Meluluhkan Hati CEO Kejam

Meluluhkan Hati CEO Kejam
Bab 43


__ADS_3

"Apa kamu tidak ada niat untuk menyuapiku.?" Tanya Vano dengan wajah datar. Keina yang baru meletakkan termometer langsung mencebikan bibir. Tampak geli mendengar pertanyaan Vano.


"Apa demam membuat tanganmu tidak berfungsi.?" Ucap Keina mencibir.


Enak saja Vano berharap akan di suapi. Dibawakan sarapan dan obat saja harusnya Vano bersyukur. Karna Keina masih berbaik hati mengurusnya setelah dia melukai harga dirinya.


"Aku juga harus sarapan dan berangkat ke kantor.!" Tambahnya tegas. Mana ada waktu untuk menyuapi Vano disaat dirinya saja belum sarapan dan harus berangkat ke kantor.


Lagipula kalau terlalu menuruti perkataan Vano, laki-laki itu akan berfikir kalau dia memang di butuhkan dan berarti untuk Keina.


"Bosmu juga disini, untuk apa kamu berangkat.?"


"Mau jadi penunggu ruanganku.?" Tanya Vano datar.


"Ckk,, bos macam apa." Cibir Keina lirih. Vano memang bos, tapi bos yang paling menjengkelkan dan menyebalkan.


"Aku dengar itu Keina." Tegur Vano.


"Syukurlah, berarti telingamu masih normal." Sahut Keina ketus. Entah kenapa dia jadi hobi mencibir Vano. Mungkin karna sudah terlalu jengkel pada laki-laki itu, sama saat pertama kali di pertemukan tak sengaja di pusat perbelanjaan. Dan disitu Keina selalu mencibir Vano bahkan berani melawannya.


"Kau ini,," Vano mencubit hidung Keina. Antara kesal dan gemas dengan jawaban istrinya yang selalu nyeleneh mencibirnya.


"Ya ampun tanganmu bahkan masih punya tenaga untuk mencubit, lalu kenapa memintaku untuk menyuapimu.?" Keina memutar bola matanya malas.


"Dasar modus.!" Lagi-lagi dia mencibir. Tapi memang kelakuan Vano sendiri menimbulkan kekesalan hingga membuat Keina selalu ingin bicara ketus padanya.


"Apa salahnya menyuapi suami yang sedang sakit.?" Suara Vano terdengar memelas. Dia berusaha membujuk Keina agar mau menyuapinya.


"Memang tidak ada salahnya menyuapi suami. Yang jadi masalah itu, kenapa harus kamu yang jadi suamiku. Malas sekali harus menyuapi laki-laki menyebalkan sepertimu." Keina melengos kesal. Seandainya saja Vano tidak membuat ulah, mungkin dia akan menjadi suami yang paling bahagia di dunia ini karna mendapatkan istri sepertinya. Istri yang akan sangat tulus dan sepenuh hari merawat dan mengurus suami. Memanjakan bahkan melayaninya dengan baik.

__ADS_1


Kalau sekarang dia mendapatkan perlakuan dingin dan ketus, berarti karna ulahnya sendiri.


"Kenapa kamu jadi cerewet seperti ini," Vano tampak menahan senyum. Bukannya kesal karna di cibir habis-habisan, Vano justru terlihat senang mendengar celotehan Keina.


"Ya ampun Tuan El Vano.?? Selama ini kamu kemana saja.?"


"Kamu tidak ingat saat pertama kali kita bertemu, aku memang seperti ini dari dulu."


"2 bulan yang lalu aku hanya akting, pura-pura bodoh dan tidak banyak bicara. Padahal sebenarnya aku ingin sekali mencakar-cakar wajahmu seperi ini.!" Geram Keina seraya mencontohkan gerakan mencakar-cakar di depan wajah Vano.


"Hentikan, kau itu konyol sekali,," Vano menurunkan kedua tangan Keina. Dia sampai terkekeh kecil karna tidak tahan dengan tingkah wanita cantik di depannya.


“Kalau kamu bersedia menyuapiku, kamu boleh ambil salah satu kartu atm di dompetku." Tawar Vano. Agak sedikit curang memang, tapi sepertinya hanya cara itu akan membuat Keina mau menyuapinya.


"Hanya kartu atmnya saja.? Lalu bagaimana caranya aku menghabiskan isinya kalau tidak beserta pinnya." Ujar Keina terang-terangan.


"Sepertinya kamu bukan akting bodoh, tapi memang bo,,


"Lagipula untuk apa aku memberikan kartu atm tanpa pinnya. Kamu ini ada-ada saja,," Vano menggeleng tak habis pikir. Kadang-kadang istrinya itu memang kelewat pintar, tapi saking pintarnya jadi sedikit bodoh.


Keina diam untuk berfikir sejenak, apa salahnya menyuapi Vano kali ini saja. Yang terpenting imbalannya bisa dia pakai untuk shoping dan mentraktir dua sahabatnya.


"Oke deal.!!" Seru Keina, dia meraih tangan Vano dan menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Vano.


"Tapi berikan dulu kartu atmnya. Kamu itu licik, bisa saja nanti tidak mau memberikan kartu atmnya padaku setelah aku menyuapimu." Keina menodongkan kedua tangannya di depan Vano tanpa malu. Peduli apa dengan anggapan Vano. Ini kesempatan bagus untuk membalas perbuatannya, yaitu dengan cara menguras habis isi atm Vano.


Vano langsung mengambil dompet miliknya di atas nakas. Dia menyodorkan dompet itu pada Keina karna tak mau berlama-lama debat dengan istrinya itu.


Hanya dalam hitungan detik, dompet milik Vano sudah berpindah tangan.

__ADS_1


Keina membuka dompet itu dengan mata yang berbinar.


“Kartu mana yang isinya paling banyak.?" Tanya Keina tanpa basa-basi. Dia tidak mau rugi dengan salah mengambil kartu atm. Jangan sampai di memilih yang isinya paling sedikit.


Pandangan mata Keina tak beralih dari isi dompet Vano. Tidak ada selembar uang pun di sana. Tapi deretan kartu atm dan kartu kredit berjejer di sana.


"Pilih saja sendiri." Sahut Vano yang enggan memberi tau kartu mana yang paling banyak isinya.


Lagipula kalau Keina bisa berfikir jauh, tidak mungkin isi atm seorang CEO seperti Vano hanya sedikit. Sudah pasti di atas ratusan juta hingga milyaran. Dan yang pasti isi paling banyak tidak dia bawa kemana-mana.


"Iishh.! Kamu itu pelit sekali." Keina mencebikan bibir. Dia jadi dilema untuk memilih.


"Aku sudah menyuruhmu mengambil salah satu atm ku, masih sempat-sempatnya bilang aku pelit." Ujar Vano tak habis pikir.


"Makanya kalau mau ngasih jangan tanggung-tanggung, sekalian kasih yang paling banyak." Jawab Keina tak mau kalah.


Tapi pada akhirnya dia mengambil salah satu kartu milik Vano dan menyimpannya di sisi ranjang.


"Jangan lupa beritahu pinnya." Ucapnya seraya mengembalikan dompet milik Vano.


Tak butuh waktu lama, Vano langsung mengirimkan pin ke ponsel Keina, membuat mata wanita cantik itu terlihat hijau.


"Aaa,,, ayo buka mulutmu,," Keina mulai menyodorkan makanan ke mulut Vano. Caranya menyuapi Vano seperti sedang menyuapi anak kecil, membuat Vano memijit pelipisnya karna sakit kepala.


Niat ingin terlihat romantis tapi malah membuatnya pusing.


"Jadi aku tidak perlu ke kantor hari ini.?" Tanya Keina dengan mata berbinar. Kalau iya dia di ijinkan untuk tidak berangkat, maka setelah menyuapi Vano dia akan pergi ke atm untuk mengecek saldo di dalam kartu yang dia pilih. Setelah itu mampir ke pusat perbelanjaan untuk shoping.


"Hmm,, tapi kamu tidak boleh kemanapun, seharian harus merawat ku sampai sembuh." Titah Vano yang tampak tak mau di bantah.

__ADS_1


"Apa.?!!" Pekik Keina kaget. Sepertinya Vano baru saja membaca pikirannya. Sekarang Vano malah menahannya di rumah dan menjadi perawat pribadinya.


__ADS_2