapa orang itu?" Dahi nya berkerut dalam menandai ia kebingungan dengan nama Safa.


"Safa, anakku. Dan juga dirimu." sahut Mirna dengan suara semakin pelan. Air mata nya kini mengalir deras membasahi pipi nya. Mendengar sahutan itu Arya langsung terdiam bisu di kursi.

__ADS_1


Mirna menapakkan kakinya perlahan-lahan dan memberi kode kepada Arya agar pria itu mendekat ke arah tempat tidur Safa. Gadis itu terlihat sangat pucat dan lemah.


"Sejak tadi Neng Safa gelisah." Bik Ijah memberi laporan pada Mirna.


"Neng sepertinya Neng Safa pingsan."


Mendengar itu Mirna langsung memanggil suster lewat tombol darurat, dan tak lama suster datang beserta dokter.


"Ya, Bu ada apa?"


"Anak saya tidur apa pingsan?" tanya Mirna dengan wajah khawatir. Air matanya tegenang. Arya yang berdiri di belakang nya tampak ketakutan bercampur khawatir. Tampaknya keadaan anak kecil itu parah. Sekarang mengertilah dia mengapa Mirna mencarinya, padahal sudah bertahun-tahun berlalu sejak suratnya mengabarkan bahwa Mirna hamil itu ada di dalam laci lemari pakaian di salah satu kamar di rumahnya. Kalau tidak sangat terpaksa seperti ini, mana mungkin perempuan itu mau menemuinya.


Dokter mengatakan bahwa Safa tidak sadarkan diri, Mirna langsung menghampiri Arya yang dari tadi berdiri di belakang nya.


""Mas, ini anakmu. Sentuhlah, dan doakan lah supaya ia cepat sembuh." Katanya sambil mendorong tubuh Arya dan menangis.


Hati Arya tercekat melihat kecemasan Mirna. Tangannya langsung membelai rambut Safa. Matanya mengawasi wajah si kecil yang sedang sakit. Wajah nya menunjukkan kemiripan antara ayah dan anak. Perasaan dekat, mesra, haru, dan rasa kasih sayang yang amat luar biasa tiba-tiba menguasai dirinya.


"Kami akan memasukannya ke ruang ICU, karena di ruangan ini kurang tenang untuk anak yang sakit parah." sahut sang Dokter.

__ADS_1


Safa dipindahkan di kamar kelas satu, namun sayang sekali kamar kelas satu tidak ada yang kosong. Ada banyak pasien yang sedang memperjuangkan hidupnya disana. Mengetahui hal itu, Arya menanyakan kamar VIP.


"Masih ada satu kamar." jawab bagian pendaftaran.


"Tidak apa, bahkan lebih baik."


Ketika Mirna mendengar hal itu, ia langsung protes pada Arya.


"Mas, jangan boros." katanya.


"Di kelas dua juga tidak apa, yang penting tidak terlalu ramai seperti di kelas tiga."


"Sudahlah Mirna, aku punya kok biaya nya."


"Ya, aku tahu. Kalau tidak, tak mungkin kau mengirimi ku uang melalui Silvi." kata Mirna, menyindir.


Arya tertegun. Kedua alisnya nyaris bertaut tanda bingung.


Para reader sejati😁jangan lupa dukung melalui coment yaaa, soalnya author juga butuh dukungan dari para reader😊

__ADS_1


__ADS_2