
"Astaga,, wanita ini benar-benar.!" Vano mendengus kesal. Wanita dalam gendongnya sudah seperti putri tidur yang tak bergerak sama sekali meski sudah di gendong dari basemen sampai ke lantai 16.
Dia masih terlelap, guncang dari tubuh Vano saat berjalan tak sedikitpun membuka Keina terusik dari tidurnya.
Sepertinya Keina merasa sedang tidur di atas ranjang yang empuk.
Membuka pintu apartemen dengan susah payah, Vano sampai harus mengangkat satu kakinya dan menempelkannya di dinding untuk menahan tubuh Keina lantaran satu tangannya sedang dia pakai untuk membuka pintu apartemen.
"Bodoh sekali aku sampai bersedia menggendongnya ke sini, kenapa tidak aku tinggalkan saja di basement.!" Vano menggerutu setelah masuk ke apartemen.
Dia bingung sendiri kenapa tiba-tiba mau menggendong wanita itu bahkan sampai ke dalam apartemen. Harusnya dia menurunkan dari mobil dan membiarkan Keina tergeletak di basement.
"Kamu pikir aku mau membawamu ke kamar.!" Untuk kesekian kalinya Vano kembali menggerutu. Sekarang dia berubah pikiran, niat awal ingin membanting Keina di atas ranjang, tapi setelah di pikir-pikir ternyata dia terlalu baik kalau sampai membawa Keina ke kamar.
Jadi Vano memutuskan untuk melempar Keina di sofa ruang tamu.
"Rasakan ini." Gumam Vano dengan senyum iblisnya saat di tengah bersiap untuk melempar Keina ke sofa.
Vano mulai menghitung mundur dalam hati.
"Tiga,,, duaa,,, sa,,
"Mama jangan pergi, disini saja." Keina mengigau seraya memeluk erat tubuh kekar Vano. Dia bahkan menyembunyikan wajahnya di antara dada dan ketiak Vano.
Sontak membuat Vano tak jadi melempar Keina ke sofa. Dia tertegun sesaat, memastikan kalau Keina benar-benar masih tidur.
"Heh.!! Bangun.!!" Vano menggoncang tubuh Keina dalam gendongnya.
Entah bagaimana Keina bisa memeluknya saat dia akan menjatuhkannya di sofa. Vano jadi curiga kalau sebenarnya Keina sudah bangun sejak tadi tapi pura-pura tidur untuk mengerjainya.
Seringai licik mengembang di wajah tampan Vano. Apalagi Keina tetap diam setelah dia berteriak dan menggoncang tubuhnya. Membuat Vano semakin yakin kalau Keina hanya pura-pura tidur saat ini.
"Kamu ingin tidur denganku kan.?"
Vano bergumam dalam hati. Dia kemudian berjalan ke arah kamarnya, berniat mengerjai Keina dengan berpura-pura akan mem per ko sanya.
Masuk ke dalam kamar dan menguncinya, Vano mengambil akses card dan menyembunyikannya agar saat Keina terbangun, wanita itu tak bisa kabur dari kamarnya.
Masih santai menggendong Keina, perlahan Vano menurunkan Keina di ranjang king size miliknya.
"Bagaimana kalau aku meminta hakku sekarang." Ucap Vano yang sengaja mengeraskan suaranya.
Dia berdiri santai dengan menyilangkan tangan di dada sembari menatap Keina yang terpejam.
"Mem per kos sa istri saat sedang tidur, sepertinya cukup menantang." Imbuhnya lagi. Dia sengaja memancing Keina dengan kata-kata menyeramkan itu, ingin tau seberapa kuat Keina akan pura-pura tidur.
__ADS_1
Sementara itu Keina bergidik ngeri setelah mendengar ucapan terakhir Vano.
Rasanya ingin sekali lompat dari atas ranjang dan kabur dari hadapan Vano saat itu juga.
Dia pikir dengan pura-pura tidur dan Vano menggendongnya, akan sedikit membuat Vano menaruh hati padanya. Tapi yang ada malah seperti melempar daging pada singa kelaparan.
"Tenang Kein,, tenang. Jangan sampai Vano tau kalau kamu pura-pura tidur."
Sebisa mungkin Keina bersikap layaknya orang yang tertidur pulas.
Tak berselang lama, sebuah tangan besar terasa menggerayangi pahanya. Keina hampir saja membuka mata dan berteriak, namun menahan diri untuk tidak gegabah.
Berpura-pura menggeliat, Keina merubah posisi dengan tidur menyamping.
"Bagaimana ini, apa aku harus bangun dan pura-pura kaget melihat Vano sedang menggerayangi tubuhku."
Keina sampai perang dengan hatinya sendiri. Pikirannya butu, tidak tau harus melakukan apa.
Lagi, Keina merasakan tangan Vano kembali menyusuri pahanya, terasa masuk ke dalam dress yang dia pakai.
Tidak mau membiarkan Vano masuk lebih dalam, Keina memutuskan menyudahi sandiwaranya dengan membuka mata perlahan layaknya orang yang baru saja bangun dari tidur panjang.
Kaget, Keina menahan diri untuk tidak berteriak saat melihat wajah Vano sangat dekat dengan area pahanya.
Sontak Vano bergegas mundur untuk menjauh. Tapi bukan Vano namanya kalau tidak bersikap santai dengan ekspresi datar.
"Vano,, kamu sedang apa.?" Lirih Keina, suaranya dibuat serak agar Vano tak curiga.
Mengusap mata beberapa kali, kemudian bangun dengan posisi duduk di tepi ranjang.
Keina mengedarkan pandangan, kali ini dia kaget karna Vano membawanya ke kamar utama.
Kamar yang sebelumnya tak boleh ia masuki sama sekali.
"Sedang apa kamu bilang.?" Vano balik bertanya dan kembali mendekat.
"Tentu saja aku ingin melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda 3 jam lalu." Tuturnya. Senyum mesum menghiasi wajah lelaki berusia 27 tahun itu.
Keina menyengir kuda, takut sekaligus cemas.
Memang dia sendiri yang sudah menantang Vano agar melakukannya, tapi ternyata dia ragu untuk memberikan mahkotanya pada laki-laki seperti Vano. Apalagi semua itu hanya untuk membuat Vano menyesal di kemudian hari, rasanya sangat di sayangkan kalau sampai harus mengorbankan kesuciannya meski Vano adalah suaminya.
"Aa,aaku belum siap.!" Keina bicara gugup di awal namun menegaskan ucapannya.
"Jangan mencari alasan, kamu sendiri yang sudah menawarkannya padaku." Sahut Vano. Tangannya mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
Tak kamu hari ini menjadi malam terburuk baginya, Keina bergegas turun dari ranjang untuk kabur.
"Mau kemana kamu.?!" Seru Vano.
Dia berhasil mencegahnl Keina, menahan tangannya dan kini mendorong tubuh Keina hingga wanita cantik itu terjerembab di atas ranjang dengan posisi terlentang.
"Jangan harap bisa kabur.!" Vano menyeringai, dia sudah mengungkung tunuh Keina dengan kancing kemeja yang sudah terbuka seluruhnya. Dada bidang dan perut kotak-kotaknya terpampang nyata di depan mata Keina.
"Vano, aku benar-benar belum siap." Keina berucap memelas.
"Bagaimana kalau besok malam saja.?" Ujarnya mencoba memberikan penawaran.
"Tawaran yang bagus, aku akan menagihnya lagi besok malam." Ucapan Vano membuat Keina bernafas lega. Dia senang karna Vano mau menerima tawarannya.
"Jangan senang dulu, karna malam ini aku tetap akan memintanya.!" Tambahnya setelah berhasil membuat Keina bersorak senang.
Wanita di bawah kungkungannya itu sontak mengehla nafas frustasi.
Dia tak bisa berbuat apa-apa saat Vano menyatukan kedua tangannya dan menahannya erat di atas kepala.
Dengan sekali tarikan, Vano berhasil merobek dress milik Keina.
"Ya ampun Vano.!! Kamu merobek dress mahal milikku.!" Teriak Keina yang semakin frustasi.
"Akan aku ganti." Jawab Vano santai.
Karna semahal-mahalnya harga sebuah dress, tak mungkin sampai membuat Vano menjual perusahaan untuk menggantinya.
"Vano kau,, aahh,,
Keina seketika membungkam mulutnya setelah meloloskan de sah han yang tak di sengaja.
Tubuhnya menegang hebat ketika Vano memasukan pucuk bukitnya ke dalam mulut, memainkan dan meny nye sapnya.
"Hentikan Vano,,! Aku tidak mau.!" Keina memberontak, dia sampai menendangi kaki Vano.
"Tidak mau.?" Vano tersenyum miring.
"Kamu bahkan mengeluarkan de sah han baby,,," Ucapnya penuh kebanggaan.
Tak peduli dengan larangan Keina, Vano kembali melanjutkan aksinya. Kali ini dia berpindah ke bukit satunya dan melakukan hal yang sama.
"Vano hentikan.! Aku sedang haid.!" Teriak Keina yang sudah tidak tahan dengan sentuhan Vano. Dia tidak mau terlalu jauh, apalagi kalau sampai Vano tau bahwa dia merasakan sensasi yang fak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Aku akan mengeceknya sendiri.!" Jawab Vano yang tidak percaya dengan pengakuan Keina.
__ADS_1
Kedua mata Keina membulat sempurna, dia akan ketahuan bohong kalau sampai Vano mengeceknya langsung.