Meluluhkan Hati CEO Kejam

Meluluhkan Hati CEO Kejam
Bab 51


__ADS_3

"Aah,,, Vano,," Wajah Keina memerah dengan hasrat yang sudah memuncah. Kedua tangannya meremas rambut Vano yang ada di bawah sana.


Awalnya Keina pikir Vano sudah gila saat akan melakukan hal itu. Tapi begitu lidah tak bertulang Vano menjelajahi lembahnya, dia dibuat panas dingin dan menegang.


Beberapa skincare dan make up di meja rias itu bahkan berjatuhan ke lantai karna tanpa sengaja terdorong oleh badan Keina yang bergerak liar.


De sa han dari bibir Keina membuat Vano semakin bersemangat. Dia menunjukkan bakatnya dalam bermain lidah yang mampu memporak porandakan pertahan Keina. Wanita yang awalnya menolak itu, kini justru menekan kepalanya dengan kuat seolah tidak rela sentuhan penuh kenikmatan itu capat-cepat berakhir.


Suara seksi Keina terus memenuhi ruang walk in closet. Tak peduli dengan gengsi dan malu, Keina terus mengekspresikan kenikmatan luar biasa yang sedang mengalir di seluruh tubuhnya.


Vano memang pemain handal, entah harus senang atau kesal mengingat jam terbang Vano yang tinggi dengan Sindy selama ini.


Tapi Keina berusaha untuk tidak mengingat hubungan Vano dan Sindy yang telah berakhir.


"Hentikan Vano, a,,aaku,,," Keina menggigit bibir bawahnya, dia menahan sesuatu yang terasa akan meledak. Keina berusaha menjauhkan kepala Vano namun Vano malah memegangi kedua tangan Keina hingga tak bisa lagi menghentikan ulah Vano yang semakin menggila.


Keina tak bisa lagi membendung rasa nikmat yang mampu menutup akal sehatnya. Dia mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya bersamaan dengan erangan panjang dan tubuhnya yang bergetar.


Vano menghentikan kegiatannya setelah memastikan Keina sudah selesai mendapatkan pelepasan.


Laki-laki itu menegakkan badannya dan tersenyum melihat nafas Keina yang masih tersenggal dengan wajah berkabut sisa gairah.


"Sekarang giliranku." Kata Vano yang langsung menggendong tubuh polos Keina dan membawanya ke ranjang.


Keina tampak bingung saat Vano memintanya untuk bergerak di atas tubuh berotot itu. Dia tidak berpengalaman, dan tentu saja tak paham bagaimana caranya bergerak dalam posisi seperti itu.


"Harus bagaimana.? Aku tidak mengerti." Ekspresi wajah Keina yang kebingungan justru membuat Vano. terkekeh geli. Antara senang tak habis pikir bisa mendapatkan istri sepolos Keina yang tak tau tentang ber cinta.

__ADS_1


"Terserah, yang menurutmu enak saja. Asal jangan diam seperti ini." Tuturnya. Vano memberikan kebebasan untuk mencoba sendiri. Membiarkan Keina bereksperimen dengan berbagai macam gerakan yang coba.


Keina berfikir sejak dengan menahan gelayar nikmat akibat merasakan penuh pada bagian intinya. Perlahan instingnya mulai bekerja. Pelan tapi pasti, Keina mencoba bergerak di atas sana.


Gerakan demi gerakan mampu memberikan sensasi tersendiri. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar tak meloloskan de sa han.


Sementara itu hal yang serupa juga di rasakan oleh Vano. Kenikmatan mulai menjalar ke seluruh tubuh setiap Keina bergerak.


Vano memilih bangun dengan posisi duduk, kedua tangannya meraba punggung Keina, sedangkan mulutnya tak bisa diam memainkan dan melahap bergantian dua bukit besar di hadapan matanya.


Hal itu membuat gerakan Keina semakin tak terkendali.


Mereka berdua hanyut dalam arus kenikmatan dunia. Menyingkirkan segala permasalahan yang ada dan hanya fokus untuk merengkuh kenikmatan bersama.


Lenguhan panjang dari bibir keduanya mengakhiri permainan panas mereka. Untuk kedua kalinya Keina mendapatkan pelepasan. Tubuhnya seketika ambruk di atas Vano. Tenaganya terkuras habis setelah hampir 25 menit bergerak liar mengejar kenikmatan terbesar.


"Sepertinya kamu cukup berbakat." Bisik Vano di sela-sela nafasnya yang masih memburu.


"Bagaimana kalau membuat ronde ke dua setelah. 15 menit.?" Laki-laki itu menggoda Keina dan seketika mendapatkan pukulan di dada bidangnya.


"Jangan gila, aku sudah kehabisan tenaga." Sahut Keina dengar suara yang terdengar lemas. Dia menyingkir dari atas Vano, berbaring di tempatnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.


"Aku ingin tidur sekarang, jangan menganggu ku atau nanti akan ada singa mengamuk." Keina memberikan peringatan pada Vano sebelum dia memejamkan mata dengan posisi ter lentang.


Vano tampak menggeleng heran, tapi dia membiarkan Keina tidur lantaran istrinya itu benar-benar kehilangan seluruh tenaganya.


...******...

__ADS_1


"Kenapa pulang sepagi ini.? Besok kan masih weekend, nanti sore saja pulangnya." Mama Dessy mencegah Keina dan Vano yang akan pulang ke apartemen selesai sarapan.


"Sebenarnya aku dan Keina akan membereskan barang-barang karna besok pagi akan pindah rumah." Ucapan Vano membuat Keina menatap terkejut. Tiba-tiba saja Vano mengatakan akan pindah rumah, padahal sebelumnya tak ada pembahasan apapun soal pindah rumah.


"Pindah rumah.? Kenapa mendadak.?" Tanya Keina. Pertanyaan mewakili Mama Dessy dan Papa Kim yang juga ingin tau hal itu.


"Tidak mendadak Keina, tapi surprise." Ujar Vano seraya mengukir senyum.


"Rumah itu baru selesai di renovasi dan sekarang sudah bisa kita tempati." Tuturnya. Tentu saja Keina tidak percaya dengan alasan Vano.


Jangankan untuk merencanakan pindah ke hunian yang lebih luas, selama ini Vano hanya berfikir untuk mengakui pernikahan mereka.


Jadi alasan surprise itu tak masuk akal.


Vano baru mengajaknya pindah ke rumah pribadinya pasti karna hubungan mereka kink membaik akan memulainya dari awal.


"Ya sudah, kalau begitu pulang saja."


"Kalau kalian butuh bantuan, bawa saja 2 pekerja disini untuk ikut membereskan barang-barang di apartemen." Ujar Papa Kim memberikan masukan.


Vano tampak mempertimbangkannya dan pada akhirnya setuju untuk membawa 2 pekerja di rumah Keina agar bisa membantunya berkemas.


"Kenapa mendadak.? Aku bahkan belum menyetujuinya." Ucap Keina ketika keluar dari rumah orang tuanya.


"Aku tidak perlu meminta persetujuan dari siapapun. Lagipula kamu istriku, jadi sudah pasti harus ikut kemanapun aku tinggal." Jawab Vano seenaknya.


"Dasar buaya egois.!" Cibir Keina ketus.

__ADS_1


"Kalau aku egois mana mungkin aku membiarkanmu keluar dua kali tadi malam." Bisik Vano tepat di telinga Keina. Bola mata Keina sontak melotot tajam. Bisa-bisanya Vano membahas hal seperti itu di saat ada 2 pekerja yang berjalan di belakang mereka.


"Vano tutup mulutmu atau aku akan memberi racun.!" Geram Keina kesal. Vano justru terkekeh, dia tau kalau Keina hanya asal bicara saja tanpa berfikir untuk melakukan hal gila seperti itu.


__ADS_2