
"Jadi kamu tidur satu ranjang dengan wanita sialan itu.?!" Suara Sindy terdengar menahan amarah.
Helaan nafas berat keluar dari mulut Vano. Dia tampak bingung untuk menjawab pertanyaan Sindy. Jika menyangkal, tentu saja tak akan membuat Sindy percaya karna kekasihnya itu mendengar sendiri saat Keina berbicara.
Kalaupun meng iyakan, Sindy akan tetap marah padanya. Posisinya jadi serba salah hingga Vano memilih bungkam tak menanggapi pertanyaan Sindy.
"Aku akan ke apartemenmu sekarang. Kita harus bicara langsung." Vano berniat memutuskan panggilan agar kemarahan Sindy tak berlarut-larut. Lalu mendatanginya ke apartemen untuk membujuk wanita itu.
"Jawab dulu pertanyaanku.! Kamu tidur satu ranjang bukan.?! Apa kamu sudah menyentuhnya.?!" Sindy kembali mendesak Vano, bahkan mencecarnya dengan pertanyaan yang seharusnya tak perlu di tanyakan pada pasangan suami istri. Karna memang sudah seharusnya suami istri tidur dalam ranjang yang sama dan melakukan kewajiban mereka.
Sementara itu, Vano mengurungkan niat untuk menjawab pertanyaan Sindy karna melihat Keina yang masuk ke kamarnya.
Wanita itu melirik datar, berjalan ke arah ranjang tanpa memperdulikan Vano yang terus menatapnya.
"Aku hanya ingin mengambil tasku." Jelas Keina sera menyambar tas kecil miliknya di atas nakas.
"Kemari." Panggil Vano.
Keina menautkan kedua alisnya. Tidak tau untuk apa Vano memanggilnya, sedangkan laki-laki itu masih bicara dengan Sindy di telfon.
"Kamu harus jelaskan pada Sindy kalau tidak tidur satu ranjang." Pinta Vano saat Keina tak mau mendekat ke arahnya.
Permintaan konyol Vano langsung membuat Keina tersenyum miring. Bagaimana bisa Vano menyuruhnya untuk mengatakan kebohongan disaat Vano sudah menidurinya.
Mengulum senyum penuh arti, Keina berjalan dengan santai ke arah Vano. Dia akan bicara pada Sindy dengan senang hati, tapi bukan untuk menuruti permintaan Vano, melainkan untuk membuat Sindy semakin kepanasan.
"Berikan ponselnya padaku." Berdiri di depan Vano, Keina mengulurkan tangannya tepat di wajah tampan itu.
"Kamu bisa tanyakan langsung padanya." Ucap Vano pada Sindy.
Tanpa ada sedikit keraguan, Vano kemudian memberikan ponselnya pada Keina.
"Haii,, senang bisa bicara denganmu,," Keina sengaja basa basi untuk membuat Sindy naik darah.
"Dasar wanita sialan.!! Aku akan buat perhitungan denganmu kalau sempai berani tidur dengan kekasihku.!" Bentakan Sindy terdengar melengking, Keina sampai reflek menjauhkan ponsel dari telinganya.
Dia tak habis pikir, bisa-bisanya Vano tergila-gila pada wanita tak beretika dan tak punya muka itu.
Sepertinya hanya Sindy yang melarang seorang istri untuk tidak tidur dengan suaminya sendiri.
"Kekasihmu.? Maksudmu Vano.?" Tanya Keina dengan nada meledek.
__ADS_1
"Apa kamu tidak tau kalau kekasihmu sudah menikah denganku.?"
"Bagaimana bisa kamu menganggap suamiku sebagai kekasihmu.?" Keina terkekeh mengejak.
"Keina.!!" Sentak Vano yang kemudian berdiri untuk mengambil ponselnya. Dengan sigap Keina menghindar..
"Aku belum selesai bicara dengan wanita yang mengaku sebagai kekasih suamiku."
Tatapan tajam di arahkan Keina pada laki-laki di depannya.
"Kamu ingin aku menjelaskan padanya kalau kita tidur satu ranjang bukan.?"
"Aku akan mengatakannya sekarang." Seulas senyum smirk mengembang di bibir Keina.
"Sindy, apa kamu percaya kami tidak tidur satu ranjang.?"
"Aku dan Vano sama-sama sudah dewasa, di apartemen ini hanya ada kami berdua."
"Aku yakin kamu pasti tau apa saja yang sudah kami lakukan disini."
"Kami,,
Ucapan Keina langsung berhenti ketika Vano merampas ponsel di tangannya.
"kenapa kamu malah bicara seperti itu.?" Tegur Vano setelah dia mematikan sambungan telfonnya.
"Kenapa.? Kamu tidak suka melihat kekasihmu sakit hati.?!" Nada bicara Keina meninggi. Kesabarannya seolah habis hanya untuk menghadapi dua makhluk menjengkelkan itu.
"Lalu bagaimana denganku hah.?!!"
"Kamu sudah mendapatkan sesuatu yang berharga dariku, bahkan belum genap 1 jam yang lalu. Tapi kamu menyuruhku mengatakan kalau kita tidak melakukan apapun.?!" Mata Keina berkaca-kaca, kali ini dia tidak sedang akting. Dadanya berdenyut nyeri, rasanya tidak terima kalau apa yang baru saja dia berikan untuk Vano tak ada artinya sama sekali bagi laki-laki itu.
"Kamu benar-benar keterlaluan Vano.!!" Bentaknya bersamaan dengan buliran bening yang menetes dari pelupuk mata.
"Kamu membuatku seperti wanita suci yang tidak berharga,!" Suara Keina tercekat.
Raut wajah Vano seketika berubah. Di tatapannya lekat wajah wanita cantik itu yang menangis karna ulahnya.
"Tidak perlu menunggu 3 bulan.! Besok aku akan mengurus perceraian kita.!!" Tegas Keina seraya menghapus air mata di pipi. Bodoh kalau dia menangisi laki-laki seperti Vano. Dan akan lebih bodoh lagi kalau masih ingin mendapatkan hati laki-laki itu.
Keina bergegas keluar dari kamar Vano dengan buru-buru.
__ADS_1
"Keina,,, aku tidak bermaksud seperti itu,," Ucap Vano yang kemudian menyusul langkah Keina.
Dia ikut masuk ke dalam kamar tamu yang selama ini di tempati oleh istrinya itu.
Keina menarik koper besar, menariknya sampai di depan lemari baju dan membuka koper itu.
Pergi dari apartemen Vano akan menjadi keputusan yang terbaik untuknya ketika kesabaran dan keberadaannya tak pernah di hargai.
Harusnya sejak awal dia menyetujui permintaan Vano untuk mengajukan perceraian, tak perlu membuat sandiwara untuk meluluhkan hati Vano yang bahkan dia saja merasa ragu apakah Vano punya hati.
"Apa yang kamu lakukan,," Vano menahan tangan Keina. Dia merebut paksa baju yang baru di keluarkan Keina dari lemari.
"Vano.! Berikan padaku.!" Keina berusaha merebut baju di tangan Vano, tapi laki-laki itu justru memasukkan kembali baju miliknya ke dalam lemari dan mengunci lemari rapat-rapat sampai dia berdiri di depan lemari. Seolah ingin menghalangi Keina agar tidak bisa membuka. lemari lagi.
"Minggir.! Aku mau mengemasi barang-barangku dan pergi dari sini."
"Ini kan yang kamu mau.?!!" Bentak Keina seraya mendorong bahu Vano.
"Aku tidak mengijinkan kamu pergi." Ucap Vano yang enggan beranjak dari depan lemari, sekalipun Keina sudah mendorong tubuh kekarnya agar bergeser dan tak menghalangi pintu lemari.
"Memangnya siapa yang mau meminta ijin padamu.?!!"
"Aku bisa pergi kapanpun kalau aku mau, toh keberadaanku disini juga tidak berarti apapun untukmu.!" Sinis Keina.
Kesal karna Vano tak mau menyingkir, Keina lalu memutuskan untuk pergi tanpa membawa apapun.
Dia akan datang lagi untuk mengambil semua barang miliknya saat Vano tidak ada di apartemen.
"Keina,, berhenti.!!" Vano buru-buru mengejar Keina. Tiba-tiba saja wanita itu sengah berlari keluar dari kamar.
"Jangan menahanku, aku mau pulang.!" Keina menjawab tanpa menoleh. Dia berjalan cepat ke arah pintu keluar.
"Pulang kemana.? Rumahmu disini." Vano berhasil mencekal pergelangan tangan Keina. Kali ini dia juga menghalangi pintu dan tidak mengijinkan Keina keluar.
"Aku minta maaf,," Suara Vano melemah. Dia menggenggam kedua tangan Keina dan enggan melepaskannya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu.!"
"Lepas.! Tidak perlu menahanku. Bukannya kamu senang kalau aku menyerah dan mengajukan perceraian.! Jadi biarkan aku pergi dan melakukannya.!" Dengan kemarahan serta rasa kecewa yang menggebu, Keina terus meluapkan- kekesalannya.
"Jangan pergi." Pinta Vano memohon. Laki-laki itu tiba-tiba menarik Keina dalam dekapan.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf." Lirihnya penuh sesal.