
"Kau ingin aku menemuimu sekarang.?" Sindy terlihat bahagia saat menerima telfon dari Vano. Setelah kemarin Vano memutuskan hubungan mereka lewat panggilan telfon, kini laki-laki itu kembali menghubunginya bahkan memintanya untuk bertemu.
Sindy sangat yakin bahwa Vano sangat mencintainya dan tak bisa jauh darinya. Hingga dia berfikir kalau laki-laki itu akan meminta maaf padanya dan meminta untuk kembali menjalin hubungan.
"Tentu saja, aku akan ke sama sekarang." Dengan senyum smirk, Sindy mematikan sambungan telfonnya dan bersiap untuk menemui Vano di salah satu restoran yang ada di pusat perbelanjaan.
Sembari memilih dress yang akan dia pakai, Sindy mulai menyusun rencana untuk menguras isi atm Vano seperti biasanya. Dia akan meminta Vano untuk membelikan barang-barang mewah sebagai ganti karna sudah memutuskan hubungan kemarin.
Dengan mengendarai mobil mewah hasil merayu Vano, Sindy meninggalkan apartemennya dan pergi menuju ke pusat perbelanjaan.
Kali ini dia tidak akan gegabah. Tak akan marah-marah pada Vano dan berpura-pura meminta maaf padanya agar Vano semakin yakin untuk kembali padanya.
Dia tentu saja tidak mau menyia-nyiakan ladang uangnya selama ini. Meski sejak dulu dia juga tidak kekurangan uang, tapi kehadiran Vano semakin membuatnya memiliki status sosial yang tinggi di depan teman-temannya karna semua barang yang dia pakai adalah barang mewah.
...****...
"Mana wanita gatel itu.?" Nada bicara Keina terdengar ketus. Dia mengedarkan pandangan keluar restoran untuk mencari keberadaan Sindy yang sudah 30 menit dia tunggu.
"Kamu bilang apartemen dia dekat dari mall ini. Kenapa lama sekali." Ujarnya lagi yang tampak tidak sabaran.
"Atau angan-jangan dia berdandan ala wanita malam agar kamu tertarik lagi padanya." Keina melirik sinis ke arah Vano. Entah kenapa dia selalu tersulut emosi setiap kali membahas tentang Sindy. Bahkan tadi saat Vano bicara dengan Sindy lewat lefon, Keina tak henti-hentinya memberikan tatapan tajam dengan bibir mencebik lantaran Vano bicara lembut dengan wanita murahan itu.
__ADS_1
"Kamu itu berisik sekali." Vano langsung menyuapkan es krim ke dalam mulut Keina. Membuat bola mata Keina semakin melotot saja.
Dia ingin protes tapi mulutnya penuh dengan es krim.
"Diam dan tunggu sebentar lagi." Ujar Vano yang sudah pusing mendengar ocehan istrinya sejak tadi. Meski terkadang menggemaskan tapi ada kalanya Vano dibuat kesal karna pusing mendengar ucapan Keina yang selalu ketus padanya.
"Vano kau menyebalkan sekali.!" Keina langsung bersuara begitu es krim dalam mulutnya habis. Tangannya melayang dan memukul lengan Vano.
Laki-laki itu tak menggubris kekesalan Keina, dia justru mengambil tisu dan menyeka sudut bibir Keina yang penuh dengan es krim.
"Makan es krim saja belepotan." Ledek Vano datar.
"Iissh.!! Bukannya kamu yang menyuapiku." Protes Keina. Meski sedang kesal, tapi perlakuan Vano mampu membuat hatinya tersentuh.
Pemilik suara itu adalah Sindy, wanita yang dari kejauhan melihat Vano menyeka bibir Keina dengan lembut dan tatapan dalam.
Meski saat di perjalanan sudah berjanji untuk tidak mengeluarkan amarah di depan Vano, tapi Sindy tak bisa menahan amarahnya saat melihat Vano sedang bersama Keina bahkan bersikap perhatian padanya.
Sindy pikir Vano hanya seorang diri di restoran itu, tapi ternyata malah berdua dengan Keina.
Entah apa maksud laki-laki itu membawa Keina untuk bertemu dengannya juga.
__ADS_1
"Duduk.! Jangan mempermalukan diri di depan umum." Lihir Vano penuh penekanan.
Sindy terpaksa duduk dan bergabung dengan mereka karna melihat banyak pasang mata yang menatap ke arahnya.
"Katakan.! Apa maksud kamu membawa wanita sialan itu.?" Sinis Sindy seraya mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Keina.
Keina mendelik tajam, dia tidak terima disebut wanita sialan.
"Apa kau bilang.?!" Ketus Keina lirih. Dia tak berani bicara kencang karna takut menjadi pusat perhatian pengujung restoran.
"Wanita murahan sepertimu harusnya sadar diri.!" Keina mencibir kesal.
"Untuk apa berpakaian seksi seperti itu hanya untuk bertemu dengan laki-laki yang sudah beristri.!" Cibirnya lagi. Keina menatap jijik dengan dress ketat yang melekat di tubuh Sindy. Dress di atas lutut dengan bagian atas yang terbuka hingga dua asetnya menyembul.
Benar-benar menggelikan.
"Kau.!! Berani sekali,,
"Sindy,!! Keina.!! Apa kalian tidak bisa diam.!" Vano menatap tajam kedua bergantian.
"Jangan ada yang bicara sebelum aku selesai bicara." Pintanya tegas.
__ADS_1
Kedua tangan Sindy tempak mengepal kuat di bawah meja. Kalau tidak memikirkan harta Vano, mungkin saat ini dia sudah menghajar Keina.