Melangkah Tanpa Arah

Melangkah Tanpa Arah
Dua puluh tujuh


__ADS_3

Mendengar berbagai macam suara tawa dari luar yang sangat menyiratkan, Mirna mengembalikan badannya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, ternyata mereka sedang bermain bersama. Ia kembali ke kamarnya, sampai hari ini masih saja dirinya belum mampu menata kata hatinya. Ia masih merasa sangat asing dan tak mampu menyesuaikan diri di lingkungan hidup Arya. Dan karenanya, ia merasa iri kepada anaknya yang dengan mudahnya ia memasuki kebiasaan hidup Arya.


Memang sangat mengherankan melihat anaknya itu langsung akrab dengan lingkungan sekitar. Dan dengan cepatnya pula ia menjadi pusat perhatian dan kasih sayang dari seluruh penghuni rumah. Mulai dari pembantu rumah tangga yaitu Bik Lala, yang dulu pernah menemui Mirna beberapa bulan lalu, sampai ke Putra sepupu nya Arya, dan tak lupa juga dengan Bu Nana yaitu kakak almarhumah ayahnya Arya. Bahkan sampai tetangga sekitar pun menyukai Safa, karena tingkahnya yang ceria dan lincah.


Rumah yang mereka tempati adalah rumah yang dibeli oleh Arya sesudah ia mendapatkan warisan dari keluarga nya. Arya sudah berniat untuk menjual rumah lama mereka yang penuh akan kenangan indah di dalamnya. Rumah itu dijual dengan harga yang bisa dinilai tinggi, karena tinggal di tempat yang strategis dan elite. Begitu juga bangunan nya yang kokoh dan kuat.

__ADS_1


Semula Arya bermaksud menunggui rumah itu. Tetapi keinginan nya untuk menikah dengan Mirna telah mengubah niatnya itu. Maka dengan uang itu ia membeli rumah yang cukup besar dan luas, dengan halaman belakang yang luas dan kolam renang nya.


Sekarang rumah dengan lima kamar tidur yang dibeli oleh Arya itu di tinggalinya bersama adik dari almarhumah ayahnya itu yang sudah janda. Karena suaminya sudah meninggal dunia. Perempuan itu meninggalkan rumah dan anak semata wayangnya di Semarang demi mengurus keponakannya itu yang sudah yatim piatu dan kehilangan adik satu-satunya. Dan yang tak tertinggal adalah Putra yaitu sepupu Arya yang tinggal di rumah Arya untuk menyelesaikan pendidikannya. Jika sudah selesai, ia akan kembali ke Kota lahirnya. Dengan adanya Mirna dan Safa, rumah itu menjadi ramai dengan suara tawa setiap harinya.


Mirna merasa sangat lega dan tenang melihat Safa langsung menjadi bagian dari keluarga itu. Sifat nya yang ceria sedikit demi sedikit mulai terlihat dan muncul di raut wajahnya. Tubuhnya juga sudah tampak lebih sehat dan bugar, karena asupan makanan yang bergizi. Maka memikirkan hal itu, Mirna merasa keputusan nya menerima lamaran Arya adalah benar. Apalagi sebelumnya ia telah menghubungi suster Eva yang selalu memberinya wawasan untuk melangkah ke masa depan yang baik.

__ADS_1


Padahal Arya selalu penuh perhatian kepada Mirna. Dari hari pertama sehabis mereka menikah, ketika Arya menangkap ketakutan yang terlihat di raut wajahnya Mirna ia menggandeng tangannya menuju kamar pengantin mereka dan pria itu berkata dengan suara yang lembut dan penuh rasa sabar.


"Mirna, silahkan pilih kamar yang sesuai dengan keinginan mu. Pakailah sesuka hatimu. Aku tidak akan memaksamu harus tidur di kamar pengantin kita, kalau hal itu bisa membuatmu menjadi tegang."


"Aku akan menunggu mu kapan saja sampai kau menerima diriku dan siap menjadi istriku sepenuh hatimu."

__ADS_1


***********


Para reader jangan lupa jempol nya yaa, kalau berkenan kasih vote juga....


__ADS_2