
1 bulan kemudian,,,
"Kamu memanggilku.? Ada apa.?" Keina menghampiri Vano ynag tengah duduk di ruang tamu. Laki-laki itu masih memakai setelan jas rapi, begitu juga dengan Keina yang belum sempat mengganti baju kerjanya. Dia baru sempat menaruh tasnya di dalam kamar, tapi teriakan Vano membuatnya bergegas keluar kembali.
"Duduk.!" Suara berat Vano begitu maskulin. Dia menggerakan kepala sebagai isyarat untuk menyuruh Keina menempati sofa kosong di depannya.
Keina tampak ragu, baru kali ini Vano terlihat serius dan tidak memasang tampang menyeramkan seperti biasanya.
Perlahan Keina mendekat, dia duduk di hadapan Vano yang saat ini sedang mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kerjanya.
Kening Keina mengkerut, dia bertanya-tanya tentang isi kertas yang di keluarkan oleh Vano.
"Kertas apa itu.?" Karna terlalu penasaran, Keina langsung menanyakannya pada Vano.
Sekilas dia melihat tulis paling atas dan yang paling besar. 'Surat Perjanjian'
Hanya itu yang bisa terbaca oleh Keina.
"Aku sudah lelah menyiksamu, kamu juga sudah muak di siksa bukan.?" Nada bicara Vano masih terdengar santai. Dia lantas meletakkan kertas itu di atas meja dan menyodorkannya pada Keina.
"Aku ingin menawarkan kerja sama denganmu." Vano kembali bicara, mengutarakan keinginannya pada Keina. Sedangkan Keina sudah memegang kertas itu dan langsung membacanya karna sangat penasaran.
"Itu surat perjanjian pernikahan." Terang Vano. Bersamaan dengan itu, Keina juga baru selesai membaca kalimat tersebut.
"Apa maksudnya.?" Tanya Keina. Dia lebih tertarik meminta penjelasan dari Vano ketimbang meneruskan membaca surat perjanjian itu.
"Aku sudah memikirkan matang-matang untuk mengambil langkah yang terbaik." Vano menatap tenang.
"Rasanya percuma menghabiskan tenaga untuk membuatmu mengajukan perceraian." Ujarnya lagi.
Mengingat Keina yang bersikeras untuk tidak bercerai meski dia sudah menyiksanya berulang kali, Vano langsung berfikir untuk membuat surat perjanjian agar bisa disepakati bersama.
Karna sepertinya semakin dia menyiksa Keina, semakin kuat juga keinginan Keina untuk mempertahankan pernikahan mereka.
Vano tak mau itu terjadi karna dia mencintai Sindy dan sudah berjanji akan menikahi Sindy secepatnya.
__ADS_1
"Banyak poin yang menguntungkanmu dalam surat perjanjian itu jika kamu mau menandatanganinya."
Membahas masalah poin, Keina kembali mengalihkan pandangannya pada selembar kertas di tangannya.
Dia langsung membaca poin yang di maksud oleh Vano.
Tidak main-main, Vano menjanjikan nominal yang fantastis jika dia mau mengajukan gugatan cerai.
Tak hanya itu, usaha milik orang tuanya juga akan mendapatkan suntikan dana dari Vano. Bahkan mau menaruh sahamnya di sana.
Keina menarik nafas dalam, dia tampak tidak tertarik dengan keuntungan yang di janjikan oleh Vano. Baginya uang tidak ada artinya di banding dengan apa yang pernah Vano lakukan padanya sejak awal menikah.
"Apa kamu sedang mengajakku mempermainkan pernikahan.?" Keina mengukir senyum menyayat hati. Tanpa ragu dia mengembalikan surat perjanjian itu dengan mendorongnya di atas meja.
"Aku tidak akan pernah menandatanganinya, Vano." Ucapnya tegas, namun lembut.
"Sudah berapa kali aku bilang, aku ingin kita seeius menjalani pernikahan ini."
"Tidak ada yang tidak mungkin Vano, aku yakin cinta akan tumbuh di antara kita." Keina menatap berbinar untuk meyakinkan Vano.
"Selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik, tapi sekalipun kamu tak mau tau bagaimana caranya menjadi suami yang baik."
Keina mendekatkan badan, dia memberanikan diri meraih tangan Vano dan menggenggamnya.
"Apa salahnya mencoba," Ucapnya. Sorot mata Keina begitu dalam menatap Vano.
Dia benar-benar menunjukkan keseriusannya di hadapan Vano. Tak segan untuk memohon.
"Jika sudah di persatukan dalam ikatan pernikahan, itu artinya kita berjodoh,"
"Aku yakin kamu laki-laki terbaik pilihan Tuhan untukku. Aku harap, kamu juga yakin bahwa aku wanita terbaik pilihanNya."
Sorot mata Keina penuh dengan harapan dan permohonan. Dia semakin erat menggenggam tangan Vano. Laki-laki itu hanya diam saja, tapi kemudian menarik tangannya dari genggaman Keina.
"Aku sangat mencintai Sindy."
__ADS_1
"Impian dan janjiku adalah menikahinya." Tak peduli bagaimana perasaan Keina, Vano begitu ringan mengungkapkan cinta untuk wanita lain di depan istrinya.
"Tapi setidaknya beri kesempatan pada hubungan kita." Sahut Keina. Dia terus memutar otak untuk membuat Vano menuruti keinginannya.
"Baiklah. 2 bulan, waktunya hanya 2 bulan.!"
"Kalau aku tetap tidak bisa mencintaimu, kamu harus menandatangani surat perjanjian ini." Vano berucap tegas.
Keina mengangguk setuju tanpa ragu. Dia menarik tangan Vano untuk berjabat tangan.
"Ok, deal..!!" Seru Keina penuh semangat.
...*****...
1 minggu berlalu sejak pembahasan perjanjian itu. Hubungan Keina dan Vano tak mengalami kemajuan sedikitpun. Vano justru semakin menutup diri dan tak banyak bicara padanya.
Dan tak pernah lagi menyiksanya.
"Vano, kamu mau kemana.?" Keina mencekal pergelangan tangan Vano, menghentikan langkah lelaki tampan yang hendak keluar dari apartemen.
“Menginap di apartemeni kekasihku." Vano menjawab tanpa rasa bersalah sedikitpun. Terang-terangan mengakui pada istrinya kalau dia akan menginap di apartemen kekasihnya.
"Menginap.?" Keina menatap sendu, begitu juga dengan nada bicaranya yang seolah-olah terluka karna Vano akan menemani tidur wanita lain malam ini.
Satu hal yang Keina lewatkan saat pembahasan perjanjian itu, dia tak melarang Vano untuk tidak bertemu dengan Sindy. Vano juga tidak mau di larang untuk berhenti berhubungan dengan Sindy sampai dia bisa mengambil keputusan nantinya.
"Kamu memilih menginap di apartemen kekasihmu dan meninggalkan istrimu tidur sendirian.?" Memasang wajah sendu, Keina sedang berusaha menarik perhatian Vano.
Jika sedikit rayuan bisa membuat Vano batal pergi, maka dia akan melakukannya tanpa memikirkan rasa malu dan harga diri.
Lagipula Vano sudah sah menjadi suaminya, merayu suaminya sendiri tak akan membuatnya berdosa.
"Sudah 1 bulan lebih kita menikah, kamu tidak ingin kita tidur satu ranjang dan melakukan itu.?" Menyamar menjadi istri yang berbakti pada suami, Keina menawarkan hal yang membuat Vano tampak kaget.
Tapi Vano terlalu pandai menutupinya sampai bisa bersikap tenang di tengah terkejutannya.
__ADS_1
"Kamu laki-laki dewasa Vano, begitupun aku."
"Apa kamu tidak tertarik tidur denganku.?" Tanya Keina yang langsung membuat Vano terpaku.