Meluluhkan Hati CEO Kejam

Meluluhkan Hati CEO Kejam
Bab 55


__ADS_3

"Mau mempraktekannya sekarang.?" Tanya Vano dengan kedua tangan yang mulai tak bisa diam.


Keina menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya seketika meremang. Dia menyesal sudah asal bicara pada Vano tentang jilat menjilat.


Dan saat Vano menagih perkataannya, kini Keina bingung harus bagaimana mencari cara untuk menolaknya.


"Tuan El Vano, sekarang masih pagi." Ucap Keina yang berusaha untuk bersikap tenang agar Vano tak curiga kalau sebenarnya dia sedang mencoba untuk menghindar.


"Aku juga penasaran ingin mengelilingi isi rumah ini."


"Apa kamu tidak mau mengajakku berkeliling.?" Tanyanya dengan nada bicara manja. Dia berbalik badan untuk menghadap Vano dan mengalunkan tangan di lehernya. Wanita cantik itu sedang mengeluarkan jurus andalan untuk merayu Vano suapa mau menuruti perkataannya.


"Tunjukkan padaku rumah seperti apa yang kamu berikan ini. CEO kaya sepertimu pasti akan menyiapkan banyak fasilitas di rumah ini kan.?" Ujarnya.


Keina benar-benar totalitas untuk merayu Vano. Dia tak segan untuk mengecup secilas bibir Vano dan tersenyum manis padanya.


"Memangnya kamu butuh fasilitas apa.?" Tanya Vano dengan suara berat.


Bukannya lupa dengan pembahasan jilat menjilat, dia malah semakin tidak sabar untuk mendapatkannya dari Keina. Terlebih Keina semakin membangkitkan gairahnya seteleh mengalungkan tangan di leher dan mencium sekilas bibirnya.


"Apa kau ingin ruangan khusus untuk ber cinta denganku.?" Senyum smirk di bibir Vano membuat buluk kuduk Keina meremang. Dia sudah menyadari kalau usaha untuk mengalihkan pembicaraan akan gagal.


"Ya ampun, kenapa di dalam otakmu hanya ada ber cinta, ber cinta, dan ber cinta.?!" Gerutu Keina dengan bibir yang mencebik kesal. Seketika dia mendorong pelan dada Vano dan bergeser menjauh darinya.

__ADS_1


"Aku mau keluar dan melihat semua isi rumah ini.!" Tegasnya seraya beranjak dari sana untuk keluar dari kamar.


Vano terkekeh kecil. Dia tak mencegah Keina pergi, tapi malah mengikuti langkah wanita itu dari belakang dengan memasukkan kedua tangan di saku celana dan berjalan tegap.


"Rumah ini sangat besar. Kamu harus membayar banyak asisten rumah tangga karna aku tidak mau membersihkannya." Keina sengaja bicara sedikit kencang agar di dengar oleh Vano yang sedang mengekorinya.


"Saat tinggal di apartemen, kamu mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi pemalas.?" Vano menanggapi dengan nada bicara santai.


Itu karna dia tidak mempermasalahkan kalau harus memiliki banyak asisten rumah tangga untuk mengurus dan merawat istana yang akan dia tempati bersama istri dan anak-anaknya nanti.


Lagipula dia juga tidak akan menyuruh Keina untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kecuali membuatkan makanan untuknya jika dia mau makan masakan Keina.


"Itu hanya pencitraan saja supaya kamu tertarik padaku." Jawab Keina terang-terangan. Karna tau kalau saat ini Vano sudah tergila-gila dengan goyangannya, eumm maksudnya tergila-gila padanya, jadi Keina tidak takut membongkar niat buruknya saat itu.


"Apa kamu sejenis serigala berbulu domba.?" Sindir Vano sembari menahan tawa.


"Aku tidak berbulu. Kamu lihat sendirikan sangat mulus." Jawab Keina yang seketika langsung membuat otak mesum Vano berkeliaran kemana mana. Di pikirannya langsung muncul goa mulus yang terawat sampai tidak ada semak-semak.


"Di halaman belakang ada kolam renang. Kamu mau lihat.?" Tanya Vano yang mengalihkan pembicaraan dengan tujuan untuk mendapatkan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Dalam keadaan rumah yang sepi, hanya ada dia dan Keina saja, serta kolam renang baru yang masih sangat bersih. Membuat Vano berfikir untuk membuat juniornya di kolam renang.


"Sepertinya enak kalau berenang." Ucap Keina menanggapi.

__ADS_1


"Kemari, lewat lift saja biar langsung ke kolam renang." Vano langsung menggandeng dan menarik pelan tangan Keina.


"Lift.? Rumah ini pakai lift.?" Tanya Keina tak percaya. Vano hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Awalnya Keina terkejut, tapi mengingat rumah ini yang sangat luas dan memiliki beberapa lantai, sepertinya dengan adanya lift akan sangat memudahkan aktivitas. Apalagi kalau ingin membawa banyak barang ke lantai atas.


Keluar dari lift, pemandangan yang di suguhkan adalah kolam renang dan taman hijau yang menyejukkan mata.


Keina terpana dengan spot di halaman belakang dengan luas yang di perkirakan mencapai 500 meter persegi itu. Dengan di lengkapi kamar mandi dan ruang ganti khusus, serta ruang olahraga dan bilyard yang bisa terlihat dari balik dinding kaca.


"Sepertinya aku akan betah tinggal di sini." Gumam Keina. Bahkan dia tidak keberatan kalau di larang keluar rumah. Karna hanya di dalam rumah saja dia tidak akan merasa setres demgan semua fasilitas yang ada.


"Ayo berenang. Sudah lama aku tidak berenang,," Ajak Vano. Dia menggandeng Keina mendekati kolam. Laki-laki itu langsung melepaskan baju dan celana panjangnya hingga menyisakan celana dlm saja.


Keina sempat memandangi tubuh Vano yang hampir telanjang itu. Otot-otot di perut, dada, serta lengan, hanya hisa membuat Keina menelan ludah. Fisik Vano memang terlampau sempurna. Terlepas bagaimana dengan masa llalunya yang mengumbar tubuh kekarnya itu pada Sindy, tapi yang terpenting laki-laki itu kini sudah berubah.


"Lepas saja dressnya. Tidak ada orang lain selain kita." Ujar Vano yang melihat Keina tampak kebingungan menatap tubuhnya sendiri.


Dia tau kalau Keina bingung harus berenang menggunakan apa.


"Tidak. Kamu pasti akan mesum kalau aku hanya pakai bikini." Sahut Keina cepat.


Vano tersenyum dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya.

__ADS_1


"Jangan berlagak tidak menginginkannya, aku tau kamu tidak tahan melihat si jony." Ujar Vano yang tampak sengaja menatap ke bagian bawah tubuhnya. Sontak Keina reflek mengikuti arah tatapan Vano. Dia dibuat melotot melihat benda yang menonjol di balik celana dlm warna drakgrey itu.


__ADS_2