Meluluhkan Hati CEO Kejam

Meluluhkan Hati CEO Kejam
Bab 52


__ADS_3

"Van.?" Kepala Keina menyembul di balik pintu ruang kerja Vano yang sedikit terbuka. Wanita itu melihat Vano yang tengah memasukan dokumen-dokumen penting ke dalam box.


"Masuk saja." Titah vano seraya melirik sekilas dengan tatapan datar.


Keina tampak mencebik kesal melihat Vano menyambutnya dengan tatapan datar. Suami tampannya itu menyebalkan. Dia hanya akan lembut dan manis padanya kalau sudah menginginkan kenikmatan darinya.


"Dasar gunung everest.!" Cibir Keina seraya melangkah ke dalam kamar.


Dia memberikan julukan baru pada Vano dengan nama gunung yang di selimuti oleh salju. Bukan hanya dingin saja, tapi beku.!


Kalau bukan karna uang dan kejantanannya, mana mau dia memberikan kesempatan pada gunung everest itu. Ya walaupun dia juga sebenarnya memiliki perasaan pada Vano. Tapi perasaannya itu tak jauh lebih besar dari apa yang ada dalam diri Vano. Jadi bisa di bilang cinta Keina pada Vano karna ada apanya, bukan apa adanya.


"Bilang apa kamu.?" Tegur Vano yang samar-samar mendengar Keina mencibirnya. Tatapannya semakin datar dan dingin saja.


Keina menyengir kuda, lengkungan bibirnya membentuk senyuman manis. Bukan Keina namanya kalau tidak pandai bersandiwara.


Dia berjalan mendekat, berdiri di belakang Vano dan memeluk gunung Everest itu dengan sangat erat dan menempelkan kepalanya di punggung Vano.


Julukan gunung Everest itu sebenarnya tidak cocok untuk tubuh Vano yang terasa hangat dalam dekapan Keina. Tapi berhubung sikapnya dingin dan datar, jadi sah-sah saja Vano di sebut gunung Everest.


Vano menghentikan aktivitasnya. Mendapatkan pelukan dari Keina secara tiba-tiba, membuat hatinya sedikit mencair.


"Ada apa hemm.?" Tanyanya seraya mengusap tangan Keina yang sedang melingkar di perutnya.


"Kamu belum memberitahuku dimana kita akan tinggal." Ucap Keina. Sudah beberapa kali dia menanyakan hal itu, tapi Vano enggan menjawab dengan alasan surprise.


"Aku bahkan tidak tau rumah seperti apa yang akan kita tempati itu." Dekapan Keina semakin erat. Ada kekhawatiran dalam nada bicaranya. Dia takut jika rumah yang akan dia tempati itu jauh dari rumah orang tuanya.


"Kamu lihat saja nanti." Jawaban singkat Vano tak membuat Keina merasa puas. Padahal dia berharap setidaknya Vano menyebutkan nama daerahnya atau kawasan dimana rumah itu berada.

__ADS_1


"Buka surprise namanya kalau aku memberitahumu sekarang." Tuturnya seraya melepaskan kedua tangan Keina dari perutnya.


"Aku harus membereskan berkas-berkas ini dulu." Ucap Vano setelah melepaskan dekapan Keina.


Wanita cantik itu sontak menyingkirkl dari belakang tubuh Vano dan kini berdiri di sampingnya.


"Biar aku bantu." Ucap Keina tulus. Lagipula dia tidak melakukan apapun sejak tadi, hanya memberi intruksi saja pada dua asisten rumah tangga untuk mengemasi semua isi walk in closet di kamarnya.


"Kamu bantu keluarkan isi laci itu saja." Vano menunjuk salah satu meja yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Masukkan semua kedalam box kecil." Laki-laki tampan itu kembali memberi intruksi. Keina mengganguk paham dan langsung mengerjakan perintah Vano.


Dia mengambil box plastik, meletakkan di depan meja tersebut dan berlutut untuk membuka laci yang paling bawah.


Satu persatu-satu isi di dalam laci itu dia masukan ke dalam box, lalu berpindah ke laci lainnya hingga berakhir pada laci paling atas.


Namun saat di membuka laci terakhir itu, Keina di buat geram lantaran melihat foto Sindy dan Vano di dalam laci.


"Sayang,, apa foto ini akan kamu pajang di rumah baru nanti.?" Tanya Keina dengan nada menyindir. Dia menyodorkan foto itu tepat di depan wajh Vano.


Namun reaksi Vano tampak datar saja melihat selembar foto di tangan Keina.


"Menurutmu bagaimana.? Apa bagus kalau aku memajangnya di kamar utama.?" Vano balik bertanya. Walaupun rcara bicaranya terdengar serius, tapi sebenarnya dia sedang menggoda Keina. Laki-laki itu ingin tau seperti apa reaksi Keina jika dia meminta pendapat untuk memajang foto itu di kamar mereka nanti.


"Vano.!" Tegur Keina dengan bibir yang mencebik. Bisa-bisanya Vano berniat untuk memajang foto Sindy di kamar mereka.


Melihat kemarahan dan kecemburuan dalam sorot mata Keina, Vano tampak mengulum senyum tipis. Setidaknya walaupun Keina menyukai hartanya, tapi wanita itu memiliki perasaan yang tulus padanya. Tak seperti Sindy yang justru berani selingkuh di belakangnya di saat ungkapan cinta dengan mudah keluar dari bibir wanita itu.


"Awas saja, aku akan membakar foto ini.!" Gerutunya geram. Dia hendak pergi darin hadapan Vano, namun laki-laki itu menahan tangannya.

__ADS_1


Dengan sekali tarikan, Keina sudah berpindah ke dalam dekapan Vano.


"Apa kau cemburu.?" Tanya Vano seraya melingkarkan kedua tangan di pinggang Keina dan menatap intens manik matanya.


Keina menggeleng cepat. Dia membohongi Vano.


"Tidak.! Untuk apa aku cemburu dengan wanita seperti itu." Jawabnya ketus. Tapi Keina tak berani menayap mata Vano saat menjawabnya.


"Bohong." Ucap Vano yang tidak percaya. Kalau tidak cemburu, mana mungkin Keina sampai marah dan berniat membakar foto itu.


"Untuk apa aku bohong.!" Keina menyangkalnya. Dia gengsi kalau harus mengakuinya di depan Vano. Keina tidak mau membuat Vano beranggapan bahwa dirinya yang terlalu cinta pada laki-laki itu.


"Kalau tidak cemburu, untuk apa kamu mau membakarnya." Ucapan Vano membuat Keina tak bisa mengelak. Dia kesulitan mencari alasan untuk menyangkalnya lagi.


"Kemari, biar aku simpan fotonya." Vano mengambil paksa foto itu dari tangan Keina.


"Ini kenang-kenangan saat liburan di maldives, jadi harus di simpan." Tuturnya dengan santai. Sedangkan dia sudah membuat Keina semakin mendidih.


"Simpan saja kalau berani, jangan harap aku mau tidur satu kamar denganmu.!" Ancam Keina seraya mendorong dada bidang Vano hingga lepas dari dekapannya.


"Tidak masalah, aku bisa ke kamarmu kalau ingin bercinta." Jawab Vano enteng. Seketika Keina berbalik badan dengan kedua mata yang sudah melotot. Sepertinya Vano belum pernah merasakan tinjuan maut di burungnya, jadi dengan entengnya membuat Keina kesal.


"Apa burung itu sudah pernah di tinju.?" Tanya Keina. Tatapan matanya mengarah pada benda di antara kedua paha Vano.


"Dulu saat sekolah aku sering meninju burung kalau ada laki-laki yang membuatku marah." Keina menyeringai. Tatapannya yang menakutkan membuat Vano menelan ludah dengan susah patah. Dia juga reflek menutupi bagian itu dengan tangannya ketika melihat Keina mengepalkan tangan seolah sudah siap untuk melayangkan tinjuan.


"Ini, ambil saja." Tiba-tiba Vano langsung membeirksn foto itu pada Keina. Dia salah salah sasaran karna mengajak orang yang tidak tepat untuk bercanda.


"Kalau kamu meninjunya, bagaimana aku bisa membuatmu men de sah lagi." Tambahnya setelah membeirkan foto itu.

__ADS_1


"Lagipula burung ini belum memproduksi anak, jadi jangan macam-macam." Ucap Vano seraya beranjak dan kembali membereskan barang-barangnya.


Keina hampir saja tertawa melihat raut wajah Vano yang ketakutan. Lagipula siapa suruh Vano berani menguji kesabarannya.


__ADS_2