Meluluhkan Hati CEO Kejam

Meluluhkan Hati CEO Kejam
Bab 47


__ADS_3

"Ya ampun,, apa dia serius.?" Gumam Keina tak percaya. Dia menatap punggung Vano yang baru saja keluar dari walk in closet.


"Padahal aku hanya sedang menguji keseriusannya saja." Gumamnya lagi. Dia tak habis pikir karna Vano langsung menyetujui permintaannya untuk mengubah nama sertifikat kepemilikan apartemen dan rumah pribadi Vano atas namanya.


Sekarang Vano keluar dari walk in closet karna akan mengambil ponsel dan menghubungi asisten pribadinya untuk mengurus semua properti miliknya yang akan di berikan pada Keina.


"Bagaimana ini.?" Keina jadi bingung sendiri. Kalau sudah seperti ini, mana mungkin dia bisa mengajukan gugatan cerai. Bisa-bisa dia akan di cap buruk oleh kedua mertua serta orang tuanya karna di anggap hanya mengeruk harta Vano saja.


"Lebih baik aku pastikan dulu kalau burung besar itu benar-benar sudah taubat." Ujarnya. Yang pertama harus dia lakukan adalah memastikan kalau burung favoritnya tidak akan masuk lagi ke sangkar milik Sindy. Dia juga harus memastikan hubungan Sindy dan Vano berakhir. Bila perlu meminta Vano untuk memutuskan Sindy di depan matanya.


Namun setelah Vano menyanggupi semuanya, dia tak akan memaafkan Vano dengan mudah. Laki-laki itu tatap harus di beri belajaran dengan menjadikan Vano sebagai budak cintanya yang nantinya akan takut dan menurut semua perkataannya.


Membayangkan hal itu, Keina jadi senyum-senyum sendiri. Bayangkan saja laki-laki kejam dan arogan itu akan berubah menjadi kucing yang imut dalam kendalinya.


Keina keluar dari walk in closet setelah memakai baju, mengerikan rambut dan memoleskan make up tipis.


Dia mengedarkan pandangan ke semua sudut kamar, entah kemana perginya Vano. Dia hanya melihat ponsel milik Vano yang tergeletak di atas ranjang.


"Apa dia sedang mandi.?" Gumamnya. Dia hendak mengecek ke kamar mandi, namun saat berbalik badan, bibirnya menyentuh dada bidang Vano yang masih setengah basah.


"Ya ampun.! Kenapa tiba-tiba disini.!" Keina menggerutu setelah mundur beberapa langkah.


Vano terlihat baru selesai mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Tunggu aku, aku akan mengantarmu ke mall." Ujar Vano.


"Memangnya siapa yang minta di antar.? Aku akan pergi sendiri." Tolak Keina.


"Lagipula kamu itu sedang sakit, sebaiknya istirahat di sini saja." Keina tidak akan membiarkan Vano mengantarnya, karna dia takut tidak bisa bebas menguras isi atm Vano.


"Aku sudah sembuh. Kamu lupa baru saja memberikan penawarnya di atas ranjang." Jawab Vano yang bergegas pergi ke walk in closet.


Seketika Keina melongo tak percaya. Bagaimana bisa Vano langsung sembuh setelah bercinta dengannya. Jangan-jangan Vano demam hanya karna ingin melakukan penyatuan dengannya.


"Astaga,, bagaimana bisa seperti itu." Gumam Keina heran. Rasanya tidak masuk akal.

__ADS_1


...*****...


"Mau ke mall mana.?" Tanya Vano begitu masuk ke dalam mobil.


"Aku mau beli tas dan sepatu branded." Jawab Keina. Dia hanya mengatakan tujuannya saja tapi yakin kalau Vano pasti tau harus membawanya ke mall mana.


"Kamu yakin uangnya cukup.?" Vano mulai melajukan mobilnya.


Ucapannya itu berhasil membuat Keina melotot.


"Jadi maksud kamu di atm ini uangnya hanya sedikit.?" Tanya Keina seyara menunjukkan kartu atm milik Vano. Kartu yang sejak keluar dari kamar terus dia genggam karna yakin isinya sangat banyak. Tapi setelah mendengar ucapan Vano barusan, Keina jadi tidak yakin lagi.


"Mana aku tau. Sudah lama aku tidak mengeceknya." Jawab Vano yang tampak acuh.


"Salah siapa kamu tidak setuju saat di tawari tambahan 100 juta." Tuturnya.


Seketika bibir Keina mencebik kesal.


"Aku tidak peduli kurang atau cukup. Karna kamu ikut, jadi kamu harus membayar sisanya kalau kurang.!" Pintanya tegas. Keina tentu tak kehabisan akal. Dia pintar kalau sudah urusan uang, tak mau rugi.


"Ya ampun,, apa aku tidak salah lihat.?" Keina menajamkan pandangan, kembali menghitung dengan seksama nominal yang tertera di layar mesin atm itu.


"Kenapa aku harus kaget seperti ini.?" Gumamnya.


"Dia kan CEO, perusahaannya besar dan banyak bisnis lain, jadi tidak heran kalau uang di salah satu kartu atmnya sebanyak ini." Setelah sadar siapa suaminya, Keina tidak terlalu syok seperti tadi. Menurutnya wajar ada uang lebih dari 600 juta di dalam kartu atm yang dia pilih.


Setelah memastikan isi saldonya, Keina bergegas keluar dari sana. Langkahnyabterasa begitu ringan dengan binar bahagia di wajahnya. Dia berjalan menghampiri Vano yang tengah duduk menunggunya.


"Vano ayo,," Keina meraih tangan Vano dan menggandengnya. Laki-laki itu sampai menatap bingung, entah ada angin apa tiba-tiba Keina mau menggandengnya. Sedangkan sejak di perjalanan sikap wanita itu sangat ketus padanya.


"Apa saldo atmnya sedikit.? Kamu jadi pura-pura manis padaku agar aku membayar belanjaanmu nanti.?" Tebak Vano. Dia sampai menata Keina dengan tatapan menelisik.


Bukannya menjawab, Keina justru mengukir senyum manis.


"Kenapa harus pura-pura, bukannya aku memang sudah manis sejak dulu." Senyum di bibir Keina makin mengembang.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah meminta Sindy untuk tidak menghubungimu lagi.?" Keina mengalihkan topik pembicaraan.


"Saat kamu sedang mandi, aku lihat wanita itu menelfonmu." Tuturnya.


"Dia memintaku untuk menemuinya."


"Apa perlu aku minta dia datang ke sini.?" Tanya Vano yang tampak serius.


"Kamu yakin dia mau datang.?"


"Tentu saja."


"Ya sudah, suruh dia datang saja. Tapi nanti setelah aku selesai belanja. Kita bicara di restoran sekalian makan siang." Pinta Keina. Dia sengaja meminta Vano untuk memanggil Sindy setelah selesai belanja agar Sindy panas dan tersulut emosi melihatnya belanja barang-barang branded bersama Vano.


Dengan begitu Keina akan menggunakan kemarahan Sindy sebagai senjata untuk memojokkannya.


"Tapi kamu harus ingat Vano, bukan aku yang merayumu untuk mempertahankan hubungan kita. Kamu sendiri yang,,"


"Memintamu untuk tidak mengajukan gugatan perceraian karna aku mencintaimu." Potong Vano tegas.


Keina menatap lekat, sejujurnya dia belum sepenuhnya percaya dengan pengakuan cinta Vano padanya.


Karna menurutnya terlalu cepat Vano mencintainya.


Padahal selama ini dia Vano kasar dan ketua padanya. Laki-laki itu juga enggan untuk di ajak bicara baik-baik.


Tapi kalau Vano hanya pura-pura mencintainya, kenapa dia setuju untuk mengalihkan semua properti atas namanya. Itu yang membuat Keina bingung saat ini.


"Kenapa menatapku seperti itu.?" Tanya Vano.


"AAku hanya akut di tipu oleh buaya." Keina menjawab santai.


"Bahkan buaya saya bisa tertipu olehmu." Balas Vano dengan suara dan ekspresi datar. Keina reflek mencubit lengan Vano.


"Aku bukan tukang tipu.!" Protesnya seraya melepaskan tangan Vano.

__ADS_1


"Kenapa di lepas.!" Tegur Vano. Kali ini giliran dia yang menggandeng tangan Keina. Memegangnya erat seolah tak ingin membiarkan Keina jauh-jauh dari sampingnya


__ADS_2