Meluluhkan Hati CEO Kejam

Meluluhkan Hati CEO Kejam
Bab 29


__ADS_3

Tubuh ideal Keina di balut dengan dress warna salem sebatas lutut. Dress tanpa lengan itu sangat cocok melekat di kulitnya yang seputih susu.


Rambut panjangnya di buat curly, menambah kesan anggun pada sosok wanita cantik bermata indah itu. Kecantikan Keina nyaris sempurna. Sejak di bangku menengah pertama, Keina memang selalu menjadi topik hangat di kalangan anak laki-laki karna kecantikannya.


Hampir semua murid di sekolah mengenal Keina.


Begitu juga saat dia pindah ke Korea dan kuliah di sana, wanita berparas cantik itu masih tetap menjadi primadona di manapun dia berada


Sungguh beruntung laki-laki yang kelak bisa mendapatkan hatinya.


Tak seperti Vano yang justru menyia-nyiakan Keina meski sudah menikahinya.


Keina keluar dari kamarnya, dia kemudian berhenti di depan pintu kamar Vano.


"Vano,, kamu sudah siap.?" Keina memberanikan diri mengetuk pintu kamar Vano, tak peduli bagaimana reaksinya nanti.


Vano keluar dari kamarnya, laki-laki itu memasang wajah datar dan mengabaikan keberadaan Keina di sana. Tanpa mengatakan apapun, dia menutup pintu kamar dan bergegas pergi begitu saja.


"Astaga.!! Kenapa ada manusia menyebalkan seperti itu.!" Keina menggerutu kesal. Dia buru-buru mengejar langkah Vano karna sudah tertinggal jauh.


Walaupun sebenarnya malas untuk pergi satu mobil dengan Vano, tapi harus tetap dia lakukan untuk melakukan pendekatan intens dengannya.


"Vano, kamu tidak lupa dengan istrimu bukan.?" Tegur Keina sambil terus mengikuti langkah Vano dari belakang.


Langkah tegap Vano terhenti, ucapan Keina rupanya menarik perhatiannya hingga membuatnya berbalik badan. Padahal tadi sudah berniat untuk meninggalkan Keina dan membiarkan wanita itu pergi menggunakan taksi.


"Sepertinya kamu sangat bangga menjadi istriku." Vano mengulas senyum smirk. Nada bicaranya terdengar sedang menyindir.


Keina mengukir senyum manis, senyum yang sebenarnya tidak pantas di pamerkan di depan laki-laki seperti Vano.


Dia melangkah maju, sengaja membuat jarak tipis di depan Vano. Wajah cantiknya yang sudah di poles make up tipis tidak boleh di sia-siakan, dia bisa menggunakannya untuk menarik perhatian Vano. Memangnya laki-laki mana yang tidak akan terpesona dengan kecantikan Keina.


Bahkan baru sehari saja berada di perusahaan Vano, berita tentang adanya karyawan baru yang sangat cantik sudah menyebar kemana-mana.


"Harus berapa kali aku bilang. Di luar sana banyak wanita yang ingin berada di posisiku." Ujar Keina.

__ADS_1


"Menikah dengan CEO tampan seperti kamu tentu saja menjadi kebanggan tersendiri untukku." Keina mengukir senyum lebar. Sejujurnya dia muak memberikan pengakuan palsu dengan menyematkan pujian untuk Vano. Tapi tidak ada salahnya menerbangkan seseorang sebelum menghempaskan.


"Ayo,, jangan buru-buru jalannya." Keina meraih tangan Vano dan menggenggamnya.


Wanita yang satu ini memang kelewat pemberani, dia tidak takut menghadapi amukan Vano yang mengerikan.


"Apa yang kamu rencanakan.?!" Dengan kasar Vano mengibaskan tangan Keina. Sorot matanya berubah tajam dan menelisik. Vano mencurigai ada sesuatu yang sedang di rencanakan oleh Keina di balik sikap tenang dan sabarnya itu.


Karna di awal, Keina berani melawan dan membantah ucapannya.


Perubahan itu jelas membuatnya curiga.


"Aku tidak punya rencana apapun, hanya saja ingin membuat kamu menjadi milikku seutuhnya karna kita sudah menikah." Jawab Keina cepat.


"Jadi tidak ada wanita lain yang boleh memilikimu selain aku." Tak ada rasa takut, Keina kembali menggandeng tangan Vano.


"Memangnya apa yang kurang dariku.? Aku tidak kalah cantik dari wanita itu."


"Selain itu, aku juga pintar dan mandiri."


Keina membanggakan diri sendiri dan mengingatkan kelebihannya pada Vano.


Laki-laki yang dia ajak bicara hanya diam saja, menatap dengan sorot mata yang sulit di artikan.


"Kita harus berangkat sekarang, Mama sudah menunggu." Keina menarik Vano agar beranjak dari sana.


Tidak ada penolakan, Vano diam saja tanpa menarik tangannya dari genggaman Keina.


Sepanjang perjalanan hanya di isi dengan keheningan. Keina memilih sibuk dengan ponselnya.


Sedikit membuat Vano penasaran agaknya perlu di lakukan.


Kalau terlalu banyak bicara, pasti hanya akan membuat Vano kesal. Jadi Keina menyiasatinya dengan diam seribu bahasa agar Vano sedikit penasaran.


Ya meskipun tidak terlihat hasilnya karna Vano juga diam seribu bahasa, hanya saja sempat melirik ke arah Keina beberapa kali.

__ADS_1


...****...


Mobil yang di kendarai Vano berhenti di halaman rumah megah milik Tuan Mahendra.


Keina bergegas turun dari mobil, menghampiri Vano yang baru turun juga.


Tanpa keraguan sedikitpun Keina berdiri di samping Vano dan mendekap lengannya.


Ulah Keina sontak membuat Vano menatap heran.


"Kita harus kelihatan baik-baik saja di depan Mama dan Papa." Ujar Keina menjelaskan.


Dia seolah tau arti tatapan Vano.


"Jangan macam-macam.! Pernikahan kita bukan apa-apa, jadi jangan berusaha untuk mempertahankannya.!" Tegur Vano memperingatkan.


Keina tersenyum sinis dalam hati, pada kenyataannya bukan Vano saja yang merasa pernikahan ini tidak berarti.


Suatu saat Vano akan mengetahui seberapa tidak berartinya pernikahan ini bagi Keina.


"Kamu tidak akan menyesal menikah denganku. Jadi apa salahnya mempertahankan pernikahan kita." Jawab Keina tenang.


"Kamu hanya butuh waktu saja untuk bisa menerimaku, seperti aku yang juga butuh waktu untuk menerimamu." Keina kemudian melepaskan tangan Vano dan bergeser menjauh.


"Tapi kalau kamu memang tidak mau, aku siap di ceraikan di depan kedua orang tua kamu detik ini juga." Keina mengukir senyum getir dengan tatapan sendu. Matanya tampak berkaca-kaca.


"Kalau kamu tidak berani menjelaskannya pada kedua orang tua mu, biar aku yang bantu jelaskan pada mereka."


Keina menyeka buliran bening yang baru saja menetes dari pelupuk matanya.


Sungguh itu hanya sandiwara, mana mana mungkin dia menangis hanya karna membahas perpisahan dengan Vano.


"Ckk.!!" Vano berdecak kesal. Dia bahkan kehabisan kata-kata untuk menanggapi ucapan Keina.


"Hapus air mata mu.!" Pintanya dengan nada sewot. Setelah itu menggandeng tangan Keina tanpa di minta.

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuat Keina tersenyum puas dalam hati. Dia tau kalau Vano tidak akan bisa berkutik jika membawa-bawa orang tuanya.


__ADS_2