Meluluhkan Hati CEO Kejam

Meluluhkan Hati CEO Kejam
Bab 31


__ADS_3

"Jadi kamu bekerja di perusahaan Vano.?" Mama Dessy sedikit terkejut mengetahui Keina bekerja di perusahaan milik suaminya sendiri.


Bukan terkejut karna tidak suka putrinya bekerja di saat sudah menjadi istri dari seorang CEO, tapi Mama Dessy justru terkejut lantaran putrinya mau bekerja dan tidak mengandalkan harta suaminya yang sudah pasti sangat banyak.


"Iya Mah,," Keina menjawab seraya memasukkan makanan ke dalam mulut. Dia sedang sarapan bersama kedua orang tuanya sebelum pamit untuk berangkat ke kantor.


"Bukan hanya aku saja, tapi Rena dan Adelle juga bekerja di sana." Tuturnya semangat.


"Papa senang kamu sudah mendapatkan pekerjaan, jadi tidak mengandalkan Vano saja. Tapi jangan sampai karna sibuk bekerja, kamu jadi mengabaikan tugas dan tanggungjawab sebagai istri." Papa Kim ikut menimpali dengan memberi nasehat pada putrinya.


"Aku tau Pah. Papa tidak perlu khawatir soal itu. Mama juga sudah sering mengingatkan ku." Keina tersenyum. Senyum yang dia gunakan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya.


Keina terlalu pandai menyembunyikan hal besar dari kedua orang tuanya, sampai mereka tak menaruh curiga sedikitpun pada nasib putri semata wayangnya yang mengenaskan di tangan menantu pilihan mereka.


Seandainya mereka tau bagaimana perlakuan Vano pada Keina, keduanya pasti akan menjadi orang yang paling merasa berdosa karna sudah menikahkan anak kesayangan mereka pada orang yang salah.


...****...


Keina setengah berlari memasuki gedung perkantoran milik suaminya.


Kejadian tak terduga harus dia alami saat dalam perjalanan menuju kantor.


Mobil yang dia tumpangi bersama supir keluarga mengalami kerusakan pada mesinnya. Keina harus mencari taksi untuk meneruskan perjalanan yang masih lumayan jauh.


Akibat menunggu taksi dan jalanan yang padat, dia jadi terlambat sampai di kantor.


"Ya ampun,, sial sekali pagi ini." Keluh Keina panik. Dia baru saja masuk ke dalam lift untuk menuju ke ruangan Vano.


Sepertinya bukan hanya terlambat datang ke kantor, tapi terlambat masuk ke ruangan itu sebelum Vano.


"Huffttt,,, tenang Kein, kamu harus bisa menghadapi si arogan itu."


Keina menarik nafas beberapa kali. Dia mencoba mengatur nafas sebelum memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan Vano.


Tokk,,, tokk, tokk,,,,


Tak berselang lama setelah Keina mengetuk pintu, tampak seseorang dari dalam membukakan pintu.

__ADS_1


"Kak Juan.?" Senyum di bibir Keina sedikit merekah, kecemasannya sedikit berkurang saat mengetahui seseorang yang berada di dalam ruangan itu bukan Vano.


"Apa Vano sudah datang.?" Tanya Keina, tapi dia berharap Vano belum datang ke kantor.


Kening Juan tampak mengkerut, dia heran dengan pasangan suami istri yang tinggal satu atap itu.


Mereka tinggal bersama, tapi saling mencari dan bertanya seolah-olah tinggal terpisah.


"Masuk saja, dia menunggu kamu sejak tadi." Jawab Juan yang kemudian keluar dari ruangan itu.


"Aku pergi dulu,," Juan tampak membungkuk hormat sebelum beranjak dari hadapan Keina.


Dia menghargai dan menghormati Keina sebagai istri bosnya, meski Keina bekerja di perusahaan itu dengan posisi jauh di bawahnya.


Keina menghela nafas berat, perlahan dia memasuki ruangan besar yang di desain elegan dengan barang-barang mewah.


Dia menutup pintu lebih dulu tanpa menatap seseorang di dalam ruangan itu.


"Terlambat 20 menit.!" Suara berat itu terdengar sinis. Menggema di seluruh ruangan.


Belum apa-apa sudah membuat Keina bergidik ngeri. Entah hukuman apa yang akan Vano berikan padanya.


"Mobil Papa ku mogok di tengah jalan, aku jadi beralih menggunakan taksi dan terjebak macet." Keina memberikan alasan walaupun dia tau Vano tak akan mau mendengar alasan apapun darinya.


"Aku tidak peduli apapun alasannya.!" Vano berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekati Keina dengan tatapan tajam menusuk.


"Aku juga tidak menyuruh Anda untuk peduli, aku hanya ingin memberi tau saja." Ucap Keina menimpali.


"Kau,!" Vano mencengkram dagu Keina seraya mengangkatnya untuk membuat wanita itu menatapnya.


"Apa belum puas aku siksa.?!" Geramnya penuh amarah.


"Lebih cepat kamu mengajukan gugatan perceraian, maka lebih cepat pula kamu terbebas dari siksaan ku.!" Vano menguatkan cengkramannya sebelum menghempaskan kasar dagu Keina.


Jelas Keina kesakitan, wanita itu hanya bisa meringis menahan sakit pada dagunya.


Berulang kali Keina tampak menarik nafas dalam, dia berusaha untuk tidak meluapkan amarahnya yang sebenarnya sudah berada di ujung kepala.

__ADS_1


"Bukankah aku hanya pelayanmu jika sedang di kantor.? Jadi kenapa harus membahas masalah pribadi.?" Keina melempar senyum tipis. Di balik sikap santainya, dia menyimpan kebencian yang semakin lama semakin menumpuk.


"Lagipula aku sudah pernah menyatakannya padamu. Aku tidak akan mengajukan gugatan cerai."


"Kalau mau, sebaiknya kamu saja yang melakukannya." Keina tampak menantang Vano. Dia sangat yakin Vano tidak akan berani menceraikannya.


Untuk membantah perkataan sang Mama saja Vano tidak berani, apalagi menceraikan istri pilihan sang Mama.


"Jangan macam-macam kamu.!" Sentak Vano.


"3 bulan, setelah 3 bulan kamu harus mengajukan gugatan ke pengadilan. Atau usaha milik orang tuamu akan hancur di tanganku.!"


Ancaman Vano terdengar tidak main-main. Dia bisa melakukan apapun sesuatu kehendaknya selagi tidak ada campur tangan kedua orang tuanya.


"Kamu mengancam ku lagi.?" Keina menatap sendu.


"Kita sama-sama tidak tau dengan perjodohan ini. Bahkan kamu saja tidak bisa menolak, apalagi aku.?"


"Dengan mengajukan gugatan, maka aku akan melukai hati kedua orang tuaku."


"Apa salahnya mencoba.? Kita bisa memulai dari awal bukan.? Kamu juga tidak harus meninggalkan kekasihmu sebelum yakin padaku."


Keina berusaha membujuk Vano. Dia harus membuat Vano masuk kedalam perangkapnya untuk bisa memberikan pelajaran pada laki-laki itu.


"Aku akan berusaha menjadi istri yang baik agar aku layak mendapat pengakuan dan cinta dari suamiku sendiri."


"Pernikahan tidak untuk di permainkan Vano, ikatan kita suci dan sakral. Kenapa kamu tidak bisa menerimanya.?"


Air mata mulai turun membasahi pipi. Keina sampai harus pura-pura menangis lagi di depan Vano untuk mendapatkan belas kasihan darinya.


"Kamu pikir aku akan kasihan padamu.?!!" Sinis Vano. Dia mengambil ponsel miliknya di atas meja, kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.


Keina tampak tersenyum melihat kepergian Vano.


"Yakin tidak kasihan padaku.?" Gumam Keina seraya menghapus air matanya.


"Tapi kenapa kamu membuang pandangan saat tau aku menangis." Keina terkekeh kecil, dia yakin Vano mulai tidak tahan melihat air matanya.

__ADS_1


Karna laki-laki yang tadi sedang menatapnya tajam, tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah lain.


__ADS_2