Meluluhkan Hati CEO Kejam

Meluluhkan Hati CEO Kejam
Bab 54


__ADS_3

Dengan berjalan seraya menghentakkan kakinya. Keina menatap kesal pada punggung Vano yang berada di depannya.


Karna tak sesuatu dengan ekspektasi, Keina jadi geram pada suaminya itu.


Berharap tinggal di rumah besar dan mewah serta di ratukan, Vano malah berencana menjadikan dirinya sebagai asisten rumah tangga yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian.


"Apa diam-diam dia mau membalas perbuatanku.?"


Batin Keina yang mulai cemas. Jangan-jangan Vano hanya pura-pura mencintainya agar tidak bercerai, setelah itu Vano bisa menyiksanya lebih kejam lagi di banding dulu.


"Awas saja kalau sampai itu terjadi. Terpaksa aku harus menghajar burungnya.!"


Keina kembali membatin. Dia bergulat dengan pikiran sendiri.


"Loh,, kenapa main buka pintu sendiri.?" Keina reflek menegur Vano saat melihat laki-laki itu membuka pintu rumah sebelum mengetuk atau memanggil pemilik rumah.


Vano hanya menoleh sekilas, dia membuka pintu lebar-lebar dan masuk ke dalam. Melangkah santai dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.


Ulah Vano membuat Keina geleng-geleng kepala. Selain arogan dan dingin, laki-laki itu juga aneh.


Tapi entah kenapa dengan semua sifat Vano yang tidak karuan itu, Keina bisa memiliki perasaan padanya.


Perasaan itu hadir bukan karna harta ataupun burung besar milik Vano saja, tapi ada hal yang Keina sendiri gak bisa menjelaskannya.


"Ayo Kein,,!" Seru Vano memanggil.


"Apa kamu tidak mau melihat kamar kita." Ucapnya.


"Apa kamu bilang.?" Keina langsung mendekat dan meminta Vano untuk mengulangi ucapannya lagi.


Menoleh ke sisi kiri seraya mengukir senyum smirk. Vano mendekatkan wajahnya ke telinga Keina.


"Kamu harus melihat ruanganan yang setiap hari akan kita gunakan untuk bercinta." Bisik Vano dengan suara beratnya.


Kedua mata Keina membulat sempurna. Dia menelan ludah dengan susah payah setelah mendengar ucapan Vano.


Bercinta setiap hari.? Gila. Begitu pikir Keina.


Walaupun dia sangat menyukai burung Vano, tapi bukan berarti dia mau bercinta setiap hari.


Bisa dibayangkan tubuhnya akan remuk padam kalau sampai itu terjadi.

__ADS_1


Tapi beberapa saat kemudian Keina menangkap arti lain dari kalimat Vano.


"Tunggu.!" Serunya.


"Apa ini rumah kita.?" Keina menatap serius wajah Vano.


"Memangnya kamu bersedia bercinta setiap hari di rumah orang lain." Celetuk Vano yang membuat Keina semakin yakin kalau rumah yang mereka datangi adalah tempat tinggal baru mereka.


"Ulluh,,, ulluh,,, gemas sekali suamiku yang tampan ini." Ucap Keina dengan senyum bahagia di bibirnya. Dia mencubit gemas kedua pipi Vano dengan sedikit menarik dan menggoyang-goyangkannya. Vano pasrah saja sampai kepalanya bergerak ke kanan dan kiri.


"Dasar penjilat." Cibir Vano meledek. Istrinya itu benar-benar cocok di sebut sebagai penjilat. Karna akan bersikap sangat baik dan manis jika ingin mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Memangnya kenapa kalau jadi penjilat pada suami sendiri." Jawab Keina santai. Dia sama sekali tidak tersinggung mendengar cibiran Vano. Lagipula memang seperti itu kenyataannya.


"Aku bahkan bersedia menjilat yang lain kalau kamu mau." Keina menggoda seraya mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum nakal.


Vano tergelak, dia kehabisan kata-kata mendengar ucapan Keina. Otak mesumnya jadi berfikir kemana-mana.


"Contohnya.?" Tanya Vano yang perlahan merapatkan tubuhnya pada Keina.


Bukannya kabur, Keina justru mengalungkan kedua tangannya di leher Vano dan sedikit menariknya hingga menghilangkan jarak di antara mereka. Apa yang di lakukan Keina benar-benar di luar dugaan Vano. Istrinya itu sudah membuatnya tergoda dan hampir kehilangan akal sehatnya.


Tidak tahan dengan tingkah istrinya, Vano langsung menyambar bibir Keina tanpa aba-aba. Dengan rakus dia menye sap dan melu mat bibir manis itu dengan penuh naf su.


Keina juga tak tinggal diam, wanita itu membalasnya dengan senang hati.


Tentu saja dia sangat semangat menyenangkan hati Vano setelah apa yang di berikan oleh pria itu.


Walaupun awalnya di buat kesal lebih dulu oleh Vano.


"Ya ampun,,!" Pekik salah satu asisten rumah tangga yang baru saja turun dari lantai 2. Dia langsung berbalik badan melihat bergulatan bibir yang sangat panas itu.


Keina sontak reflek melepaskan ciuman seraya mendorong dada Vano agar menjauh.


Keina menundukkan kepala, dia tak berani mengangkat wajahnya lantaran malu pada asisten rumah tangga yang baru saja melihatnya berciuman dengan Vano.


Kalau sampai asisten itu mengatakan Pada Mama Dessy tentang ciuman panas anak dan menantunya, bisa-bisa akan dijadikan bahan ledeka seumur hidup oleh Mama Dessy.


Vano menatap dingin pada asisten rumah tangga itu yang sudah berusia setengah abad.


Berbeda dengan Keina yang merasa sangat malu karna kepergok berciuman di sembarang tempat, Vano justru kesal lantaran sudah menganggu kesenangannya.

__ADS_1


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja." Ucap wanita paruh baya itu dengan kepala tertunduk karna merasa bersalah.


Vano hanya bisa mendengus kesal, dia tidak bisa memarahi asisten pribadi itu lantaran menyadari dirinya yang tak tau tempat untuk bertukar saliva.


...****...


"Astaga, benar-benar memalukan." Gumam Keina seraya buru-buru masuk ke dalam kamar setelah Vano menyuruh 2 asisten yang membantunya agar pulang ke rumah Mama Dessy.


Keina bahkan tak berani bertatap muka untuk sekedar mengucapkan terimakasih. Dia malah menyuruh Vano yang mengatakan terimakasih pada mereka serta meminta agar Vano memberikan uang pada mereka berdua.


Setelah memberikan uang dan menyuruh mereka pulang dengan taksi, Vano bergegas menyusul Keina ke kamar.


Dia ingin melanjutkan ciuman panasnya yang sempat tertunda.


Tak hanya itu saja, Vano juga mau menagih janji Keina. Karna istrinya itu bilang kalau bersedia menjilat yang lain jika mau.


Dan gara-gara ucapan Keina itu, sampai saat ini dia terus membayangkan sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang.


Vano tak bisa membayangkan jika Keina menjilat, seperti yang istrinya itu katakan padanya.


Masuk dan mengunci pintu kamar. Vano mengedarkan pandangan pada kamar dengan luas 10 x 9 meter itu.


Pandangan Keina beralih ke pintu walk in closet lantaran tidak mendapati Keina di tempat tidur ataupun sofa.


Sudut bibir Vano terangkat kala dua manik matanya menangkap sosok wanita cantik yang sedang memeriksa isi lemari baju.


Vano buru-buru menghampirinya, dia membuat gerakan tiba-tiba dengan memeluk Keina dari belakang. Wanita cantik dalam dekapannya itu sontak terperanjat karna kaget. Keina bahkan sampai berteriak.


"Ya ampun, kenapa harus mengagetkanku." Keina menggerutu.


"Bukan aku yang mengagetkanmu, tapi kamu yang sudah membuatku kaget." Balas Vano.


Keina menautkan kedua alisnya. Bagaimana bisa dia membuat Vano kaget, sedangkan Vano yang datang menghampirinya dan memeluknya begitu saja.


"Aku.? Memangnya apa yang aku lakukan.?" Tanya Keina heran.


"Apa kamu masih ingat dengan perkataanmu soal jilat menjilat.?" Bisik Vano.


"Aku benar-benar kaget mendengarmu bicara seperti itu." Bisiknya lagi. Suara Vano mulai terdnegar berat.


"Mau mempraktekkannya sekarang.?" Tanyanya dengan kedua tangan yang mulai tak bisa diam.

__ADS_1


__ADS_2