Melangkah Tanpa Arah

Melangkah Tanpa Arah
Dua


__ADS_3

Mirna menuju loket pendaftaran.Pikirannya amat kacau dan gelisah melihat keadaan Safa yang sangat lemah.Ia juga tidak mempunya uang untuk biaya rumah sakit.Dari mana uang yang harus dibayarkannya untuk uang muka rumah sakit.


Sambil memeras pikiran untuk mencari dan meminjam uang entah dimana??ia tak tahu.Mirna membiarkan para media yang merawat Safa di ruang UGD.Setelah beberapa jam kemudian,tersedia lah kamar yang kosong,barulah Safa dibawa ke kamar perawatan kelas tiga.Kelas tiga adalah kamar yang sangat kecil.Namun Mirna masih bersyukur karena anaknya bisa dirawat.


Hidup di Jakarta memang tidak mudah.Dan hampir dalam segala hal dan sesuatu.Itu diketahui betul oleh Mirna dan ia tak takut untuk menghadapi semua masalah yang sedang melanda dirinya.Hal itu telah dibuktikan dan dialaminya seharian ini,dengan menderitanya Safa.

__ADS_1


Ia memikirkan sakit yang di derita Safa,mulai dari gejala-gejala yang di timbulkan oleh Safa.Hingga Mirna membawa Safa ke klinik sekitar,namun dokter klini itu menyarankan untuk membawa Safa ke rumah sakit besar.Karena sakit yang di derita nya sangat serius.


Sambil menggendong Safa,Mirna tadi menunggu lama bus atau mikrolet yang agak kosong,karena ia membawa anak yang sedang sakit.Tetapi tidak ada kendaraan yang kosong satu pun.Pada jam bubar kantor seperti ini kendaraan yang lewat di depannya sangat penuh semua.


Mirna tak tega membawa anaknya berada di dalam bu atau mikrolet yang sangat padat penumpangnya.Bahkan itu hanya membuat Safa tidak nyaman.Akhirnya Mirna memutuskan untuk berjalan kaki menuju Rumah Sakit besar.Dengan rasa pegal antara kaki dan tangan akibat ia menggendong anaknya itu,Mirna hampir putus asa.

__ADS_1


Setelah sebelumnya Mirna berjuang untuk mendapatkan kendaraan,di rumah sakit Mirna masih berjuang lagi menunggu giliran di panggil masuk ke ruang pemeriksaan.Pasien Dokter Risa sangat banyak sekali,barulah Safa berada di ruang pemeriksaan dan mendapat diagnosis yang pasti.Dan hasilnya,anak itu harus dirawat di rumah sakit.


Jadi memang benar-benar tidak mudah untuk hidup di Ibukota Jakarta yang panas,pengap,dan terlalu pada masyarakat nya.dan mengharuskan mereka berjuang dalam segala hal dan tempat.Apalagi kalau tidak mempunyai banyak uang,maka mental baja dan hati tegar perlu dimiliki untuk bisa menjalani kehidupan di Jakarta.Kesabaran sungguh menjadi hal yang sangat penting dan mahal.


Sebenarnya,kepahitan hidup bukanlah hal yang sangat baru bagi Mirna yang sudah kenyang dengan berbagai penderitaan hidup dan lika-liku.Sehingga tak mudah baginya meneteskan air mata untuk mengasihani diri sendiri ataupun menangisi Safa.

__ADS_1


Tetapi ketika hari ini ia melihat anak semata wayang nya terbaring lemah dan tak berdaya,dengan selang infus di punggung tangannya,air matanya terus mengalir.Hati nya ngilu dan perasaan yang sangat cemas.Bagaimana ia harus membayar biaya rumah sakit? Besok pasti petugas rumah sakit akan memanggilnya untuk menyelesaikan administrasi.


Meski perutnya terus berbunyi untuk diisi sedikit makanan,Mirna tidak ingin makan walaupun dengan secuil roti sekalipun.Tak ada selera di dalam dirinya saat ini.Semalam ia tak bisa memejamkan mata sekejap pun di ruang yang berisi empat orang anak yang sedang terbaring lemah.


__ADS_2