
"Keina,,," Hanya suara lirih yang keluar dari bibir Vano. Di liriknya wanita yang tengah membuang pandangan keluar jendela. Wanita yang sejak masuk ke dalam mobil tak mau berbicara dan enggan menatapnya.
Keina tak menyahut. Dia memilih diam karna sudah malas berbicara dengan Vano.
Sejujurnya memang tidak sakit hati pada Vano, karna belum ada cinta dihatinya untuk laki-laki itu. Hanya saja dia merasa kecewa karna merasa bahwa Vano tidak menghargainya di saat dia sudah menyerahkan kesuciannya.
Vano justru menyuruhnya untuk mengakui pada Sindy bahwa mereka tidak melakukan apapun.
"Aku benar-benar minta maaf." Suara lirih itu terdengar tulus dan penuh sesal.
"Kita bisa bicarakan lagi baik-baik. Aku tidak mau kita bercerai." Pintanya memohon.
Mungkin saat ini Keina menganggapnya sedang berbohong karna terlalu cepat berubah pikiran.
Sedangkan beberapa minggu yang lalu Vano masih bersikeras minta Keina agar mau mengajukan gugatan perceraian.
Ucapan Vano terdengar menggelitik hingga membuat Keina tertarik untuk menanggapinya.
Dia melempar senyum kecut setelah menatap laki-laki yang masih menjadi suaminya itu.
"Kamu pikir sejak awal kita menikah aku tidak berusaha bicara baik-baik padamu.?" Tanya Keina dengan nada bicara yang mulai meninggi di akhir kalimat.
"Aku sudah berusaha untuk mempertahankan pernikahan kita meski hanya di jodohkan. Tapi apa yang kamu lakukan.?" Keina mengukir senyum getir.
"Kamu terus memaksaku untuk mengajukan perceraian.!"
"Sekarang disaat aku ingin mengabulkan permintaanmu, kenapa tiba-tiba kamu melarangnya.?!" Keina sedikit berteriak. Hal itu membuat Vano menepikan mobilnya.
"Jangan egois Vano.! Harusnya kamu bersyukur karna aku tidak mengadukan perbuatan kasarmu pada kedua orang tua kita."
"Jadi biarkan aku mengakhiri semuanya.!" Tegas Keina.
Sejak tadi Vano memang diam karna memberikan kesempatan pada Keina untuk mengutarakan kekesalan padanya. Dia tak menyela ucapan Keina dan membiarkan Keina menyelesaikan apa yang ingin dia katakan padanya.
Di bawah lampu tamaram jalan, Vano menatap lekat wajah Keina tanpa mengatakan apapun.
Keduanya hanya diam saling menatap hingga beberapa saat.
"Aku mencintaimu,," Ucap Vano dengan tatapan dalam. Bukan sebuah kebohongan, apa yang dia ucapkan datang dari hatinya sendiri. Dia bahkan tidak tau sejak kapan perasaan itu hadir dalam hatinya. Yang jelas, dia terluka ketika melihat Keina menangis. Dan itu tak pernah dia rasakan ketika melihat Sindy menangis. Hanya ada perasaan tidak tega dan kasihan setiap kali melihat Sindy menangis. Berbeda ketika Keina menangis dan mengungkapkan kekecewaan padanya. Hatinya terasa sakit, seolah ada ribuan benda tajam yang menusuk dadanya.
__ADS_1
"Omong kosong.!" Cibir Keina tak percaya. Beberapa jam yang lalu Vano masih bersikap seenaknya, dan sekarang dengan gampangnya Vano mengungkapkan cinta padanya. Siapa yang bisa mempercayainya.?
“Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya.?" Tanya Vano. Suaranya lirih, sangat lembut penuh kesabaran.
"Kamu ingin aku mengakhiri hubungan dengan Sindy.? Aku akan menelfonnya dan mengakhiri hubungan kami." Vano merogoh ponsel didalam saku celananya.
Sementara itu, Keina hanya tersenyum sinis karna sama sekali tidak percaya dengan keseriusan Vano dalam mengungkapkan cinta padanya.
Memilih diam, Keina membiarkan Vano menelfon Sindy. Dia ingin melihat sejauh mana Vano bersandiwara untuk meyakinkan dirinya.
"Ponselnya tidak bisa di hubungi." Ucap Vano memberi tau. Raut wajahnya tampak kecewa.
Keina tidak merespon, lagipula dia masih bisa mendengar suara call center yang memberitahukan kalau nomor ponsel Sindy tidak bisa di hubungi.
"Kita akan ke apartemennya sekarang." Kaya Vano setelah menyimpan kembali ponselnya. Dia bergegas menyalakan mobil. Vano ingin masalah mereka selesai saat ini juga agar tidak berlarut-larut. Dan berharap setelah itu Keina akan mengurungkan niatnya untuk mengajukan perceraian.
"Tidak perlu.! Aku ingin pulang sekarang juga.!" Dengan tegas Keina menolak tegas. Dia tak mau di seret-seret dalam hubungan Vano dan Sindy.
Jika Vano ingin mengakhiri hubungannya dengan Sindy, seharusnya hanya menyelesaikan berdua tanpa harus melibatkan dirinya.
"Tapi Keina,, kamu harus tau kalau aku serius akan mengakhiri hubungan dengan Sindy." Ucap Vano sungguh-sungguh.
"Kalau kamu mau menyelesaikan masalah kalian, turunkan aku saja disini. Aku akan pulang sendiri." Keina berusaha membuka pintu, sayangnya Vano mengunci pintu mobilnya.
"Aku akan mengantarmu pulang." Sahut Vano pasrah. Dia melajukan mobilnya, terlihat tidak bersemangat dan memilih diam menatap lurus ke depan.
Seketika suasana di dalam mobil kembali hening sampai mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman rumah orang tua Keina.
Keina bergegas turun dari mobil tanpa mengatakan apapun. Dia berjalan cepat ke arah pintu dan menekan bel berulang kali hingga tak lama asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya.
"Non Keina,,? Apa ada sesuatu.?" Tanyanya panik. Masalahnya Keina datang pukul setengah 12 malam, di tambah raut wajah Keina yang tampak sendu. Asisten rumah tangga itu jadi berfikir macam-macam, takut sesuatu terjadi pada anak majikannya itu.
"Tidak ada Mba Dewi, aku hanya ingin pulang."
"Apa Mama dan Papa sudah tidur.?" Tanya Keina yang kemudian bergegas masuk.
"Mereka baru saja masuk ke kamar Non,," Jawabnya.
Keina hanya mengangguk dan bergegas pamit untuk pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Sementara itu, Mba Dewi yang hendak menutup pintu mengurungkan niat saat melihat suami Keina berjalan ke arahnya dengan buru-buru.
"Malam Mba,," Sapa Vano. Dia tersenyum tipis seraya mengangguk kecil dan masuk ke dalam rumah untuk menyusul Keina.
Tidak peduli Keina akan mengusirnya, yang terpenting dia harus ada di samping Keina dan bisa memberikan penjelasan jika kedua orang tua Keina menanyakan kondisi putrinya yang tiba-tiba datang tengah malam.
"Ponsel Mama ketinggalan di bawah Pah,," Ujar Mama Dessy yang baru saja naik ke atas ranjang, dia lalu turun kembali dan berniat ke lantai bawah untuk mengambil ponselnya.
Saat keluar dari kamar, Mama Dessy melihat putrinya masuk ke dalam kamar dengan buru-buru dan langsung menutup pintu.
"Keina.? Kenapa dia datang malam-malam begini." Gumam Mama Dessy lirih. Dia lalu memutuskan untuk menghampiri putrinya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun belum sempat sampai di depan kamar Keina, Mama Dessy melihat Vano berdiri di depan pintu kamar dan mengetuknya pelan.
"Keina,, bukan pintunya,," Vano bicara lirih karna takut mengganggu penghuni rumah yang sedang tidur.
"Nak Vano,, ada apa ini.?" Tanya Mama Dessy yang kini sudah berdiri di samping Vano.
Vano menoleh, dia tampak cemas.
"Malam Mah, maaf kalau mengganggu istirahat Mama." Ucap Vano seraya membungkuk sopan.
"Apa kalian bertengkar.?" Tebak Mama Dessy.
Vano mengangguk cepat.
"Ada sedikit kesalahpahaman. Saya akan bicara pada Keina dan membujuknya." Tutur Vano.
Mama Dessy tampak menarik nafas dalam. Dia sangat menyayangkan hal ini, namun dia juga tak bisa melakukan apapun karna tidak berhak untuk ikut campur. Setidaknya dia akan membiarkan Vano dan Kiena menyelesaikan masalahnya berdua, tapi jika masalah itu tak bisa diselesaikan berdua, maka dia akan turun tangan untuk menjadi penengah.
"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur saja di kamar sebelah. Bicarakan lagi besok pagi, kelihatannya Keina juga sudah lelah." Ujar Mama Dessy.
Dia juga yakin kalau putrinya itu tak akan membukakan pintu kamarnya.
"Iya Mah,, terimakasih,,"
Vano mendengarkan perkataan Mama mertuanya.
Sepertinya memang harus memberikan waktu pada Keina untuk menenangkan diri.
__ADS_1