
Dari kejauhan Mama Mirna dan Papa Mahendra tampak mengulas senyum. Keduanya jelas terlihat bahagia melihat putranya menggandeng tangan Keina dengan mesra.
Awalnya Mama Mirna tidak yakin putranya bisa menerima Keina dengan mudah, mengingat Vano pernah menolak perjodohan itu.
Tapi sepertinya menantu cantiknya itu bisa meluluhkan hati putranya dalam waktu singkat.
"Selamat malam Mah, Pah,," Keina menyapa Mama dan Papa mertuanya.
Pembawaan Keina memang ramah dan ceria, dia juga tipikal orang yang mudah berbaur dengan siapapun dan bisa menempatkan diri dengan baik.
"Malam sayang. Kamu cantik sekali,," Puji Mama Mirna seraya memeluk Keina.
"Pantas saja Vano cepat lengket." Bisiknya pelan.
Keina hampir saja tertawa, tapi dia langsung menahan diri karna tidak mau membuat Papa mertua dan suaminya penasaran dengan apa yang baru saja dibisikkan oleh Mama mertuanya.
"Mama bisa saja." Balasnya.
"Tapi sepertinya memang begitu." Nisa mengulum senyum malu-malu.
"Oh ya.? Bagus dong kalau begitu. Mama dan Papa bisa cepat punya cucu." Nyonya Mirna langsung percaya dengan penuturan palsu Keina. Padahal kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang dia katakan.
Jangan lengket padanya, Vano malah mengibarkan bendera peperangan setiap hari. Membuat Keina merasa sedang menjadi tokoh kartun tom and jerry.
"Cucu dari mana.?" Vano menimpali dengan nada datar. Mendengar kata cucu membuatnya muak.
"Tentu saja dari kamu dan Keina. Memangnya Mama punya anak lagi selain kamu." Jawab Nyonya Mirna cepat.
"Aku belum memikirkan punya anak, jadi jangan membahas soal cucu dalam waktu dekat." Ujar Vano.
Dia melirik tajam pada Keina. Entah apa yang di katakan Keina sampai sang Mama tiba-tiba membahas soal cucu.
"Papa tidak setuju kamu menundanya. Usia kamu sudah cukup matang untuk menjadi seorang ayah." Keinginan Vano langsung di tentang keras oleh kedua orang tuanya. Mereka berdua seperti tidak sabar untuk memiliki cucu. l
"Papa dan Mama ingin cepat-cepat menggendong cucu."
Papa Mahendra berbicara tegas pada putranya.
Sepertinya dia tidak akan membiarkan Vano menunda memiliki anak. Mengingat Vano juga harus punya keturunan agar bisa meneruskan perusahaan mereka
__ADS_1
"Papa dan Mama tidak usah khawatir, Vano hanya bercanda."
"Iya kan sayang.?" Tanya Keina seraya mengukir senyum lebar dan kedipan mata.
"Kemarin Vano bilang padaku kalau dia ingin cepat-cepat punya anak." Ujar Keina lagi. Dia tak menghiraukan tatapan tajam Vano yang mematikan.
"Mama percaya sama kamu,," Mama Mirna tampaknya lebih berpihak pada menantunya. Dia lebih percaya Keina bisa mengabulkan keinginannya untuk cepat-cepat memberikan cucu.
"Sebaiknya kita makan dulu." Papa Mahendra beranjak dari duduknya. Dia mengajak mereka untuk makan malam.
Suasana di meja makan tampak hening. Tidak ada obrolan apapun karna mereka fokus pada makanan masing-masing.
...*****...
"Kalian yakin mau pulang.? Kenapa tidak menginap di sini saja malam ini." Mama Mirna masih berusaha untuk membujuk anak dan menantunya agar menginap.
Sebenarnya Keina sudah setuju untuk menginap, tapi tidak dengan Vano yang justru menolak untuk menginap di rumah orang tuanya sendiri.
"Lain kali saja, aku banyak kerjaan Mah."
"Ayo pulang,," Vano meraih tangan Keina, dia menggandengnya erat.
Vano hanya menganggukkan kepala, berbeda dengan Keina yang mengiyakan.
"Kalau begitu kami pulang dulu Mah, Pah,," Keina pamit sopan pada kedua mertuanya. Keduanya meninggalkan ruang keluarga sembari bergandengan tangan.
Begitu sampai di luar rumah, Keina terlihat meringis kesakitan sembari menatap tangannya yang di cengkram kuat oleh Vano.
"Jangan melewati batas.!! Kamu lupa kalau aku tidak menginginkan pernikahan ini.!!"
"Jangankan memiliki anak darimu.! Menyentuhmu saja aku tidak sudi.!" Setelah puas mencengkram tangan Keina dan mencaci maki, Vano menghempaskan kasar tangan Keina.
Keina tak memusingkan cacian Vano, dia lebih fokus mengusap tangannya yang terasa sakit dan perih.
"Bukan cuma kamu saja yang bisa mengancam, aku juga bisa mengancammu." Ucap Keina tenang.
Lama-lama dia mulai terbiasa menghadapi sikap angkuh dan ucapan pedas Vano.
Tak seperti di awal-awal yang tidak tahan dan ingin melawannya dengan perkataan yang pedas pula.
__ADS_1
"Mama Mirna marah besar kalau tau putranya melakukan kdrt pada istrinya." Ujarnya kemudian melenggang pergi begitu saja.
"Mau kemana kamu.?!" Teriak Vano lantaran Keina melewati mobil miliknya yang terparkir di halaman rumah.
"Pulang. Aku mau tidur di rumah orang tuaku." Jawab Keina tanpa menoleh sedikitpun. Dia memutuskan untuk pulang menggunakan taksi dan tidur di rumah orang tuanya.
Walaupun masih sanggup menghadapi tingkah laku dan ucapan Vano, tapi tetap saja Keina juga perlu menyegarkan pikiran.
Paling tidak sehari saja bernafas tanpa ada Vano di sampingnya.
"Terserah.!" Jawab Vano acuh.
Dia memang tidak peduli Keina mau pergi ataupun pulang ke rumah orang tuanya. Justru dia senang karna malam ini bisa bermalam dengan Sindy di apartemen.
...*****...
"Malam Mah,,," Keina tampak bahagia memasuki rumah orang tuanya, apalagi saat melihat sang Mama yang sudah beberapa hari terkahir tidak dia temui.
"Sayang,, kamu datang sendiri.?" Tanya Mama Rieta yang melihat putrinya masuk ke dalam rumah seorang diri.
"Di antar Vano Mah, tapi hanya sampai depan."
"Dia harus berangkat ke luar kota malam ini, jadi hanya menitipkan pesan saja karna buru-buru." Jawab Keina bohong.
Untuk sementara ini dia masih harus menutupi apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahannya.
Suatu saat akan tiba waktunya dimana semua perlakuan Vano harus dia ungkap di dekan kedua orang tuanya dan orang tua Vano.
...****...
Di tempat yang berbeda, Vano tengah berusaha membujuk Sindy. Kekasihnya itu memang masih marah padanya dengan kejadian di kantor tadi siang.
Dia menganggap kalau Vano telah mengkhianatinya dengan menyentuh Keina.
"Aku benar-benar tidak menyentuhnya sedikitpun. Dia hanya pura-pura untuk membuatmu marah padaku."
"Percaya padaku,, mana mungkin aku mengkhianati kamu,," Vano memohon seraya menggenggam tangan Sindy.
"Aku percaya sama kamu. Tapi sampai kapan Van, sampai kapan aku harus menunggu kalian bercerai.?!" Tangis Sindy pecah. Dia menghambur ke pelukan Vano.
__ADS_1
Impian untuk menikah dengan Vano hancur begitu saja gara-gara Keina.