
Ayah tidak pernah menghargai apa yang Bagas dapat dengan usaha nya sendiri.
Seperti saat Bagas ber-usia kurang lebih lima Tahun.
"Ayah, aku dapet juara satu lho, di sekolah," ucap Bagas pada ayah.
Namun, ayah hanya melirik sekilas tanpa berucap sepatah katapun.
Ya begitulah sikap ayahnya selama beberapa Tahun ini.
Begitu dingin dan terkesan tidak peduli apa yang terjadi pada Bagas dan serta ibunya.
"Ya Allah, ubahlah Ayah Bagas yang dingin itu ya Allah, Bagas mohon...," doa Bagas yang berusia lima tahun sambil meneteskan air matanya.
Bagas selalu memanjatkan doa itu di setiap salatnya.
Waktu berumur tujuh belas tahun Bagas bertanya pada sang ibu, kenapa sang ayah begitu dingin terhadap dirinya dan juga ibu.
"Bu, kenapa sih, sikap ayah dingin banget sama kita?" tanya Bagas.
"Udah, kamu nggak usah banyak tanya, yang penting dia tetep sayang sama kita," ucap ibu.
Bagas hanya menghela napas kecewa ketika mendengar jawaban dari sang ibu.
Bagas bergegas menuju ke atas untuk menemui sang ayah.
Sesampainya disana Bagas langsung menyampaikan maksud kedatangan-nya kesana.
"Yah...kenapa sih Ayah dingin banget ke aku dan Ibu...kenapa Yah?" lirih Bagas.
Sang ayah hanya menghela napas sebentar, lalu meninggalkan ruangan-nya dan Bagas disana, tanpa memberi jawaban apapun.
'Ya Allah, tolong rubahlah Ayah Bagas jadi lebih baik ya Allah.'
...........
Kring...suara alarm membangunkan Bagas yang sedang tertidur.
Segera dia langsung mandi dan melakukan salat subuh.
Doa tak lupa dia panjatkan agar sang ayah bisa berubah jadi lebih baik.
"Pagi Yah, Bu!" ucap Bagas dengan ceria.
"Pagi Nak," balas ibu dengan senyuman.
Sang ayah tidak membalas salam dari Bagas, dia hanya menyesap kopi buatan istrinya dan membaca koran saja.
Memang, ayah dingin kepada Bagas serta ibunya, namun dia tidak pernah menolak untuk dilayani sang istri, namun tidak dalam bentuk nafkah batin.
Bagas yang melihat hal itu hanya menghela napas saja.
Keadaan di meja makan pasti sudah bisa kalian tebak. Ya keadaan di meja makan hanya terdengar suara gemercik sendok dan garpu saja tanpa ada percakapan di dalamnya.
Hal seperti ini sudah terjadi sejak Bagas masih kecil, mungkin sejak sang ayah menikah dengan ibu.
Sesampainya di Sekolah, Bagas segera bergegas untuk menemui ketiga Sahabatnya.
"Assalamualaikum semuanya, maaf agak telat," ujar Bagas.
"Waalaikumsalam, santai aja Gas, udah sana lo pesen aja trus gabung bareng kita," ujar Rendy.
Akupun segera memesan makanan dan minuman yang berupa Soto dan Es Teh.
Bell masuk kelas sudah berbunyi, aku dan ketiga sahabatku segera masuk untuk mengikuti pelajaran.
Tak terasa dua jam sudah waktu pelajaran Bagas dan teman - teman-nya selesai.
Bagas dan ketiga sahabatnya pun segera menuju kantin untuk memesan makanan serta minuman.
"Eh, gue mau curhat nih."
"Curhat masalah apa bro?" tanya Galang.
"Ini...masalah Ayah gue bro...," ujar Bagas dengan nada sendu.
"Ayah lo emang kenapa?"
"Dia itu dingin banget ke gue sama Ibu gue," jawab Bagas dengan menunduk.
Ketiga sahabatnya tak tega melihat Bagas seperti itu, karna pasa dasarnya Bagas adalah Anak yang ceria dan selalu menghibur teman - teman-nya.
Bagas yang seperti ini sangat beda dengan Bagas yang biasanya.
__ADS_1
"Jangan - jangan, lo Anak haram lagi," celetuk Rendy.
Mendengar ucapan Rendy yang tak masuk akal, dengan segera Gilang dan Galang membungkam mulut Rendy itu.
Rendy yang baru sadar akan ucapan-nya segera meminta maaf kepada Bagas.
"Eh Gas, gue minta maaf ya, g-gue nggak ada maksud buat ngomong itu," ucap Rendy dengan nada menyesal.
"Iya Ren...gue ngerti kok," Bagas hanya memberikan tatapan sedih dengan senyum palsu.
Rendy jadi meresa bersalah karna membuat salah satu sahabatnya itu tambah bersedih.
"Tuh! liat...ini semua salah lo Ren, harusnya lo lebih bisa atur ucapan lo sendiri biar nggak nyakitin orang lain!" bentak Gilang.
Rendy hanya tertunduk tanpa membalas ucapan Gilang, karna memang ini semua terjadi karna dirinya yang membuat sahabatnya jadi merasa bersedih.
"Udah - udah...mendingan kita pikirin dulu gimana caranya biar Bagas nggak sedih lagi," ujar Galang.
Rendy dan Gilang hanya mengangguk setuju, sementara dengan Bagas, dirinya sudah agak baikkan karna ketiga sahabatnya mau menghiburnya.
"Makasih ya teman - teman, gue beruntung banget bisa punya sahabat kaya kalian ini," ucap Bagas tulus.
Mereka bertiga hanya mengangguk sambil memberikan senyum tulus.
"Seharusnya kami yang beruntung, karna bisa sahabat-an sama Orang kayak lo, yang notabene nya itu Orang terpandang," ucap Gilang.
"Iya bener banget tuh," ucap Rendy.
"Udah ya, lo nggak usah terlalu sedih lagi, mungkin suatu saat Ayah lo bisa berubah," ucap Galang sambil menepuk - nepuk pelan pundakku.
...........
'Kenapa Ibu seperti menyembunyikan sesuatu dari aku ya, apa mungkin Ibu punya rahasia yang tidak aku ketahui'
Bagas hanya menggelengkan kepalanya karna memikirkan hal yang tidak - tidak tentang ibunya.
Bagas hanya menatap langit - langit kamarnya sambil melamun.
'ada apa ya kira - kira, kok perasaan ku kayak ada yang janggal ya dari ucapan Ibu kemarin.'
Buru - buru Bagas menepis pikirannya yang tidak - tidak dan mulai turun kebawah untuk mengambil makanan.
Tiba - tiba ibu pulang dengan di antar supir pribadinya, dia diikuti oleh mobil lain untuk membawa barang - barang belanjaannya.
Ibu segera masuk ke rumah mewah itu lalu memanggil para Pembantu disana.
"Kalian bawa barang - barang ini masuk ya," titah ibu lembut.
"Baik Nyonya," ucap para pembantu.
Para Pembantu itu segera bergegas untuk membawa barang belanjaan nyonya mereka kedalam rumah super mewah itu.
"Ibu baru pulang?" tanya Bagas.
"Assalamualaikum Nak," ucap ibu.
Bagas nyengir karena dia lupa untuk mengucapkan salam.
"hehe, waalaikumsalam Bu, maaf tadi Bagas lupa," jawab Bagas sambil nyengir.
Ibu hanya menggelengkan kepalanya.
"Bagas, kamu udah punya pacar belum?" goda ibu sambil tersenyum.
"Belum Bu." Bagas hanya tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya.
ibu hanya menggelengkan kepalanya lagi sembari mengelus pelan kepala sang anak.
"Ya udah nggak papa, yaudah Ibu mau ke kamar dulu ya, Ibu capek," ucap ibu.
Bagas hanya mengangguk seraya memberikan senyuman manisnya.
Tapi sebelum berangkat Bagas memberikan pertanyaan kepada sang ibu.
"Bu, Bagas mau tanya Bu...," pinta Bagas pelan.
Sang ibu lalu melihat kearah sang anak seraya berkata.
"Tanya apa Nak?"
"Emmm...e-enggak jadi deh Bu." Bagas hanya nyengir dan tak mau menyampaikan pertanyaannya
"Kamu ini gimana sih, mau tanya kok nggak jadi, ya udah lah Ibu keatas dulu ya," ujar ibu.
__ADS_1
Bagas hanya mengangguk sembari tersenyum kearah sang ibu.
Ibu segera naik keatas untuk beristirahat karena lelah seharian ini.
Bagas segera pergi untuk mengambil makanannya dan bergegas menuju kamar.
.............
Pada waktu pukul 20:00 ayah pulang dan langsung disambut oleh ibu yang dengan cekatan melepas jas yang dipakai suaminya tersebut.
Ayah tidak memberi ucapan berupa terima kasih dan langsung menuju ke meja makan.
Ibu hanya menghela napas panjang karna dirinya sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh suaminya.
Seperti biasa di meja makan selalu hening tanpa kata sedikit pun yang keluar dari mulut masing - masing dari mereka.
Jika hal ini sampai dilihat oleh Orang - Orang, mungkin mereka akan prihatin melihat nasib Keluarga ini.
Keluarga yang kaya namun tak ada kebahagian yang menyelimuti mereka.
'Hah...kapan keadaan Keluarga ku bisa berubah ya Allah, aku ingin punya Keluarga yang bahagia seperti pada umumnya, aku tidak butuh harta, yang aku butuhkan cuma Keluarga bahagia ya Allah....'
Setelah berpikir Bagas langsung membuka handphone nya untuk chattingan kepada ketiga Sahabatnya.
...GRUP EMPAT ORANG MONYET...
Bagas: P
Rendy: Ada apa uy?
Gilang: ?
Galang: Kenapa?
Bagas: Mau tanya, menurut kalian, kalian itu lebih memilih harta atau Keluarga bahagia?
Rendy: Gue sih lebih memilih Keluarga bahagia ya.
Gilang: Sama, ya nggak Lang?
Galang: Iya Lang.
Bagas: Kalian beruntung banget bisa dapet Keluarga bahagia meski hidup kekurangan.
Gilang: Maksudnya?
Rendy: Lo kenapa sih Gas? ada masalah? sini cerita ke kita, kita pasti dengerin kok.
Galang: Iya tuh Gas, apa yang di bilang Rendy ada benarnya.
Bagas: Gue punya banyak uang tapi gue nggak punya Keluarga bahagia😭
Rendy: Lo mau jadi Keluarga gue?
Hening seketika...
Bagas: bukan gitu maksud gue Rendy...
Gilang: Tau tuh si Rendy.
Rendy: Hehe, ya maaf🙏
Gilang: Lanjutin aja Gas.
Bagas pun menceritakan semua masalah yang ada di Keluarganya.
Ketiga sahabatnya itu ikut prihatin akan kondisi Keluarga Bagas yang bisa dibilang jauh dari kata bahagia.
Mereka bertiga sebagai sahabat tentu langsung menguatkan Bagas dan bersabar dalam menghadapi ujian ini.
Rendy: Lo yang sabar ya Gas, ini semua ujian dari Allah buat Keluaga lo, jadi gue harap lo dan Keluarga lo itu kuat dalam menghadapi cobaan ini.
Bagas: Makasih ya Ren.
Gilang: Bener tuh Gas, apa yang dibilang Rendy. Lo sama Keluarga lo jangan putus harapan, terus panjatkan doa lo kepada Allah SWT agar lo sama Ibu lo bisa membuat Ayah lo itu berubah.
Galang: Iya Gas, insyaallah dalam setiap ujian-nya Allah SWT tidak pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan Umatnya, jadi lo yang sabar ya Gas.
Bagas: Makasih ya temen - temen.
Bagas sangat bahagia bisa memiliki sahabat seperti ini.
Sesudah chattingan Bagas segera melakukan salat tahajud untuk meminta kemudahan dari ujian yang di berikan Allah SWT pada Keluarga nya
__ADS_1
'Ya Allah, mudahkan lah Hamba dan Keluarga kecil Hamba untuk menghadapi semua ini ya Allah.'
Bersambung..