Memang Jodohku

Memang Jodohku
#25


__ADS_3

Setelah Kedua orang tua Linda membawa Kevin bersama mereka untuk seminggu kedepan. Tinggalah hanya Arman dan Rahma di rumah, hari ini Arman memang tak pergi ke kantor begitu juga dengan Rahma. Rasanya sedikit aneh tidak ada Kevin di rumah, bukankah harusnya mereka sudah terbiasa tidak da Kevin dirumah kalo hanya satu minggu. Apa karena yang membawa Kevin adalah orang lain.


Cepat atau lambat sepertinya Arman harus membicarakan ini semua kepada kedua orang tuanya dan juga keluarga Linda. Karena Arman tidak ingin Linda memakai Kevin sebagai alat untuk mendekati dirinya dan merusak rumah tangga nya yang baru saja ia mulai.


"Mas, kita kerumah Ibu aku yuk. Aku kangen sama Ibu, udah lama aku gak ketemu sama ibu." Ajak Rahma seraya menyandarkan kepalanya pada bahu Arman.


"Sayang kayanya kita gak usah ke rumah ibu deh." Arman bangun dari duduknya dan pergi menuju kamar. Rahma mengerti dengan sikap suaminya yang tiba-tiba jadi dingin itu. Karena apa lagi pasti karena putranya, Rahma tak sedikitpun tersinggung . Rahma berlari kecil mengejar sang suami ke kamarnya.


***


"Mas, jangan sedih gitu dong. Kan masih ada aku di rumah." Ucap Rahma di pintu dan berjalan menghampiri Arman kemudian duduk dikasur berdampingan dengan Arman.


Bukannya mendapat jawaban Arman, malah Rahma mendapat ciuman dari suaminya itu.


"Ayo.." Ucap Arman.


"Yaudah aku ganti baju dulu." Rahma beranjak menuju lemari namun sebelum berdiri Arman menarik tangannya hingga Rahma jatuh terlentang di kasur.


"Mau kemana.?"


"Loh tadi mas bilang ayo ke rumah Ibu aku." Rahma mengernyitkan dahinya karena bingung.


Kemudian Arman merangkak di atas tubuh Rahma.


"Maksudku ayo kita buat adik untuk Kevin. Supaya kita gak kesepian seperti sekarang." Arman tersenyum licik menggoda Rahma.


"Emmm..." Belum Rahma melanjutkan kata-katanya Arman ******* bibir Rahma dengan lembut dari lumatan yang tadinya biasa sampai ke lumatan penuh nafsu.


"Aku lagi ingin sayang, kerumah Ibunya nanti sore aja ya." bisik Arman ke telinga Rahma, tanpa menjawab Rahma hanya mengangguk.


Lagi Arman ******* bibir Rahma, mengecup lekuk lehernya hingga meninggalkan tanda kepemilikannya. Hinga desahan lolos dari bibir Rahma, Satu persatu pakaian sudah terlepas semua hingga tubuh mereka tanggal tek memakai sehelai benangpun.


Suara desahan dan decitan ranjang menggema di kamar ini seperti alunan lagu yang bernyanyi silih bersahutan dengan musiknya.

__ADS_1


Setelah 2 jam mereka memuaskan hasrat mereka. Akhirnya Arman tumbang di atas tubuh Istrinya dan mencium pucuk kepalanya.


"Makasih sayang."Bisik Arman.


Rahma tersenyum, rasanya ucapan terima kasih sangat berlabihan. Mengingat dirinya juga sangat menikmati tubuh suaminya itu.


Tanpa terasa mereka yang merasa lelahpun tertidur tanpa sempat mengenakan kembali baju mereka.


***


Rahma bangun terlebih dahulu sebelum Arman. Rahma melihat kesamping Arman yang masih tertidur, dan melirik kediding melihat sekarang sudah jam 2 siang. Ia pun segera bangun dan mandi , setelah selesai mandi masih memakai handuk Rahma menghampiri Arman membungkukan badannya hingga wajahnya berhadapan dengan Arman.


"Mas, bangun udah sore nih katanya mau ke rumah ibu." Sambil menoel pipinya.


"Emmm masih ngantuk."


"Ayo dong mas, kamu kan udah janji tadi." sambil bersidekap .


Arman menunjukan jari kepipinya.


Setelah mendapat apa yang diinginkannya Arman segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ibu mertuanya.


.


"Tumben banget kalian datang kesini."Ucap bu Yeni melihat anak dan menantunya datang menemuinya.


"Kok ibu ngomong nya gitu. Kaya gak seneng liat anak nya datang." Sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya kirain Ibu kamu udah lupa sama ibu. Mentang -mentang udah punya suami." Bu Yeni pura-pura merajuk.


Beda lagi dengan Rahma yang menanggapinya serius, dan langsung memeluk ibunya sambil menangis.


"Hiks ,,,, hiks Bu maafin Rahma bukan maksud Rahma lupa sama ibu, tapi kemarin kemarin di boutiq memang banyak kerjaan." Arman melihat istrinya menangis manja hanya terkekeh kecil.

__ADS_1


"Sayang kok nangis, Ibu cuma bercanda kok." Seraya menghapus air mata putrinya.


"Oh iya Kevin mana kok gak di ajak. Padahal ibu kangen banget sama Kevin udah lama gak ketemu." Bu Yeni menunduk sedih.


"Kevin lagi di ajak sama keluarganya Linda bu." sahut Arman.


Bu Yeni seolah mengerti hanya mengangguk tak berniat melanjutkan pertanyaannya. Karena hanya akan membuat hati anak dan menantunya bersedih.


"Yasudah kalian sekarang makan dulu. Kebetulan ibu baru selesai masak."


"Kok ibu tau kalo kita mau kesini." Tanya Rahma


"Gak usah di kasih tau batin seorang ibu mah ķuat."


Kemudian mereka beranjak menuju meja makan. Bu Yeni melihat Arman yang makan sangat rakus tak seperti biasanya merasa heran.


"Nak makannya pelan-pelan. Seperti orang belum makan saja." sambil tersenyum kepada Arman.


"Memang belum makan bu dari pagi."Sahut Arman.


"Rahma kamu ini bagaimana sih punya suami kok sampe bisa gak di kasih makan begini." omel Yeni seraya memukul lengan Rahma pelan.


"Rahma udah masak kok, tapi sebelum sarapan orang tuanya bu Linda keburu datang jadi gak sempet dimakan."Bu Yeni hanya menggelengkan kepalanya.


"Iya bu kita gak sempet makan karena sibuk bikin adik buat Kevin." Imbuh Arman dan mendapat cubitan dari Rahma diperutnya .


"Mas ..!"


"Iya sebaiknya kalian cepat cepat kasih adik buat Kevin." Ucap bu Yeni.


"Tuh ibu aja nyuruh gitu ya bu." Arman tersenyum pada Rahma.


Melihat putrinya sudah hidup bahagia bersama suaminya. Ibu mana yang tidak ikut bahagia, semoga hidup kalian selalu dalam kebahagiaan dan dalam ridho Allah dan di jauhkan dari marabahaya. Amiin

__ADS_1


.Bersambung.


Maaf ya kalo ceritanya agak aneh.


__ADS_2