
Usai makan malam bersama, mereka beranjak ke ruang keluarga. Papa Kim dan Vano sedang membicarakan soal bisnis. Mereka berdua tampak serius. Keina sampai diam-diam manatap suaminya itu. Dia kagum dengan cara bicara Vano pada Papa Kim. Setiap kata yang keluar dari mulut Vano tersusun rapi dan sopan. Dia menjawab secara gamblang pertanyaan dari Papa Kim soal bisnis yang digelutinya. Dan Vano juga bisa menjadi pendengar yang baik setiap kali Papa Kim bercerita.
Sisi lain yang baru Keina sadari saat ini akan sikap Vano yang sebenarnya.
Di balik sikap ketus dan angkuhnya, Vano memiliki attitude yang baik pada orang tua yang jarang di miliki oleh anak muda jama sekarang.
"Mama bilang juga apa, kamu pasti jatuh cinta sama Vano." Bisik Mama Dessy seraya menyikut lengan putrinya. Dia ikut bahagia melihat rumah tangga putrinya baik-baik saja selama 2 bulan ini, padahal mereka belum saling mengenal satu sama lain tapi pada akhirnya saling mencintai seiring berjalannya waktu.
Wajah Keina merona. Dia malu karna dulu sempat menentang keras perjodohan itu dengan alasan tak mencintai Vano.
"Awalnya saja menolak, sekarang malah keliatan kamu cinta sama Vano." Godanya lagi. Keina semakin malu saja di buatnya.
"Mama apaan sih,, jangan meledekku seperti itu." Bibir Keina mencebik. Rasanya sangat malu karna pada akhirnya dia termakan ucapannya sendiri dan sekarang menjadi bahan ledekan sang Mama.
Mama Dessy hanya mengulum senyum setelah berhasil membuat putrinya salah tingkah karna malu.
"Jadi sekarang sudah bisa dong kasih cucu buat Mama dan Papa.?" Lagi-lagi Mama Dessy menggoda Keina. Kata-kata yang di bisikkan oleh sang Mama berhasil membuatnya semakin tersipu malu.
Jika sudah membahas soal anak, pasti nanti akan merambah ke ranjang. Keina memilih untuk tak terlalu menanggapi.
"Iya, do'a kan saja Mah." Jawabnya yang berusaha menutupi rasa malunya.
Untuk menghindari obrolan yang lebih intens, Keina pamit pada Mama Dessy untuk pergi ke kamar dengan alasan ingin mencoba baju-baju yang di belikan oleh Vano tadi siang.
Keina pergi ke kamarnya setelah pamit dengan Mama Dessy. Dia sengaja tidak pamit pada Vano dan Papa Kim karna mereka berdua masih asik mengobrol. Apalagi Vano dan Papa Kim jarang bertemu. Anggap saja Keina sedang memberikan waktu untuk mempererat hubungan antara menantu dan mertua agar mereka semakin dekat.
__ADS_1
"Sudah malam Pah, mungkin Vano mau istirahat."
"Ngobrolnya lanjut saja besok pagi." Mama Dessy menyudahi obrolan suami dan menantunya. Sebenarnya dia senang melihat kedekatan Vano dan Papa Kim, tapi Mama Dessy jauh lebih senang kalau Vano menyusul Keina ke kamar agar bisa membuatkan cucu yang lucu untuknya.
"Tidak masalah Mah, lagipula besok libur." Ucap Vano.
"Tapi kamu baru sembuh, sebaiknya istirahat lebih awal." Mama Dessy berusaha membuat Vano mau pergi ke kamar.
"Keina juga sudah ke kamar, katanya ngantuk." Mama Dessy sampai berbohong, menghalalkan cara agar Vano mau menyusul Keina.
Melihat istrinya yang bersikeras menyuruh Vano untuk pergi ke kamar, Papa Kim kebingungan. Dia menatap istrinya seolah meminta penjelasan.
Seketika Mama Dessy mengedipkan mata pada suaminya, dan membuat Papa Kim akhirnya mengerti tujuan istrinya.
"Mama tuh sudah ingin punya cucu Pah. Kenapa tadi Papa tidak peka." Protes Mama Dessy begitu masuk ke dalam kamar.
Papa Kim sampai geleng-geleng kepala sembari tersenyum. Hanya karna ingin putrinya cepat hamil, dia sampai menyuruh Vano untuk menyusul Keina ke kamar. Padahal obrolan mereka belum selesai.
"Tidak perlu seperti itu Mah, kita do'kan saja. Kalau sudah waktunya, Keina pasti akan hamil."
Mama Dessy menangguk paham. Dia tau akan ada waktunya bagi Keina untuk hamil, tapi apa salahnya dia usaha agar anak dan menantunya berlama-lama menghabiskan waktu di dalam kamar. Dengan begitu, calon cucunya pun akan segera hadir.
...*****...
"Ya ampun El Vano.!!" Pekik Keina kaget. Dia reflek menepuk pundak Vano yang menempel di belakang tubuhnya.
__ADS_1
Entah kapan Vano masuk ke walk in closet dan tiba-tiba dia sudah melihat Vano dari pantulan cermin lalu mendekapnya dari belakang.
"Bukannya tadi masih mengobrol sama Papa." Keina menyingkirkan tangan Vano yang melingkar di pinggang. Itu membuatnya risih dan kesulitan mengoleskan skincare.
"Mamamu menyuruhku untuk ke kamar." Jawab Vano. Dia menyilangkan kedua tangan di atas dada dan menatap Keina dari pantulan cermin.
"Mama.?" Gumam Keina. Dia tidak heran kenapa Mama Dessy menyuruh Vano untuk menyusulnya ke kamar. Sudah pasti karna hal yang mereka bahas tadi.
"Cepetan, jangan lama-lama pakai skincarenya." Tegur Vano. Laki-laki tampan itu memasang muka datar.
"Cepetan.? Memangnya kita mau kemana.?" Keina sampai berbalik badan untuk bertatap muka dengan Vano.
"Tentu saja ke ranjang, memangnya kamu mau disini.?" Jawab Vano cepat.
"Mamamu sudan ingin punya cucu." Ujarnya lagi.
Keina sempat kaget mendengarnya. Apa mungkin Mama Dessy juga mengutarakan keinginannya pada Vano.?
"Kata siapa." Keina memilih pura-puta tidak tau.
"Kalau tidak, mana mungkin sampai memaksaku untuk ke kamar." Jawabnya yang langsung mendekat dan membuka kancing piyama Keina.
"Ya ampun, kamu itu bar-bar sekali.! Apa tidak bisa sabar sebentar." Keina protes tapi tidak ada upaya untuk melarang Vano membuka piyamanya.
"Apa itu bar-bar. Aku taunya bar." Saut Vano acuh. Jemarinya masih terampil membuka kancing piyama Keina hingga turun kebawah.
__ADS_1