
Erangan panjang dari bibir keduanya mengakhiri permainan panas penuh kenikmatan itu.
Keina mencengkram punggung polos Vano saat lelaki di atas tubuhnya itu menghunjamkan dalam-dalam pusakanya, membuatnya semakin melayang dengan rasa yang tak bisa di jelaskan.
Keina memejamkan mata, menikmati sisa-sisa pelepasan yang memabukkan. Dia benar-benar dibuat gila oleh permainan yang satu ini. Bahkan mampu menyingkirkan egonya di saat dia sedang kesal dan marah pada Vano, tapi dengan senang hati mau melakukannya.
"Kenapa harus menolak kalau akhirnya menikmati," Bisik Vano seraya mengulum senyum. Dia lalu menyingkir dari atas tubuh Keina dan berbaring di sampingnya.
Keina sontak membuka mata dan langsung melotot pada Vano. Di tariknya selimut untuk menutup tubuh polosnya.
"Sudah diam, aku sedang tidak ingin berdebat." Sahut Keina ketus. Perubahan sikapnya membuat Vano terkekeh. Masih jelas di ingatannya saat Keina mengeluarkan de Sa han demi de sa han dengan suara manjanya. Bahkan beberapa kali memeluknya erat.
Vano sadar kalau istrinya itu memiliki gengsi yang tinggi. Padahal tadi sangat menikmati, tapi tak suka saat dia membahasnya.
"Jadi kamu tidak ingin berdebat.? Apa ingin mengulangi satu ronde lagi.?" Goda Vano. Dia seakan belum puas menjahili Keina karna reaksinya yang lucu.
"Apa.?! Memangnya masih kuat.?" Tanya Keina tanpa sadar, namun beberapa detik kemudian dia langsung menutup mulutnya lantaran sadar jika ucapannya hanya akan membuat Vano semakin menjadi saja.
"Kamu meragukan kemampuanku.?" Vano menyeringai penuh arti. Senyum itu membuat Keina menelan ludah dengan susah payah. Walaupun dia tergila-gila dengan permainan Vano, tapi rasanya tak akan sanggup kalau mengulanginya lagi.
"Tidak, siapa yang bilang begitu." Jawab Keina cepat, di kemudian bergegas turun dari ranjang setelah membungkus tubuh polosnya dengan selimut.
Tak mau membiarkan Keina beranjak dari ranjang, Vano dengan sigap meraih ujung selimut yang masih berada di atas ranjang.
"Mau kemana hemm.?" Vano mengukir senyum jahil. Keina yang melihat ujung selimutnya di tarik oleh Vano, hanya bisa berteriak dengan mata melotot.
"Vano.!! Lepasin.!!" Teriaknya.
"Aku harus mandi dan pergi ke mall untuk menghabiskan isi atm sebelum kamu berubah pikiran." Tutur Keina seraya menarik paksa ujung selimut dalam genggaman Vano. Tapi sayangnya tega dia masih kalah jauh dari Vano.
"Aku memang berniat untuk berubah pikiran. Bagaimana kalau aku tambah lagi saldonya,," Ucapnya seraya mengedipkan sebelah mata. Benar-benar sangat mesum ekspresi wajah Vano saat ini.
"Apa maksudmu.?" Keina menatap tajam penuh selidik. Jangan sampai dugaannya benar. Vano ingin mengulangi kegiatan itu lagi kemudian akan memberikan imbalan uang padanya.
__ADS_1
"Kemari,, duduk dulu." Vano menepuk sisi ranjang.
"Biar aku jelaskan." Tambahnya.
"Tidak mau, aku sudah tau isi kepalamu itu." Tolak Keina. Vano mengulum senyum karna Keina bisa menebak pikiran mesumnya.
"Bagaimana kalau seratus juta." Ujar Vano. Lagi-lagi dia melempar kedipan menggoda pada Keina.
"Se,,seratus juta.?" Ucap Keina terbata. Seketika isi kepalanya di penuhi uang warna merah yang berterbangan. Keina tak munafik, dia tentu sangat tergiur dengan uang sebanyak itu. Kapan lagi dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat dan tanpa harus bekerja.
"Hem. Bagaimana.? Kamu setuju.?" Vano merubah posisi dengan duduk di sisi ranjang. Dia hanya menutupi bagian intinya dengan baju yang tadi tergeletak di atas ranjang.
"Transfer dulu uangnya, tapi aku tidak mau melakukannya sekarang." Akal cerdik Keina mulai berjalan. Dia akan mengelabuhi Vano dengan pura-pura mengulur waktu.
"Kenapa jadi kamu yang mengatur," Ujar Vano seraya menarik tangan Keina hingga wanita itu jatuh ke pangkuannya.
Diam-diam Vano mencuci kesempatan dengan menyusupkan tangannya ke dalam sela selimut di belakang tubuh Keina.
"Vano, lepas.! Aku harus mandi." Keina hendak turun dari pangkuan Vano, tapi tiba-tiba merasakan tangan Vano menggerayangi salah satu bukitnya.
Kedua bola mata Keina membulat sempurna, dia reflek mencubit kencang perut Vano hingga pria itu melepaskannya.
"Keina kau.!" Teriak Vano kesal. Namun Keina justru tertawa luas dan pergi ke kamar mandi tanpa memperdulikan Vano yang kesakitan. akibat cubitannya.
Vano membiarkan Keina masuk ke kamar mandi, tapi dia tak kehabisan akal untuk mengurung Keina di dalam kamar itu bersamanya.
Setelah memakai celana pendeknya, Vano berjala ke arah pintu. Dia mencabut kunci pintu dan menyembunyikannya di tempat yang aman. Begitu juga dengan pintu kaca yang terhubung ke balkon. Vano sudah mengunci dan menyembunyikan kunci itu juga.
Sementara itu Keina yang sedang berdiri di bawah guyuran shower, terus membayangkan uang 100 juta yang di tawarkan oleh Vano. Jika Vano menawarkan uang sebanyak itu, lalu berapa isi atm milik Vano yang sudah berpindah ke tangannya.
"Aku harus buru-buru,," Ujar Keina yang langsung membersihkan dirinya. Dia sudah tidak sabar ingin mengecek isi atm itu.
Keluar kamar mandi dengan memakai handuk kimono, Keina masuk ke walk in closet untuk memakai baju. Namun seketika dia tersentak kaget karena di dalam sudah ada Vano.
__ADS_1
"Kau itu hantu atau apa.? Kenapa selalu ada di mana-mana.!" Gerutu Keina kesal.
"Aku.? Tentu saja aku suamimu." Jawab Vano santai. Bibir Keina mencebik mendengar jawaban Vano. Dia berjalan melewati Vano untuk mengambil baju di dalam lemari.
"Sebentar lagi akan jadi mantan suami.!" Balas Keina kemudian.
"Kamu masih ingin mengajukan gugatan.? Aku pikir,,
"Kamu pikir setalah aku mau bercinta lagi, gugatan cerai itu akan aku batalkan.?" Ujar Keina dengan mengukir senyum smirk.
"Jangan mentang-mentang merasa sudah memberiku kenikmatan dan kartu atm, aku akan luluh padamu." Keina melengos acuh.
Dia memakai celana dlm di depan Vano dengan santai tanpa melepaskan handuk kimononya.
"Aku sudah minta maaf dan mengakui kesalahanku. Bahkan aku sudah memutuskan hubungan dengan Sindy walaupun baru lewat telfon."
"Kamu tidak mau memberiku kesempatan.?" Suara Vano terdengar sendu, hal itu menarik perhatian Keina yang seketika menatapnya.
Ekspresi wajah Vano saat ini berubah 180 derajat. Dari yang terlihat penuh percaya diri dan bahagia, kini berubah lesu dengan tatapan sendu.
Keina hampir saja menertawakan Vano, namun dia menahan diri agar Vano tak curiga.
Karna sejujurnya Keina sedang mempertimbangkan lagi keputusannya setelah melihat usaha Vano dan penyesalannya.
"Kamu yakin ingin mendapatkan kesempatan dari ku.?" Tanya Keina. Perlahan di berjalan mendekati Vano.
"Tentu saja, aku tidak ingin ada perpisahan." Vano tampak menjawab dengan sungguh-sungguh.
"Kalau begitu ubah sertifikat kepemilikan apartemen dan rumah pribadimu atas namaku. Termasuk properti lainnya yang kamu miliki." Pinta Keina.
Dia menyeringai lebar. Seandainya Vano bersedia untuk melakukannya, itu artinya Vano benar-benar serius untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Dan sudah sadar bahwa wanita murahan itu tidak pantas untuk di jadikan ratunya.
Vano terdiam, dia tampak sedang memikirkan matang-matang permintaan Keina.
__ADS_1