Meluluhkan Hati CEO Kejam

Meluluhkan Hati CEO Kejam
Bab 45


__ADS_3

"Vano, jangan gila..!" Keina mendorong wajah Vano agar menjauh dari hadapannya. Pasalnya Vano hampir menempelkan bibirnya lagi.


"Banyak orang di rumah ini, apa kau sudah tidak waras.!" Keina mencebik kesal. Dia buru-buru beranjak dari meja makan untuk menghindari Vano.


"Mau kemana hmm,,,?" Dengan langkah lebarnya, Vano menyusul Keina. Mengikuti setiap langkah wanita itu.


"Aku mau menghabiskan uangmu.!" Jawab Keina ketus. Dia menaiki tangga, ingin mengganti baju dan pergi kemanapun asal tidak ada wajah Vano di hadapannya.


"Kamu lupa perjanjiannya.? Temani dulu sampai aku sembuh, baru boleh pergi kemanapun yang kamu mau." Vano menahan pergelangan tangan Keina, dia mengingatkan Keina dengan perjanjian yang sudah di setujui oleh istrinya itu saat menerima kartu atm darinya.


Keina menghentikan langkah, dia mengamati Vano dari ujung kaki sampai kepala.


"Aku rasa kamu sudah sembuh. Kamu terlihat segar dan sehat sekarang." Katanya setelah melihat kondisi Vano yang tampak baik-baik saja.


Tangan Vano bahkan tidak sepanas sebelumnya.


"Belum sepenuhnya." Vano menyangkal.


"Kamu mau tau cara cepat untuk membuatku sembuh hanya dalam hitungan jam." Ucap Vano dengan senyum dan sorot mata yang membuat perasaan Keina tidak enak. Entah kenapa dia langsung bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Vano saat ini.


Kalau tebakannya benar, sepertinya otak dia dan Vano sudah menyatu.


"Apa.?" Seru Keina.


"Ikut aku, jawabannya ada di kamarmu." Dengan santainya Vano menggandeng dan menarik tangan Keina menuju kamar.


Benar saja dugaan Keina, pasti Vano ingin melakukan hal mesum dengannya.


"Tidak Vano, aku tidak mau melakukannya lagi.!" Tolak Keina setengah hati. Karna sejujurnya dia sedikit menginginkan sentuhan itu lagi. Tapi tidak mungkin kan kalau dia menurut saja tanpa ada penolakan. Selain gengsi, Keina juga tidak mau membuat Vano jadi percaya diri karna bisa mengulangi kegiatan itu lagi sesuka hatinya.


"Tapi kamu harus melakukannya agar aku cepat sembuh. Bukannya kamu sudah tidak sabar untuk menghabiskan uangku. Jadi kamu harus melakukannya,," Vano tak melepaskan Keina meski wanita itu terus memberontak. Dia benar-benar membawa Keina ke kamar, menutup dan mengunci pintu kamarnya.


"Dasar pemaksa.!"


"Lagipula mana ada orang sakit bisa disembunyikan dengan cara seperti itu. Aku yakin kamu hanya cari alasan saja agar,,


"Sssttt,, jangan cerewet." Vano membungkam mulut Keina dengan tangannya.

__ADS_1


"Cepat duduk di ranjang dan pijat tubuhku dari ujung kaki sampai kepala." Katanya yang langsung merebahkan diri di atas ranjang dengan posisi tengkurap.


Keina melongo tak percaya. Ternyata Vano hanya meminta untuk di pijat biasa, bukan pijat plus plus. Tapi bisa-bisanya otaknya sudah berfikir ke arah sana. Dan hal itu membuat Keina merasa malu sangat malu. Kalau bisa, dia ingin lari dan menghilang dari hadapan Vano untuk sementara waktu.


Tapi anehnya Vano hanya diam saja. Rasanya tidak mungkin kalau Vano tidak tau apa yang ada dalam pikiran Keina barusan.


Bahkan Keina berulang kali mengatakan tidak mau melakukannya dalam tanda kutip.


Apa mungkin Vano memilih pura-pura tidak tau karna enggan membuat Keina malu.


"Kenapa masih diam saja, ayo pijat aku." Vano menoleh menatap Keina.


Wanita yang sedang cemberut itu langsung duduk di sisi ranjang dan terlihat sangat terpaksa untuk memijatnya.


"Lain kali aku tidak mau memijatmu.!"


"Ini hanya demi kartu atm mu saja." Tutur Keina. Tangannya mulai memijat kaki Vano.


"Kamu matre sekali." Sahut Vano yang menanggapi santai ucapan Keina.


"Realistis, bukan matre." Jawab Keina tak mau kalah.


Entah ilmu apa yang di kuasai oleh Vano sampai Keina mau menuruti permintaannya. Padahal Keina bisa saja kabur dan pergi berbelanja, tapi malah bersedia memijatnya.


"Hmmm,,, terserah kamu saja." Vano tampak enggan menanggapi ocehan Keina.


"Naik ke atas, jangan di bawah saja." Ujar Vano.


"Hah.??" Keina melongo, dia bingung dengan maksud ucapan Vano.


Apa maksudnya menyuruhnya untuk naik ke atas.? Apa dia ingin gaya pijat yang diduduki tepat di atas bokongnya.


"Naik kemana.?" Pertanyaan Keina membuat Vano hampir tertawa. Keina memang pintar menjawab dan memojokkannya, tapi otaknya lamban untuk berfikir.


"Terserah naik kemana, yang menurut kamu enak saja." Jawab Vano yang semakin menahan tawa. Tapi dia yakin Keina tidak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini.


"Iissh..! Jangan coba-coba mesum.!" Keina menarik bulu di kaki Vano.

__ADS_1


"Aaargh,,.!!" Vano berteriak dan menjauhkan kakinya dari Keina.


"Kau ini benar-benar." Vano. mengubah posisi dengan duduk, dia lalu menarik tangan Keina hingga membuat Keina terjerembab di ranjang.


Dalam hitungan detik, tubuh Keina sudah berada di atas kungkungan Vano.


"Vano,, awas menyingkir.!!" Keina memukuli dada Vano berulang kali.


“Aku akan membuatmu diam." Ucap Vano disertai seringai mesum. Dia menakan kedua tangan Keina di ranjang, setelah itu membungkam bibir Keina dengan ciuman lembut yang semakin lama berubah kasar dan menuntut.


Keina memberontak, tapi tidak dengan sekuat tenaga karna sebenarnya dia menikmati ciuman itu.


Apalagi saat bibir Vano menyusuri leher jenjangnya, menyapunya dengan lidah dan sesekali meng hisapnya.


Keina hanya bisa memejamkan mata seraya menggigit bibir bawah agar tak mengeluarkan des sa han.


Sepertinya dia sudah gila, otaknya tak mau berfikir waras lagi. Semua sentuhan Vano membuatnya melayang-layang. Bahkan saat ini dia tak lagi memberontak dan terkesan pasrah menerima kenikmatan yang memabukkan itu.


"Vano,," Des sah Keina dengan suara seraknya.


Tubuhnya menegang saat tangan Vano menyusup ke dalam rok span yang dia pakai.


Mengusap dan sedikit memberikan gerakan pada area yang mulai lembab itu.


Senyum di bibir Vano mengembang sempurna, dia semakin bersemangat saat mendengar Keina menyebut namanya.


Dengan satu tangannya, Vano berhasil menurunkan penutup aset bagian bawah Keina.


Dia memberikan sentuhan lembut dengan jemarinya disertai ciuman yang menuntut.


De Sa han demi de Sa han lolos dari bibir Keina. Kedua tangannya mencengkram rambut Vano.


Suasana kamar semakin panas seiring dengan gerakan cepat Vano di atas tubuh Keina.


Dia menghunjamkan dalam-dalam, mencari dan memberikan kenikmatan yang tak bisa di gambarkan dengan kata-kata.


Keina sudah melayang entah kemana, dia dibuat gila oleh permainan Vano hingga tak bisa menolaknya.

__ADS_1


Peduli apa dengan gengsi dan kekesalannya pada Vano, dia menyukai semua sentuhan-sentuhan ini.


__ADS_2