
Malam itu kegiatan suami istri telah di lakukan oleh Vano dan Keina untuk pertama kalinya sejak 1 bulan lebih pernikahan mereka.
Kini suasana kamar cukup hening selepas pergulatan panas yang di akhiri dengan erangan kenik matan dari bibir keduanya.
Keina menutup tubuh polosnya hingga sebatas leher, sementara itu Vano hanya menutupi tubuh bagian bawahnya saja seraya duduk menyenderkan punggung pada kepala ranjang.
Jarinya mengusap bibir yang baru terasa perih. Dia sadar saat itu di bibirnya di gigit oleh Keina. Namun rasa sakitnya kalah dari keinginannya yang menggebu untuk melakukan penyatuan.
"Maaf,, aku tidak sengaja,," Ucap Keina yang tengah melihat Vano mengusap bibirnya yang berdarah.
Dia jadi merasa bersalah telah menggigit bibir Vano hingga mengeluarkan darah.
"Biar aku obati,," Dia handak turun dari ranjang untuk mengambil kotak obat, namun Vano mencekal tangannya.
"Tidak perlu." Cegah Vano.
"Diam saja disini." Tambahnya yang kemudian melepaskan tangan Keina dan dia sendiri justru turun dari ranjang dalam keadaan tanpa busana. Sontak Keina memalingkan wajah, malu melihat tubuh polos Vano hingga membuat wajahnya terasa menghangat.
Setelah melihat Vano memakai celana pendeknya, Keina baru berani menatap ke arahnya lagi. Memperhatikan lelaki gagah itu yang sedang berjalan ke arah kamar mandi.
Meletakkan tangan di atas dadanya, Keina merasakan jantungnya bergemuruh. Bayangan tubuh gagah Vano yang bergerak semangat di atasnya, terus berputar-putar di ingatan.
Rasa sakit dan perih di bagian intinya terkikis dengan kenikmatan yang di berikan oleh Vano.
Membuat naluri wanita dewasanya keluar dan menikmati pergumulan panasnya.
"Aku bisa menempel terus padanya kalau seperti ini." Senyum malu terbit di bibir Keina. Tak mau munafik, kegiatan yang baru pertama kali dia lakukan itu benar-benar membuatnya terus terbayang. Meski tau Melak semua itu tanpa saling mencintai, tapi tak bisa mengurangi kenikmatan yang baru kali ini dia dapatkan.
"Oke,, tenang Keina, ingat dengan misimu." Kembali bergumam, Keina menepis apa yang baru saja terlintas dalam benaknya. Tak mau dia duluan yang jatuh cinta pada Vano.
"Apa dia masih lama.?" Keina menatap ke arah ruangan kamar mandi. Dia berinisiatif untuk mengobati luka di bibir Vano meski tadi sempat di larang. Ini akan menjadi kesempatan bagus untuknya supaya Vano bisa melihat dan merasakan sendiri seberapa perhatiannya dia pada Vano.
"Aww,, ya ampun rasanya perih dan sakit." Keina meringis kesakitan saat turun dari ranjang. Akibat penyatuan paksa itu serta benda yang cukup besar, Keina yakin ada luka robek pada area intinya. Dan itu benar-benar sangat perih sampai membuatnya harus menahan sakit hanya untuk melangkah.
Selesai memakai pakaian lengkap, Keina beranjak keluar untuk mengambil kotak obat. Dan layaknya seorang istri yang sangat melayani suaminya, Keina juga tak lupa membuatkan teh hangat untuk Vano. Setelah mengeluarkan banyak kalori akibat bekerja keras di atas ranjang, Vano pasti cukup kehabisan tenaga. Setidaknya minuman manis akan sedikit mengembalikan tenaganya.
__ADS_1
Saat masuk ke dalam kamar, Vano tampak baru keluar dari kamar mandi dengan badan yang lebih segar dan rambut setengah basah.
Keina sempat diam di tempat, terlihat heran melihat Vano yang sepertinya baru selesai mandi.
"Kamu mandi.? Ini jam 11 malam Vano,," Ucap Keina.
"Gerah. Aku tidak betah berkeringat." Menjawab datar, Vano beranjak ke arah ranjang dan mengambil ponselnya.
"Aku buatkan teh untuk kamu. Kemari, biar sekalian aku obati lukanya." Panggilnya yang kini sudah meletakkan teh di atas meja dan duduk di sofa.
"Tidak lucu kalau besok pagi bibir kamu bengkak. Apa kata karyawanmu nanti." Sedikit menahan tawa, antara lucu menayangkan bentuk bibir Van9 sekarang, tapi dia juga kasihan padanya.
Tak ada jawaban, Vano hanya menoleh. Menatap tanpa kata dan terlihat ragu-ragu untuk menghampiri Keina. Sedangkan ada puluhan pesan masuk dari Sindy yang harus dia baca.
Kekasihnya itu pasti akan merah besar padanya karna dia tak menepati janji, dan menghilang tanpa kabar selama berjam-jam dengan tak menjawab panggilan serta pesan darinya.
"Ayo buruan, aku cuma ingin mengobati lukanya karna itu salahku. Jadi aku harus bertanggungjawab, setidaknya membantu mengoleskan salep di bibirmu." Kata Keya. Wanita cantik itu sampai menggerakan tangannya sebagai isyarat agar Vano mendekat.
"Hemm." Hanya deheman yang keluar dari lelaki tampan berekspresi dingin itu.
Tubuh tegap dan tingginya beranjak dari ranjang, berjalan ke arah Keina dengan ponsel yang masih dia genggam.
Vano meneguknya, tak ada ucapan terimakasih pada wanita yang telah menyuguhkan teh dengan cita rasa paling enak menurutnya.
"Aku tidak sempat pakai pengaman, besok jangan lupa beli pil kontrasepsi."
Keina tersentak, ada amarah dan kecewa atas ucapan Vano yang terasa menusuk hati.
Sebenarnya tanpa Vano minta sekalipun, Keina memang akan meminum pil penunda kehamilan.
Namun dia tak meyangka Vano akan menyuruhnya secepat itu.
"Jangan khawatir, aku akan membelinya besok pagi." Bersikap tenang seolah tidak geram pada Vano, Keina mulai membuka salep dan mengoleskannya di bibir Vano yang luka.
"Sakit ya.?" Keina ikut meringis saat melihat Vano meringis kesakitan.
__ADS_1
"Menurutmu.?!"
Keina langsung mengedikkan bahu.
"Kalau aku tau, tidak mungkin aku tanya padamu." Jawabnya tak kalah ketus.
Jawaban Keina membuat Vano melirik tajam.
"Lain kali jangan menggigit bibir.!" Tegurnya. Entah seperti apa rasanya digigit dibagian bibir sampai berdarah, hingga Vano terlihat sangat kesakitan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menggigit tanganmu saja nanti."
Plaakk
Sebuah tepukan mendarat di kening Keina.
"Gigit tanganmu sendiri saja.!" Kata Vano kesal.
"Iissh,,! Sudah di obati malah mukul." Keina menggerutu. Diletakkannya salep itu kedalam kotak dengan kasar.
Keina hendak beranjak, namun bunyi dering ponsel Vano membuatnya mengurungkan niat karna ingin tau siapa yang menelfon Vano malam-malam begini.
"Ya, hallo,,"
"Kamu kemana saja.? Kenapa baru bisa mengangkat telfonku.?!"
"Kamu pasti sedang bersenang-senang dengan wanita sialan itu kan.?!!"
Meski pelan, Keina mendengar jelas suara wanita dari seberang sana karna dia duduk di samping Vano.
Kesal di sebut sialan oleh Sindy, Keina membulatkan mata dengan kedua tangan yang mengepal.
"Sayang,, telfon dari siapa.? Ini sudah malam, ayo tidur lagi,," Dengan suara yang di buat serak, Keina sengaja berbicara kencang di dekat ponsel yang tengah di pegang oleh Vano.
Ulahnya tentu saja membuat Vano mendelik tajam. Tapi sebelum mendapat teguran dari Vano, Keina memilih pergi dari sana. Berjalan cepat meski harus menahan perih pada area intinya.
__ADS_1
Dia keluar dari kamar Vano tanpa menutup pintunya kembali.
"Sukurin.!! Makan tuh ocehan wanita gatel.!!" Gerutu Keina sebelum masuk ke kamarnya. Dia yakin saat ini Sindy semakin naik darah setelah mendengarnya berbicara sangat mesra dan manja pada Vano.