
"Vano,, bangun,,!!" Teriak Keina tak sabaran. Dia bahkan sengaja menggedor pintu dengan tenaga ekstra untuk membangunkan penghuni kamar yang tak diharapkan keberadaannya.
Bisa-bisanya Vano ikut menginap setelah apa yang dia lakukan. Seolah tidak takut jika perbuatan jahatnya di adukan pada kedua mertuanya.
"Bangun Vano, apa kau tidak dengar.?!" Seru Keina lagi. Dia tak peduli teriakannya di dengar oleh Papa dan Namanya. Karna laki-laki itu sudah membuatnya geram.
"Van,,,
Keina terdiam begitu pintu terbuka. Penghuni kamar menjulurkan kepalanya, dengan rambut yang sedikit berantakan dan wajah khas bangun tidur yang tampak lesu, tak mengurangi ketampanan Vano sedikitpun.
Lagi-lagi bayangan panas itu kembali terlintas.
Keina sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan gerakan cepat. Seakan ingin menyingkirkan pikiran mesum yang terlintas di kepalanya.
Dia merasa mulai kehilangan kewarasan sejak melakukan penyatuan dengan Vano.
Otaknya tak lagi suci seperti dulu, karna selalu terlintas hal-hal mesum yang tak terduga.
"Ada apa.?" Suara serak nan berat milik Vano membuyarkan pikiran kotor Keina. Tak mau ketahuan sedang membayangkan hal mesum, Keina lantas mendelik tajam sembari berkacak pinggang.
"Ada apa kau bilang.?! Kamu tidak ingat sedang berada di mana.?"
"Sebaiknya bersihkan dirimu dan turun ke bawah. Mama menunggu di meja makan.!" Dengan gaya bicaranya yang ketus, Keina mengambil kesempatan untuk meluapkan kekesalannya.
Keina hendak pergi dari hadapan Vano, tapi laki-laki itu menahan tangannya.
Sesaat Keina merasakan hawa panas darii tangan Vano. Membuat wanita itu kembali menatap wajah Vano.
"Aku demam, apa ada obat penurun panas.?" Tanyanya lirih.
Ternyata benar dugaan Keina, Vano memang sedang demam. Bahkan telapak tangannya saja sangat panas.
Keina menyingkirkan tangan Vano seraya menatap ketus.
"Bagaimana bisa manusia sepertimu demam." Ujarnya dengan nada mencibir.
Rasanya tidak pantas laki-laki yang sering berbuat kejam dan ketus itu harus terserang demam. Kondisinya saat ini juga terlihat sangat lesu tak bertenaga. Sangat berbanding terbalik dengan keseharian Vano yang tampak gagah dan kuat.
Termasuk kuat di atas ranjang hingga membuat Keina terbayang-bayang.
Vano tak membalas cibiran Keina, dia hanya bisa menghela nafas. Sekuat tenaga menahan diri untuk tidak bersikap arogan lagi di depan Keina.
__ADS_1
“Ambilkan saja kalau ada. Kalau tidak ada, tolong minta Mba Dewi membelikannya." Vano kemudian merogoh dompet dalam saku celana, mengambil dua lembar seratus ribuan yang tersisa di dompetnya.
"Aku tidak bawa uang cash lagi." Ujarnya memberi tau. Dia menyerahkan dua lembar uang itu pada Keina.
"Ckk,,!! Menyusahkan saja.!" Keina menggerutu, namun dia mengambil uang itu dari tangan Vano.
"Tunggu disini.!" Pintanya tetap dengan bicaranya yang ketus.
Vano membiarkan pintu kamar terbuka, dia masuk ke dalam untuk membersihkan diri. Tapi sebelum itu, dia menurunkan suhu ruangan di dalam kamar tersebut karna terlalu dingin dan terasa menusuk.
****
"Bagaimana sayang.? Apa Vano sudah bangun.?" Tanya Mama Dessy yang melihat putrinya kembali ke ruang makan.
"Sudah Mah, tapi dia demam."
"Apa Mama punya stok obat penurun panas.?" Tanya Keina.
"Ya ampun,, bagaimana bisa Vano sampai demam. Semalam dia terlihat baik-baik saja." Mama Dessy tampak berfikir keras dengan kondisi kesehatan menantunya yang tiba-tiba demam.
"Mungkin semalaman dia tidak tidur karna memikirkan masalah kalian."
Analisa sang Mama membuat Keina mengulum senyum kecut, mana mungkin dia percaya kalau penyebab Vano sakit karna memikirkan masalah mereka. Sedangkan masalah itu dibuat sendiri oleh Vano.
"Mama ada-ada saja. Mana mungkin Vano sakit hanya gara-gara masalah ini." Sahut Keina untuk menepis anggapan Mama Dessy.
"Sudah sana ambilkan obat di kotak biasa. Sekalian ukur suhu tubuhnya. Sebaiknya panggil dokter saja kalau suhunya tinggi." Ucap Mama Dessy penuh perhatian. Sepertinya Vano sudah menjadi menantu idaman dan kesayangan. Mendengar Vano demam saja, cemasnya sudah seperti ibu kandung.
"Mama siapkan sarapan dan teh dulu buat suamimu." Tambahnya yang kemudian langsung menyendokkan makanan ke dalam piring.
Keina tampak cemberut, tidak suka Vano mendapat perhatian dari sang Mama. Kalau tau seperti apa sikap Vano, Mama Dessy pasti akan sangat kecewa.
Jadi Keina merasa kalau Vano tidak pantas untuk di perhatikan, apalagi sampai di cemaskan seperti itu.
"Ternyata banyak stok obat penurun panas." Sambil menyengir kuda, Keina memasukkan uang milik Vano ke dalam saku celananya. Lumayan kan bisa dipakai untuk traktir jajan Adel dan Rena di kantin kantor, daripada harus di kembalikan lagi pada Vano.
...****...
"Pagi Pah,,," Sapa Keina. Dia berpapasan dengan Papa Kim saat sedang menaiki tangga untuk membawa obat dan sarapan milik Vano.
"Pagi juga sayang." Papa Kim tampak memperhatikan nampan yang di bawa oleh Keina.
__ADS_1
"Kenapa makanannya di bawa ke atas.?" Tanyanya.
"Vano sedang demam Pah," Jawaban Keina membuat Papa Kim kembali memperhatikan nampan itu. Dia baru sadar kalau putrinya juga membawa obat dan pengukur suhu tubuh.
"Jadi kalian datang tengah malam karna Vano sakit.? Harusnya kamu bawa ke dokter nak, bukan ke pondok mertua." Ucap Papa Kim seraya menggelengkan kepala dan terkekeh kecil.
"Papa bisa saja."
"Aku duluan Pah,," Keina memilih bergegas dari sana karna tidak mau berbicara panjang lebar dengan sang Papa. Takut permasalahannya dengan Vano bisa di baca oleh Papa Kim.
Saat masuk ke dalam kamar, Vano sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.
Dia menatap ke arah Keina yang berjalan mendekat dengan membawa nampan berisi makanan dan minum untuknya.
“Jangan berfikir macam-macam, bukan aku yang menyiapkan makanan, tapi Mama." Ujar Keina memberi tau. Sebelum Vano gede rasa dan berfikir jika dia perhatian karna mau menyiapkan dan membawakan sarapan ke kamar untuknya.
Keina lantas meletakkan nampan di atas nakas. Sedangkan Vano hanya mengukir senyum tipis.
“Minum dulu tehnya.!" Keina menyodorkan secangkir teh pada Vano diiringi dengan wajah masam. Rasa-rasa tidak ikhlas merawat suaminya yang sedang sakit. Kalau saja kemarin malam tak membuat ulah, pasti saat ini Keina dengan senang hati mau merawat Vano.
Meski di perhatian dengan ketus, Vano hanya diam saja tanpa berkomentar. Dia bahkan mengucapkan terimakasih saat menerima secangkir teh dari tangan Keina.
Laki-laki itu hanya meneguk sekilas.
"Lebih enak teh buatanmu,," Komentarnya yang bertujuan memuji Keina.
Keina tak menjawab, entah bagaimana Vano bisa atau kalau teh itu juga buatan Mama Dessy. Padahal tadi dia hanya bilang kalau Mama Dessy yang menyiapkan makanannya.
Keina mengambil termometer digital infrared dan menyodorkannya di kening Vano.
"Kata Mama suhu tubuhmu harus di ukur." Ucapnya datar.
"Cuma 39. Tidak terlalu panas." Tuturnya.
"Kalau mau, tambah 2 derajat lagi biar bisa aku panggilkan dokter." Cibirnya meledek.
"Sekalian saja kamu panggilkan ambulan." Balas Vano yang tampak sewot namun memasang wajah datar.
"Ide bagus, tunggu sampai kamu kehabisan nafas." Balas Keina lagi.
Vano tampak frustasi mendengar ucapan Keina, dia sampai mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1