
"Sindy, aku minta maaf kalau harus menyampaikan hal ini lagi padamu." Vano tampak serius menatap wanjta yang beberapa tahun terakhir mengisi hati dan hari-harinya. Namun beberapa minggu yang lalu wanita itu tak bertahta lagi di hatinya. Dia sendiri bahkan bingung kemana perginya perasaan itu.
"Apa yang aku katakan padamu di telfon adalah keputusan yang sudah aku buat dengan memikirkannya matang-matang." Tuturnya lirih. Ada perasaan iba dan rasa bersalah yang menyelimuti. Vano merasa telah membuang Sindy begitu saja setelah apa yang sudah mereka lewati bersama selama ini.
Namun ini adalah keputusan tepat yang sudah dia pikirkan matang-matang. Apalagi dia mulai menyadari bahwa selama ini hanya terobsesi pada Sindy dan juga karna nafsu belaka.
"Van,, apa yang kamu katakan." Raut wajh Sindy berubah sendu.
"Maaf Sindy, hubungan kita salah meski kita sudah lama bersama sejak pernikahanku dan Keina terjadi."
"Aku harap kamu bisa menerima keputusanku dan kedepan kamu bisa hidup bersama laki-laki yang tulus mencintaimu." Ujarnya. Mungkin akan menyakitkan untuk Sindy, tapi Vano juga tidak bisa mempertahankan hubungan mereka. Dia sadar siapa yang dia inginkan untuk ada di hidupnya.
Sedangkan Sindy hanyalah orang yang dia butuhkan saat itu untuk memenuhi hasratnya semata.
Sorot mata Sindy di penuhi amarah, dia tidak terima Vano membuangnya begitu saja dan lebih memilih Keina.
"Aku ingin mengakhiri samuanya dan menjalani kehidupanku bersamanya." Vano meraih tangan Keina dan menggenggamnya. Keina mengukir, dia terharu karna Vano benar-benar menepati janjinya.
Hal ini membuat Keina yakin bahwa Vano memang mencintainya.
"Kamu tidak bisa memutuskan hubungan kita begitu saja Vano. Setelah apa yang aku berikan padamu.!"
"Wanita ini, pasti dia sudah meracuni otakmu.!" Sinisnya. Tanpa di duga, Sindy mengmbil minuman di depan Vano dan menyiramkannya ke wajah Keina.
"Sindy.!!" Bentak Vano dengan mata yang memerah. Dia lansung mencengkram kuat pergelangan tangan Sindy.
"Kamu membelanya.! Membela wanita yang sudah menghancurkan hubungan kita.?!" Teriak Sindy.
"Apa kamu lupa berapa banyak waktu yang kita habiskan bersama di atas ranjang.! Sekarang kamu membuangku begitu saja.!" Sindy menarik kasar tangannya dari genggaman Vano.
"Nyatanya buka hanya aku laki-laki yang menghabiskan malam dengamu.! Aku tau selama ini kamu berselingkuh dariku.!" Ucapan Vano membuat Sindy gelagapan.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak ingin semua fasilitas yang sudah aku berikan di tarik lagi, pergi dari hadapanku dan jengan pernah muncul lagi.!" Ancam Vano dengan sorot mata tajam.
Tentu saja Sindy memilih pergi dari sana karna tidak mau semua barang pemberian Vano di tarik lagi.
"Aku tidak akan tinggal diam.!" Sinisnya pada Keina sebelum pergi dari sana.
Sementara itu, Vano membatu menyeka air di wajah Keina. Dia juga melepaskan jaketnya dan memakaikannya di tubuh Keina lantaran bajunya basah.
"Maaf, kamu jadi basah seperti ini." Ucap Vano. Keina hanya menggelengkan kepala.
"Ayo pulang sekarang." Ajak Keina. Vano mengangguk dan membantu Keina membawakan barang belanjaannya. Dia tau istrinya itu pasti sedih dan malu karna mendapatkan perlakuan buruk dari Sindy. Itu sebabnya Keina meminta untuk pulang.
"Aku sudah tidak sabar ingin mencoba sepatu dan baju baru." Ujar Keina begitu keluar dari restoran.
Wajah Keina tampak berninar, tidak seperti tadi yang memasang wajah sendu.
"Apa.?!" Pekik Vano kaget.
Mereka baru saja melewati situasi yang menegangkan beberapa menit lalu, tapi Keina bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Memangnya kamu pikir aku ingin pulang karna mau menangis gara-gara mendapatkan siraman dari roh halus.?" Ujar Keina.
"Sebenarnya aku bisa saja balas menyiram wanita murahan itu, tapi ini di tempat umum, aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri di depan orang lain."
"Ngomong-ngomong soal fasilitas yang kamu berikan pada Sindy, apa kamu tidak mau memberikan fasilitas yang sama padaku.?" Keina mengedipkan sebelah matanya.
Antara geram dan gemas, Vano mengapit leher Keina di ketiaknya.
"Dasar mata duitan.!" Ujarnya seraya menahan tawa.
"Vano lepas.!" Teriak Keina. Dia tidak bisa berkutik karna di dekap di bagian lehernya.
__ADS_1
"Awas saja kamu, jangan harap nanti malam bisa melarikan diri." Bisik Vano yang kemudian melepaskan Keina.
Wanita cantik itu terdiam, seketika otak mesumnya berkelana kemana-mana.
Sepertinya dia harus selalu siapa kapanpun dan dimanapun untuk melihat burung besar itu.
...*****...
"Kamu sudah sembuh Van.?" Tanya Papa Kim saat bergabung di meja makan.
"Sudah Pah, Keina memberiku obat yang mujarab. Hanya satu kali makan langsung sembuh." Vano menjawab pertanyaan papa mertuanya seraya melirik Keina yang duduk di sebelahnya.
Kedua mata Keina melotot akibat jawaban gila. yang keluar dari mulut Vano. Dia berharap kedua orang tuanya tidak paham dengan maksud Vano.
"Oh ya.? Obat apa itu.?" Papa Kim menatap putrinya. Dari tatapan matanya, sepertinya Papa Kim benar-benar tidak tau kemana arah ucapan Vano yang sebenarnya.
"Tidak Pah, aku hanya memberinya obat penurun panas yang ada di rumah." Jawab Keina tenang, namun tidak setenang kakinya yang langsung menginjak kaki Vano lantaran sudah bicara sembarangan di depan kedua orang tuanya.
"Aaww.." Pekik Vano. Dia tidak menyangka Keina akan menginjak kakinya.
"Kenapa nak Vano.?" Mama Dessy menatap heran melihat Vano yang tiba-tiba berteriak.
"Kaki saya kram,," Jawab Vano.
Keina mengukir senyum puas, tapi sesaat senyumnya hilang saat tangan Vano meraba pahanya dengan gerakan sedikit mere mas.
Sontak Keina membulatkan matanya. Vano benar-benar gila karna berani berbuat mesum di ruang makan, sedangkan ada kedua mertuanya disana.
...***...
Rekomendasi novel "Lahirnya Sang Pewaris". Jangan lupa mampir juga ya, ada di profil othor😘
__ADS_1