Membongkar Rahasia Sang Ayah

Membongkar Rahasia Sang Ayah
Lelah (Revisi)


__ADS_3

"Sebenarnya aku..." tak sempat melanjutkan perkataannya Bagas datang.


"Eh Bagas, udah selesai mandinya Gas?" tanya tante Serena.


"Hehe, udah Tante," ucap Bagas.


"Ibu tadi mau ngomong apa ya?" lanjut Bagas.


"Eh-ee-enggak jadi Nak, oh ya ayo makan," ajak ibu untuk mengalihkan pembicaraan.


Para ibu - ibu muda itu mulai memasak bersama dan Bagas hanya duduk santai di meja dapur, sementara para pembantu tidak di perbolehkan untuk mengganggu acara masak - masak bersama ibu - ibu muda tersebut.


Tak berselang lama makanan yang mereka masak tadi sudah siap semua dan mereka mulai menghidangkannya di meja makan untuk disantap bersama.


"Wah udah jadi?" tanya Bagas yang mulai mencium bau masakan yang sangat enak.


"Udah dong," ucap ibu.


Mereka pun mulai memakan makanan yang ada di meja satu persatu, sampai salah seorang ibu muda disana yang bernama Serena mulai menanyakan sesuatu.


"Bagas, kamu udah punya pacar?" tanya tante Serena di sela - sela mereka makan.


Semua mata yang ada dimeja makan tersebut mulai menatap Bagas dengan tatapan seperti meminta jawaban dari Bagas.


"Eee...belum Tante hehe," jawab Bagas sambil menggaruk tengkuknya.


"Nah pas itu, Tante jodohin sama Anak Tante mau nggak?" celetuk tante Serena.


Ucapan tante Serena sukses membuat Bagas tersedak makanannya dan ibu dengan segera memberikan minuman kepada Anaknya tersebut.


"Kamu itu kalau makan hati - hati dong Bagas," ucap tante Serena santai.


"Haduh kamu ini bener - bener nggak peka ya Serena, Bagas itu tersedak gara - gara denger ucapan kamu tadi," ujar ibu yang sudah gemas dengan sahabatnya ini.


Kedua sahabat ibu lainnya juga menepuk jidat mereka karena melihat kepolosan Serena yang tidak pernah berubah sejak mereka masih SMA.


Bagas hanya menunduk dengan wajah yang memerah karena malu mendengar ucapan tantenya tersebut.


"Ups, maaf ya Bagas, Tante memang begini dari dulu," ucap tante Serena.


Ketiga sahabatnya hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Enggak papa kok Tante, oh iya ngomong - ngomong nama Anak Tante siapa ya?" tanya Bagas.


"Kenapa emangnya? kamu sekarang tertarik sama tawaran Tante?" tanya tante Serena dengan alis yang naik turun.


"B-bukan begitu Tante, B-bagas cuma mau tau aja," ucap Bagas dengan terbata - bata.

__ADS_1


"Oh, ya udah kalo gitu Tante kasih tau nama Anak Tante, dia juga satu sekolahan sama kamu lho Bagas," ujar tante Serena.


"Serius Tante?" tanya Bagas.


"Iya serius, nama Anak Tante itu adalah Zahra."


Perkataan Tante serena sukses membuat Bagas termenung dan memikirkan apa yang baru saja dia dengar.


'Zahra Anaknya Tante Serena? dan tadi dia mau jodohin aku sama Anaknya? tunggu kok aku malah mikir yang enggak - enggak gini sih.'


Bagas yang melamun langsung tersadarkan berkat panggilan ibunya.


"Gas, kamu kenapa?" ucap ibu sembari menepuk pundak anaknya yang sedari tadi melamun.


Bagas langsung tersentak mendengar panggilan ibunya dan segera tersadarkan dari lamunannya barusan.


"Eh ee...enggak papa kok Bu, ayo makan lagi," ucap Bagas yang grogi.


Mereka pun hanya mengangguk saja dan melanjutkan makan yang tadi sempat tertunda.


..........


"Mas, kamu kenapa sih nggak mau cerai aja sama si Istri kamu itu," ucap Laras yang sudah geram terhadap Nuri.


"Aku nggak bisa," ucap Ardi singkat.


"Kenapa nggak bisa?" tanya Laras.


Laras seketika langsung diam seribu bahasa, dia hanya duduk sampai jenuh karena menunggu Ardi yang dari tadi pekerjaannya tidak selesai - selesai.


Akhirnya Laras yang bosan pun memilih pergi dari kantor pacarnya tersebut karena temannya mengajak dia untuk shopping


"Mas, aku pergi dulu ya sama Temen - Temen aku."


"Hemm," Ardi hanya menanggapinya seperti itu saja.


Laras hanya menghela napas panjang karena dia harus ekstra sabar dalam hubungannya ini.


'Tunggu aja kamu Mas, sebentar lagi aku bakal jadi Nyonya satu - satunya di Keluarga Aditara dan aku bakal porotin habis semua harta kamu!'


Laras segera pergi dari kantor Ardi, sedangkan Ardi hanya mengerjakan apa yang harusnya dia kerjakan.


...........


Teman - teman Nuri sudah pulang karena hari sudah larut malam dan mereka harus menyambut suami mereka dan menyiapkan makan malam.


Sedangkan Nuri, dia juga sedang menyiapkan makan malam tentu dibantu oleh para pembantu yang ada disana dan tak lama kemudian ayah pulang.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ujar ayah dengan datar.


"Waalaikumsalam," jawab Bagas dan ibu.


Ibu sebisa mungkin tenang agar tak membuat Bagas curiga, entah apa yang dipikirkan ibu, tapi ibu tidak mau kalau sampai Bagas tahu tentang kelakuan ayahnya waktu di mall.


"Udah pulang Yah?" tanya ibu.


"Hem," begitulah jawaban ayah, dia langsung duduk tanpa rasa bersalah sama sekali.


Ibu yang melihat ayah sudah duduk di kursinya lalu mengambilkan makanan untuk suaminya tersebut.


Para pembantu yang melihat hal itu juga ikut sedih dengan keadaan keluarga majikannya yang terbilang sangat jauh dari kata 'bahagia'.


Keluarga itu mempunyai segalanya, kaya raya, mempunyai rumah super mewah dan mobil mewah, serta mempunyai banyak pembantu, tapi ada yang kurang di keluarga mereka yaitu kata 'bahagia'.


Kata tersebut tak disematkan dalam keluarga Aditara, di dalam rumah mereka menjalani hidup yang seperti ini saja selama bertahun - tahun.


Bagas dan ibu tak henti - hentinya terus memanjatkan doa kepada sang pencipta agar bisa merubah sifat ayahnya yang dingin agar keluarga ini bahagia.


Bahkan Bagas dan ibu sering menyematkan kata 'tidak memiliki harta justru lebih baik daripada tidak memiliki keluarga bahagia.'


"Yah, kapan kamu akan berubah Yah?" lirih Nuri.


Nuri berdiri di belakang sang suami, suaminya itu hanya diam saja dan tidak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Nuri.


"Yah...jawab Ibu Yah," ibu sudah mengganti panggilan 'mas' menjadi 'ayah' lagi.


"Ibu bisa nggak sih diem, Ayah itu capek Bu!!!" bentak Ardi.


Untung saja kamar mereka kedap suara jadi suara kedua pasangan itu bertengkar tidak akan terdengar keluar kamar.


"Huffftt...baik kalau begitu Yah, kita cerai aja...Ibu udah nggak kuat Yah, Ibu capek," lirih Nuri dengan air mata yang sudah menetes.


Ardi yang mendengar hal itu spontan melihat kearah Nuri dengan tatapan marah, dia lalu memegang dagu Nuri dengan kasar sembari berkata.


"Cerai? aku nggak bakal cerai'in kamu sampai kapanpun Nuri, denger itu," ucap Ardi dengan dingin.


Nuri yang ketakutan hanya bisa diam, dan saat Ardi melepaskan dagunya Nuri seketika terjatuh ke lantai dengan tubuh yang gemetar akibat ketakutan.


"K-kenapa Yah, k-kenapa kamu nggak mau cerai'in aku...aku capek Yah...aku lelah dengan semua ini...," lirih Nuri dengan tubuh yang sudah lemas.


Ardi hanya menatap Nuri dengan tatapan tajam sembari berkata.


"Kamu mau tau kenapa aku nggak cerai'in kamu?" tanya Ardi.


Nuri hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Itu karena..."


Bersambung..


__ADS_2