
"Ya ampun,,!" Pekik Keina kaget. Di bahkan langsung bangun dan duduk di tepi ranjang setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Semalam begitu masuk ke dalam kamar, Keina menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan tak sampai 10 menit dia sudah terbang ke alam mimpi. Tidur pulas tanpa terbangun sedikitpun dan sekarang dia baru membuka mata.
Mungkin karna efek kelelahan setelah melewati malam pertama yang menyesakkan dada. Sejujurnya Keina tak memungkiri bahwa apa yang telah dia lakukan bersama Vano cukup memberinya kenikmatan luar biasa. Namun sikap Vano setelah percintaan itu cukup di sayangkan oleh Keina.
Seandainya Vano mengakui di hadapan Sindy, dan tak menyuruh Keina untuk berbohong, pasti Keina tidak akan kecewa seperti ini.
Keina buru-buru masuk ke kamar mandi. Dia harus bersiap agar tidak terlambat datang ke kantor. Walaupun sebenarnya malas untuk bekerja lagi di perusahaan Vano, tapi dia sudah terlanjur menandatangani kontrak kerja dan akan di kenakan denda kalau sampai dia berhenti bekerja sebelum habis masa kontrak.
"Si tampan itu benar-benar menjengkelkan.!" Geram Keina seraya menatap tubuhnya sendiri yang memiliki bekas kepemilikan di area bukit kembarnya. Tidak hanya satu atupun dua, tapi ada lebih dari 3 tanda kepemilikan Vano yang menghiasi bukit berwarna putih itu.
"Astaga.!! Apa yang baru saja aku bilang.?" Keina terkekeh geli ketika mengingat dirinya yang tanpa sengaja menyebut Vano tampan.
"Percuma tampan kalau tidak bisa menghargai pasangan.!" Serunya dengan nada mencibir.
Berdiri di bawah guyuran shower, Keina membersihkan seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Sekelebat bayangan akan malam kemarin kembali terlintas dalam benaknya.
Sentuhan demi sentuhan yang mampu menggetarkan hati dan tubuhnya seolah bisa dia rasakan saat ini.
Tubuhnya bahkan mulai panas dingin, entah kenapa sisa-sisa kenikmatan itu masih bisa di rasakan saat ini.
"Stop Keina.!! Jangan gila.!" Serunya mencoba untuk menepis semua pikiran kotornya saat ini.
"Kalau Vano tau kamu tergila-gila dengan permainannya, dia bisa tertawa jemawa dan merasa hebat.!" Geramnya memperingatkan diri sendiri.
Keluar dari kamar dalam keadaan sudah rapi. Keina bergegas pergi ke ruang makan.
Sang Mama pasti sedang berada di saat ini karna biasa menyiapkan sarapan sendiri meski ada asisten rumah tangga.
__ADS_1
Mungkin kedua orang tuanya akan kaget saat melihatnya ada di sini. Atau mungkin sudah tau dari asisten rumah tangganya kalau semalam dia datang ke rumah.
Tapi Keina tak terlalu memusingkan reaksi sang Mama saat melihatnya nanti. Karna dia sedang fokus memikirkan kata-kata yang tepat untuk membuka obrolan bahwa dia ingin mengakhiri pernikahannya dengan Vano.
Senyum di bibir Keina merekah, dia menatap sosok wanita luar biasa yang tengah menata makanan di atas meja.
Keina mengendap-endap, dia kemudian memeluk Mama Dessy dari belakang.
"Morning Mamaku yang paling cantik sedunia,," Ucap Keina dengan gaya khasnya yang ceria.
"Sayang,, kamu mengagetkan Mama saja." Mama Dessy menepuk pelan tangan Keina yang melingkar di perutnya.
Sementara itu Keina hanya terkekeh dan melepaskan pelukannya kemudian menyomot makanan buatan sang Mama dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Kamu sudah rapi.? Mau ke kantor.?" Tanya Mana Dessy dengan tatapan heran.
Keina menjawab dengan menganggukkan kepala seraya menarik kursi untuk dia duduki.
"Mama tidak kaget aku ada kesini.?"
"Pasti Mba Dewi sudah bilang ya sama Mama.?" Tebak Keina yang sejak tadi tidak melihat keterkejutan di wajah sang Mama saat tau dia ada di rumahnya.
"Sebelum Mba Dewi bilang, Mama juga sudah tau kamu kesini."
"Mama lihat kamu masuk ke kamar dan tidak mengijinkan Vano masuk." Tutur Mama Dessy yang justru membuat Keina terkejut.
"Vano.?" Tanya Keina. Dia sama sekali tidak melihat Vano masuk ke dalam rumah, dia pikir Vano langsung pulang setelah mengantarnya.
"Kalau ada masalah selesaikan dulu berdua, jangan di bawa-bawa ke rumah Mama."
__ADS_1
"Kamu udah sudah dewasa, harus bijak menyikapi permasalahan." Mama Dessy menasehati dengan nada bicara lembut. Dia duduk di samping putrinya den mengusap pundaknya serta menatap teduh.
"Kesalahpahaman dalam rumah tangga itu sudah biasa sayang. Angga saja sebagai bumbu agar hubungan kalian semakin berwarna." Mama Dessy menggenggam tangan Keina.
"Mama lihat Vano sangat sedih karna kamu marah padanya."
"Sebaiknya kalian bicarakan baik-baik dan selesaikan masalahnya, jangan sampai Papa tau kalian ada masalah. Apa lagi kamu minta di pulangkan kesini."
Nasehat Mama Dessy sangat mudah diterima dan dipahami oleh Keina. Dia tau jika sang Mama pasti menginginkan yang terbaik untuk rumah tangga anaknya. Tak mau ada permasalahan yang berlarut-larut hingga mempengaruhi rumah tangganya.
Sayangnya ada satu hal yang tidak di ketahui oleh sang Mama. Dan seandainya Keina menceritakan hal itu, mungkin nasehat untuk memperbaiki hubungan tak akan pernah terlontar dari bibir seorang Ibu yang mengetahui anaknya di duakan dan pernah mendapatkan siksaan dari sang suami.
"Tapi Mah,, aku ingin,,," Keina tak meneruskan ucapannya. Entah kenapa dia ragu untuk mengatakan pada Mama Dessy jika ingin mengakhiri pernikahannya dengan Vano.
"Ingin apa.?" Tanya Mama Dessy dengan menatap penuh selidik. Dia merasa tak enak hati melihat sorot mata sendu putrinya.
"Aku hanya ingin sendiri dulu untuk menenangkan pikiran." Jawabnya berbohong.
"Kalau begitu harusnya kamu bicara baik-baik pada Vano, dia pasti akan mengijinkan kamu menginap disini untuk beberapa hari."
"Jangan seperti ini caranya." Mama Dessy mengacak gemas rambut putrinya.
"Ehh,,! Jangan makan dulu, sana bangunin suamimu." Mama Dessy menahan tangan Keina yang hendak mengisi makanan ke piringnya.
"Dia tidur di kamar sebelah. Sepertinya belum bangun." Ujarnya lagi.
"Apa.?!" Seru Keina kaget. Rupanya manusia itu ikut menginap di rumah ini.
Beranjak dari meja makan, Keina terpaksa naik lagi untuk membangunkan Vano yang ternyata tidur di sebelah kamarnya.
__ADS_1