
"Jangan sengaja dilambatin Vano, aku juga ingi sarapan." Keina menggerutu. Sejak tadi bibirnya terus mengerucut. Seandainya tidak ada imbalan kartu atm, mana mungkin dia bertahan selama ini untuk menyuapi Vano. Belum lagi tingkah Vano yang menjengkelkan itu karna sengaja mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan gerakan lambat. Jadi hanya dengan satu suapan saja bisa menghabiskan waktu beberapa menit.
Mungkin makanan di piring itu baru akan habis 3 jam lagi kalau Vano terus seperti itu.
Dan yang membuat Keina semakin jengkel, Vano terus menatap wajahnya. Pandangannya tak pernah beralih sedikitpun sampai membuat Keina merasa gugup karna terus di pandangi oleh Vano.
Entahlah, apa maksud dari tatapan Vano yang terlihat dalam seperti itu.
"Kalau begitu bawa saja sarapanmu kesini, kamu bisa sarapan sembari menyuapiku." Dengan entengnya Vano mengulas senyum tanpa dosa, padahal dia tau kalau sejak tadi Keina menahan kekesalan akibat ulahnya.
"Iissh,,!! Kau itu menjengkelkan sekali."
"Kalau bukan karna uangmu, aku tidak mau menyuapimu seperti ini.!" Ketus Keina terang-terangan. Dia sama sekali tak takut dengan anggapan Vano jika bicara seperti itu. Karna berani mengakui kalau apa yang dia lakukan saat ini semata-mata hanya demi uang saja.
"Kamu mirip istri durhaka di sinetron burung terbang." Balas Vano acuh. Dia tak mempermasalahkan niat Keina yang hanya ingin menikmati uangnya saja. Lagipula memang sudah seharusnya seorang suami memberikan suang belanja pada istrinya bukan.?
Keina saja yang tidak sadar kalau sebenarnya uang itu bukan imbalan menyuapi makan, tapi kewajiban yang sudah seharusnya Vano berikan padanya.
"Kamu pikir, kamu bukan suami durhaka.?" Balas Keina tak mau kalah.
"Suami yang suka menyiksa istri, berselingkuh di belakang istri. Dan kalau kamu masih ingat, kamu pernah bermain gila dengan Sindy di depan mataku.!"
"Iiiuuhhh,,, menjijikan." Keina melengos sinis. Kalau ingat kejadian itu, rasanya ingin sekali menghajar keduanya. Benar-benar tidak punya malu, seperti binatang saja yang ber cinta di sembarang tempat.
"Jangan di ungkit-ungkit lagi, bukannya aku sudah minta maaf. Aku juga akan memutuskan hubungan dengan Sindy." Lirih Vano yang tampak merasa bersalah dan menyesal atas semua perbuatan buruknya pada Keina.
Setelah di pikir-pikir, rasanya sangat rugi kalau harus meninggalkan Keina. Apalagi dia menjadi yang pertama untuk Keina, dan itu menjadi kebanggaan tersendiri untuknya karna bisa menjadi yang pertama.
Lagipula jika dia berpisah dengan Keina, belum tentu Mama Mirna akan merestuinya menikah dengan Sindy.
"Kamu menyuruh seorang wanita untuk tidak mengungkit-ungkit kesalahan laki-laki.?" Tanya Keina dengan seringai penuh arti.
"Asal kamu tau Vano, wanita itu akan selalu mengungkit satu kesalahan yang di perbuat oleh pasangannya sampai kapanmu. Selama pasangannya masih hidup." Tutur Keina dengan emosi yang menggebu.
Penjelasan Keina membuat Vano menelan ludah dengan susah payah. Ucapan Keina memang benar. Sama halnya dengan Sindy yang juga selalu membahas masalah yang sudah lalu.
Suara ketukan pintu mengakhiri perdebatan keduanya.
"Masuk,,,!!" Jawab Keina seraya menatap ke arah pintu.
Tak lama pintu terbuka dan tampak Mama Dessy bersama Papa Kim masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana keadaan Vano.? Apa demamnya tinggi.?" Tanya Mama Dessy.
__ADS_1
"Tidak Mah, nanti juga turun kalau sudah minum obat." Jawab Keina.
Dia kemudian pura-pura menyuapi Vano lagi.
"Oke ini suapan terakhir, harus di paksakan makan biar bisa minum obat setelah ini." Keina menyeringai penuh kemenangan pada Vano. Kedatangan kedua orang tuanya dia manfaatkan untuk berhenti menyuapi Vano.
Siapa suruh Vano sengaja makan dengan lambat.
Vano hanya diam saja, tidak berani menjawab perkataan Keina. Istrinya itu sangat pandai bersandiwara, kalau dia menjawab ucapan Keina, bisa-bisa akan dibuat malu di depan kedua mertuanya.
"Maaf Mah, Pah, aku tidak ikut sarapan di bawah." Ucap Vano.
"Tidak apa nak Vano, kami mengerti."
"Kalau demamnya tidak turun, panggil dokter saja."
"Papa dan Mama mau pergi dulu, ada urusan."
Keduanya kemudian pamit pada Vano dan Keina. Mereka menyuruh Vano agar istirahat saja di kamar.
"Tunggu Mah, aku juga mau turun." Keina buru-buru mengambil piring dan nampan untuk di bawa ke dapur agar Vano tak minta di suap lagi.
"Kamu tidak apa-apa kan disini dulu.? Aku mau sarapan." Keina bicara sangat manis pada Vano di depan kedua orang tuanya.
...*****...
"Kalian sudah di kantor.?" Tanya Keina begitu panggilan vidionya terhubung dengan Adel dan Rena.
"Hemm,, kita baru sampai." Jawab Rena.
"Apa kamu sedang di rumah.?" Adel tampak mengerutkan kening melihat background Keina yang terlihat sedang berada di ruang makan rumah orang tua Keina.
"Aku sudah siap-siap, tapi si kejam itu malah demam dan aku di larang untuk ke kantor."
"Dan si kejam itu juga menyuruhku untuk menyuapinya.!"
Sembari mencebikkan bibir, Keina mengutarakan Kekesalannya.
"Menjengkelkan sekali." Ujarnya lagi.
Adel dan Rena terkekeh renyah di seberang sana.
"Iisshh.!! Apa-apaan kalian. Tega sekali tertawa di atas penderitaanku."
__ADS_1
"Ya ampun Keina sayang, itu bukan penderitaan namanya, tapi tanggung jawab sebagai istri." Jawab Rena sembari menahan tawa.
"Iya kan Del.?"
"Betul sekali." Adel kembali tertawa.
"Tapi ngomong-ngomong, bagaimana CEO kejam itu bisa sakit.? Aku pikir orang kejam hanya bisa membuat orang lain sakit." Pertanyaan Adel mendapat respon acuh dari Keina. Dia hanya mengedikkan bahu dan malas untuk membicarakan Vano.
"Aku tidak peduli dia mau sakit atau tidak."
"Tapi yang jelas aku sedang senang hari ini karna dia memberikan kartu atmnya padaku." Dengan wajah yang ceria, Keina menunjukkan kartu atm pada Rena dan Adel.
Kedua sahabatnya itu tampak melongo. Pikiran mereka saat ini sama, yaitu penasaran berapa banyak isi kartu atm di tangan Vano.
"Wahh,,, sepertinya kamu punya bakat menguras harta Vano." Ujar Rena.
Begitu juga dengan tanggapan Adel yang tak kalah heboh.
"Aku akan mengajak kalian shoping setelah pulang kantor nanti."
"Kita kuras habis isinya." Ucap Keina yang terlihat sudah tidak sabar untuk menghambur-hamburkan uang milik Vano.
"Ya ampun, kamu ini benar-benar sahabat sejati." Adel dan Rena tertawa bersama.
"Ekheemm,,," Suara deheman Vano reflek membuat Keina mematikan sambungan telfonnya. Dia bahkan belum sempat pamit pada dua sahabatnya itu.
"Sejak kapan kamu disitu.?" Keina menatap Vano yang tengah berdiri tak jauh dari meja makan.
"Sejak kamu bilang tidak peduli aku mau sakit atau tidak." Jawab Vano. Dia berjalan mendekat, membuat Keina tersenyum kikuk padanya.
"Pendengaranmu tajam juga." Ucap Keina salah tingkah. Apalagi posisi Vano semakin dekat dengannya.
"Seharusnya aku menghukummu karna sudah kurang ajar pada suamimu sendiri, tapi berhubung aku sedang berbaik hati, jadi hukumannya ini saja." Vano menahan dagu Keina dan tiba-tiba menyambar bibirnya. Dia juga menahan tengkuk Keina saat Keina berusaha untuk melepaskan diri.
Vano melu mat dan menye sap bibir atas dan bawah secara bergantian dengan gerakan lembut. Dan saat Keina membuka mulut, Vano memasukan lidah dan semakin memperdalam ciumannya.
Melepaskan ciumannya, Vano tersenyum tipis seraya mengusap sudut bibir Keina. Wanita itu tampak syok hanya diam saja menatapnya tanpa kedip.
"Mau lanjut.?" Tanya Vano dengan kedipan mata.
Keina songak melongo tak percaya.
Disaat sedang sakit, Vano sempat-sempatnya berbuat mesum.
__ADS_1