
"Aku akan tetap pergi dan mengurus perceraian." Berucap tegas tanpa keraguan, Keina sudah yakin dengan keputusannya. Tak peduli meski Vano menahan bahkan meminta maaf padanya.
"Asal kamu tau, aku juga tidak berniat mempertahankan pernikahan kita." Tegasnya lagi.
"Apa yang aku lakukan selama ini, sikap baikku dalam mengurus dan menyiapkan keperluanmu, semua itu palsu.!" Menekankan kalimat terakhir, Keina menatap penuh kepuasan. Keina ingin menyadarkan Vano bahwa laki-laki itu tak berarti apapun untuk hidupnya selama pernikahan ini.
Semua kepalsuan itu dia lakukan semata-mata untuk memberikan efek jera pada Vano agar bisa menghargai orang lain. Terutama menghargai wanita yang sudah ditakdirkan menjadi istrinya.
"Aku hanya ingin menjeratmu, membuatmu luluh dan jatuh cinta padaku. Setelah itu, aku akan mencampakkanmu.!" Seru Keina. Tak ada rasa takut sedikitpun dalam mengungkapkan apa yang dia rencanakan selama ini. Vano harus tau bahwa tak semua perempuan tergila-gila dengan ketampanan dan hartanya.
Vano menatap lekat kedua mata Keina, mencari kebohongan dalam sorot matanya. Karna dia merasa jika akhir-akhir ini Keina memang benar-benar memiliki perasaan padanya.
Dengan perhatian yang semakin bertambah, serta permintaan Keina untuk mencoba memulai dari awal dalam kurun waktu 1 bulan. Rasanya tidak mungkin kalau semua itu hanya sandiwara untuk menjeratnya.
"Kau tidak percaya.?" Tanya Keina. Dia seolah bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Vano saat menatapnya.
"Aku memang berniat untuk membuatmu sakit hati. Meninggalkanmu disaat kamu jatuh cinta padaku." Seringai tipis mengembang di bibir Nisa.
"Tapi ternyata aku salah mengenali siapa lawanku."
"Kamu tidak lebih dari seorang lelaki kejam yang tak punya hati. Jadi mana mungkin kamu bisa mencintaiku sedangkan hatimu saja tidak ada.!" Tatapan serta senyum tipis Keina begitu menusuk dada Vano karna terlihat sedang meremehkannya.
"Aku menyerah. Tak perlu menunggumu jatuh cinta padaku, aku akan meninggalkanmu saat ini juga." Serunya tegas. Daripada membuang-buang waktu untuk laki-laki seperti Vano, lebih baik mengakhiri semuanya dan mencari kebahagiaan yang sesungguhnya.
Mendorong tubuh Vano agar bergeser dari depan pintu, Keina menekan kode akses untuk membuka pintu apartemen.
Saat akan keluar, Vano menahan pergelangan tangan Keina. Wanita itu bergegas berbalik badan, mencoba menarik tangannya dari genggaman Vano.
"Lepas Vano. Tidak perlu pura-pura menahanku." Sinis Keina. Namun laki-laki itu tak menghiraukan ucapannya. Tatapan matanya begitu dalam, menatap lekat kedua manik mata Keina. Masih berusaha untuk mencari kebohongan di mata indah itu, sayangnya Keina tak terlihat sedang berbohong.
"Kalau kamu hanya berpura-pura memiliki perasaan padaku, lalu kenapa bersedia memberikannya untukku.?" Tanya Vano. Nada bicaranya terdengar dalam.
Itu yang membuat Vano tidak percaya kalau selama ini Keina hanya pura-pura padanya. Sedangkan 1 jam yang lalu Keina baru saja memberikan sesuatu yang berharga padanya.
__ADS_1
Sesuatu yang pada akhirnya membuat dia sadar begitu besar ketulusan dan pengorbanan yang telah diberikan oleh Keina padanya.
Bahkan meski dulu dia sempat berbuat kasar pada wanita cantik itu, Keina masih bersedia untuk memberikan mahkotanya.
"Aku rasa kamu jauh lebih paham, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lebih dalam." Sahut Keina.
"Laki-laki dan perempuan tak membutuhkan cinta untuk ber cinta, bukannya begitu.?"
"Anggap saja sebagai hadiah perpisahan untukmu, yang mungkin tidak akan bisa kamu lupakan seumur hidupmu." Keina mengukir senyum santai. Perlahan satu tangannya menyingkirkan genggam Vano tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah tampan itu.
Vano hampir tak percaya dengan semua perkataan Keina. Entah kenapa dadanya semakin terasa sesak saja. Rasanya tidak terima kalau Keina memberikan mahkotanya secara cuma-cuma tanpa ada perasaan apapun padanya.
"Sudah aku bilang, aku tidak akan mengijinkan kamu pergi." Menarik tangan Keina, dia membawa wanita itu masuk kembali ke dalam apartemen.
Vano bahkan sampai mengubah kode akses dan tidak membiarkan Keina untuk melihat angka yang dia tekan.
"Jangan egois Vano. Untuk apa menahanku disini.?!" Keina tampak geram. Dia tak menyangka Vano akan menahannya sampai mengganti kode akses agar dia tidak bisa keluar.
"Sekarang sudah larut malam, bahaya kalau pergi sendirian."
"Sejak kapan kamu peduli padaku.?" Tanyanya dengan nada menyindir.
"Lagipula akan lebih bahanya kalau aku tetap di sini bersamamu."
"Kamu mengerikan." Cibir Keina penuh penekanan.
"Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas kamu tidak akan bisa keluar dari sini." Sahut Vano pelan. Dia kemudian berlalu dari hadapan Keina.
Hal itu sontak membuat Keina semakin emosi.
"Berhenti Vano.!! Bukakan pintunya atau aku akan menelfon Mama Mirna kalau kau sedang menyiksaku disini.!!" Ancam Keina. Dia sampai mengejar langkah Vano dan mendaratkan pukulan di punggung lebar Vano.
"Sepertinya malah aku yang sedang di siksa." Sahut Vano santai. Padahal pukulan Keina cukup meninggalkan rasa nyeri di punggungnya.
__ADS_1
"Aku serius Vano.! Kamu pikir aku akan tinggal diam.?!"
"Aku akan membenturkan kepalaku di sudut meja, mereka pasti yakin kalau kamu telah menyiksaku."
Tak ada cara lain selain nekat dengan melakukan hal bodoh. Dia sudah terlanjur kesal pada Vano dan malas untuk tinggal bersamanya lagi.
"Keina,, apa yang kamu lakukan.!" Vano menggagalkan rencana Keina. Dia menahan tubuh Keina yang hampir membenturkan kepalanya di meja ruang keluarga.
Mana mungkin dia akan membiarkan wanita itu terluka.
"Kamu mau ke rumah orang tuamu.? Aku akan mengatarmu sekarang. Tidak perlu melakukan hal gila seperi ini.!" Bentak Vano.
Keina terkekeh sinis.
"Kau pikir siapa yang sudah membuatku sampai nekat seperti ini.?" Cibir Kiena geram.
"Tidak perlu di antar, aku bisa pulang sendiri."
"Aku tau dimana alamat rumahku dan tau bagaimana cara memesan taksi."
"Kamu hanya perlu membukakan pintunya.!" Tegasnya.
"Tidak ada bantahan ataupun negosiasi, aku akan mengantarmu.!" Tegas Vano. Dia pergi ke kamarnya untuk mengambil dompet dan kunci mobilnya.
Sementara itu, Keina sudah menunggu di samping pintu. Sampai Vano kembali dari kamar dan membukakan pintu, Keina berniat untuk lari saat itu juga.
Sayangnya Vano malah menggandeng erat tangan kanan Keina, seolah bisa menebak apa yang akan di lakukan Keina setelah pintu terbuka.
"Lepas, kamu pikir aku anak kecil harus di gandeng seperti ini.?" Protes Keina setelah keluar dari kamar.
"Lagipula ini apartemen dsn sangat sepi, aku tidak akan hilang meski kau tak menggandengku." Ujarnya setengah mencibir.
"Memang tidak akan hilang, tapi kamu pasti akan kabur.!" Sahut Vano cepat. Kedua bola mata Keina langsung membulat sempurna.
__ADS_1
Vano benar-benar tau apa yang ada di dalam pikirannya. Pantas saja genggaman tangannya sangat erat. Bahkan menariknya untuk mendekat setiap kali berjalan menjauh.