
2 jam yang lalu semua barang-barang pribadi milik Keina dan Vano sudah di bawa ke rumah baru, beserta 2 orang asisten rumah tangga keluarga Keina yang nanti akan membereskan barang-barang itu di rumah baru.
Sementara itu, Vano dan Keina baru berangkat menuju rumah tersebut lantaran Vano baru bertemu dengan rekan kerjanya di salah satu restoran.
Keina melirik suaminya yang sedang fokus menyetir. Sebenarnya ada hal yang ingin dia tanyakan pada laki-laki itu. Tentang Sindy yang sepertinya tidak Terima dengan keputusan Vano dan di tinggalkan begitu saja setelah bertahun-tahun menjalin hubungan.
Ada sedikit kekhawatiran dalam diri Keina, takut jika mantan pacar suaminya itu akan menaruh dendam padanya.
"Van,," Panggilnya. Pemilik mata tajam itu melirik sekilas dan menggerakan kepala.
"Bagaimana dengan Sindy.? Sepertinya dia sangat marah pada kita." Ada kecemasan dalam nada bicara Keina. Walaupun Keina tau kalau Vano pasti bisa menangani Sindy. Tapi siap yang bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh orang yang sedang sakit hati.
"Biarkan saja." Vano menjawab acuh. Jelas sekali dia terlihat tidak peduli. Sepertinya Vano benar-benar tak memiliki perasaan apapun lagi pada wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu. Bahkan dari nada bicaranya saja terkesan kalau Vano tak suka pada wanita itu.
"Bukan masalah itu Vano."
"Aku yakin Sindy tidak akan tinggal diam setelah kamu mengakhiri hubungan kalian secara sepihak."
"Bagaimana kalau,,,"
Belum selesai Keina mengungkapkan kekhawatirannya, Vano sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Aku pastikan dia tidak akan berani menggangu kita." Potong Vano tegas.
"Lagipula dia juga berselingkuh di belakangku." Tuturnya sewot.
Selama ini dia merasa di bodohi oleh wanita itu. Ternyata sudah hampir 6 bulan Sindy memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Bahkan mereka berdua sering menghabiskan malam bersama di apartemen milik Sindy.
__ADS_1
Jadi memutuskan untuk meninggalkan Sindy bukan sepenuhnya karna pernikahannya dengan Keina, tapi juga karna kesalahan yang di buat oleh wanita itu sendiri. Lalu kenapa Sindy harus marah dan tidak terima karna di tinggalkan.
"Kamu yakin.? Tapi sepertinya Sindy tak akan tinggal diam." Ucap Keina yang masih saja merasa khawatir. Karna orang seperti Sindy memang perlu untuk di waspadai.
"Apa perlu aku mengirimnya ke negera terpencil." Sahut Vano tanpa menoleh sedikitpun pada Keina. Laki-laki itu terlihat serius, tapi tidak untuk Keina yang menurutnya Vano hanya sedang meledeknya.
"Aku tau kamu seorang CEO, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau." Ujar Keina dan memilih mengakhiri obrolan.
Percuma saja mengungkapkan kekhawatirannya pada Vano. Laki-laki itu tak bisa membuatnya yakin kalau Sindy tak akan pernah datang dan menganggu pernikahan mereka.
30 menit berlalu, mobil yang di kendarai oleh Vano memasuki kawasan perumahan elit yang sangat terkenal di Jakarta. Sekarang Keina sudah memiliki gambaran seperti apa rumah yang akan dia tinggali bersama Vano.
Yang pasti rumah besar dengan halaman luas dan memiliki beberapa lantai dan kolam renang.
"Jadi disini rumahnya.?" Tanya Keina. Matanya sedikit berbinar. Walaupun dia terlahir dari kalangan menengah ke atas, tapi tetap saja merasa senang akan tinggal di rumah mewah dengan segala fasilitas lengkap.
"Bukan. Kita akan mampir sebentar ke rumah temanku." Jawab Vano cepat. Jawaban pria itu membuat binar di mata Keina seketika memudar. Baru saja dia membayangkan menjadi nyonya besar dan pemilik rumah itu, tapi sudah di hempaskan oleh kenyataan.
"Jadi rumah kita bukan disini.?" Nada bicara Keina terdengar kecewa.
"Lalu dimana rumahnya.?" Keina menatap pesaran.
"Tentu saja bukan. Rumah disini terlalu besar, kamu akan lelah dan kesulitan untuk membersihkannya." Jawab Vano membuat Keina membulatkan matanya. Dia berfikir keras untuk mencerna perkataan Vano.
"Apa maksud kamu.?" Keina menatap tajam. Ucapan Vano seolah mengatakan jika Vano menyuruhnya untuk mengurus rumah seorang diri tanpa bantuan asisten rumah tangga.
"Mau aku pertegas.?" Tanya Vano dengan gaya angkuhnya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar menyebalkan.! Pokoknya aku tidak mau membersihkan sendirian rumah yang akan kita tempati nanti."
"Kalau sampai kamu menyuruhku mengurus rumah seorang diri, aku tidak mau tinggal denganmu." Bibir Keina mencebik kesal. Dia membuang pandangan ke luar jendela. Moodnya seketika buruk gara-gara ekspektasi tak sesuai dengan kenyataan.
Sementara itu Vano tampak mengulum senyum jahil. Dia diam saja melihat Keina yang kesal dan marah padanya.
Tak berselang lama, Vano membelokkan mobilnya ke salah satu rumah di sana. Seorang laki-laki oaruh baya dengan seragam security membukakan gerbang yang menjulang tinggi.
Keina masih memasang wajah masam, apalagi saat melihat rumah mewah di depan matanya itu yang merupakan rumah salah satu teman Vano yang di bicarakan tadi.
"Ayo turun." Ajak Vano setelah memarkirkan mobil mewahnya di halaman rumah tersebut.
"Tidak, aku tunggu disini saja." Jawab Keina malas. Wanita yang kecantikannya bertambah saat sedang merajuk itu, membuat Vano menahan tawa.
"Yakin tidak mau ikut.?" Tanya Vano dengan nada meledek.
"Tidak. Apa kamu tidak dengar aku bilang apa." Ketus Keina yang tak mau menatap Vano. Keina terlihat sangat kesal pada Vano lantaran merasa sudah di kerjai oleh laki-laki itu.
"Kalau begitu jangan teriak minta tolong kalau aku mengunci mobilnya." Ucap Vano dengan raut wajah serius dan bergagas keluar dari mobil.
"Apa.? Kamu mau mengunciku disini.?!" Teriak Keina. Tentu dia buru-buru keluar karna akut di kunci di dalam mobil. Apalagi Vano terlihat sedang tidak bercanda.
Melihat Keina yang ikut keluar dari mobil, senyum di bibir Vano tampak mengembang. Dia lalu memgunci mobilnya setelah Keina menutup pintu.
Dengan santainya Vano berjalan mendahului Vano menuju pintu rumah utama. Mau tak mau, Keina terpaksa mengikuti langkah suaminya yang menyebalkan itu.
Ternyata meski sudah tergila-gila dengannya di atas ranjang, sikap Vano masih saja seperti itu.
__ADS_1