Membongkar Rahasia Sang Ayah

Membongkar Rahasia Sang Ayah
Menghabiskan Waktu


__ADS_3

Dimas menceritakan semua kejadian tujuh belas Tahun silam.


Hal itu membuat ku dan Eyang Putri terkejut bukan main, pasalnya Eyang Putri baru tau kalau aku bukan Anak Kandung dari Puji-Ayahku.


Aku juga baru tau kalo Pria yang ada di depanku ini adalah Ayah Kandungku.


"Jadi begitu kejadian-nya?" tanya Eyang Putri.


Dimas hanya mengangguk sementara Ibu hanya tertunduk diam, dan Ayah dari tadi sudah mengepalkan tangan-nya seperti ingin menghantam sesuatu.


Hufffttt...Eyang Putri nampak menghela napas panjang karna masih pusing memikirkan apa yang sudah terjadi.


"Jadi sekarang mau Anda itu apa?" tanya Eyang Putri.


"Saya kesini sebenarnya hanya ingin berbicara empat mata dengan Putra Saya. mengingat sudah banyak waktu yang terbuang bersama Putra Saya."


"Dia bukan Putramu, dia Putraku," ucap Ibu yang keliatan sudah geram dari tadi.


"Atas dasar apa kamu bilang kalau dia hanya Putra kamu? dia itu juga Putra Saya kalau kamu lupa," ujar Dimas.


Ibu nampak ingin marah lagi, namun dengan aku langsung berusaha untuk menenangkan Ibu.


"Bu, sudah Bu, tenang. Biar aku bicara empat mata dengan dia, dia itu juga Ayah ku Bu. Ayah Kandung."


Ibu langsung memeluk-ku seraya berkata pelan.


"Ibu nggak mau kamu diambil sama Pria ini," ucap Ibu sambil menunjuk kearah Dimas-Ayah Kandungku.


"Bu, sudah ya tenang. Semua pasti ada jalan-nya," ucapku.


"Iya Nur, kamu tenang ya Nak," ujar Eyang Putri.


"Ibuk nggak marah sama Nuri?" tanya Ibu.


Eyang Putri hanya menggelengkan kepalanya seraya berkata.


"Enggak Nak, Ibuk nggak pernah marah sama kamu," tutur Eyang Putri seraya memeluk erat Ibu.


"Ayo Nak," ajak Dimas.


Aku mengangguk sambil mengikutinya keluar dari Rumah untuk pergi ke Restoran.


...----------------...


Sesampainya di Restoran, Bagas langsung memesan makanan kepada Pelayan, begitu pula dengan Dimas.


Dimas menatap lekat Putranya tersebut, mata yang sendu dan hangat walau dalam keadaan marah sekalipun, persis seperti Ibunya.


"Gimana kabar kamu Nak?" tanya Dimas.


"Alhamdulillah Pa, Bagas baik - baik aja," ujar Bagas.


"A-apa kamu b-bilang tadi, aku ingin mendengarnya sekali lagi," ucap Dimas dengan nada yang terbata - bata.


"Iya Pa, setelah Bagas pikir - pikir disini nggak ada yang salah. Jadi Bagas putuskan untuk memanggil Anda dengan sebutan Papa. Kenapa apa Papa tidak suka dengan panggilan itu?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Tidak Nak, Papa tidak marah. Justru Papa senang dengan panggilan itu, apa artinya kamu sudah memaafkan Papa?" tanya Dimas.


"Bagas sudah memaafkan Papa sejak dulu, karna Bagas sendiri juga sadar kalau Manusia itu tak pernah luput dari kata salah. Tugas menghakimi seseorang itu bukan aku maupun Ibu, jadi Papa tak perlu merasa bersalah."


"Mungkin Ibu masih belum menerima kehadiran Papa sebagai Papa kandungku, namun aku yakin lambat laun Ibu pasti bisa menerimanya. Sekarang aku tanya sama Papa apa Papa masih men-Cintai Ibu?" lanjut Bagas.


"Tidak Nak. Perasaan Cinta Papa kepada Ibumu sudah hilang sejak Papa berada di luar Negeri," ujar Papa.


"Alhamdulillah kalau begitu, Bagas mohon Pah, jangan menghancurkan hubungan Ayah dan Ibu. Mereka sudah mulai saling mencintai, jadi Bagas mohon Pa," tutur Bagas.


"Iya Nak, Papa janji sama kamu kalau Papa tidak akan pernah menganggu hubungan Ayah dan Ibu kamu. sekarang yang terpenting bagi Papa itu adalah bagaimana cara menghabiskan waktu Papa yang terbuang bersama kamu."


Mereka berdua pun mengobrol layaknya Orang Tua dan Anak pada umumnya. Obrolan yang menghabiskan waktu hingga larut malam.


...----------------...


Sementara di Kediaman Aditara, Ibu jelas sedang gelisah memikirkan Putranya akan di ambil oleh Dimas. Pria yang paling dia benci hingga sekarang.


"Nur, kamu tenang ya. Dimas nggak mungkin bawa Bagas jauh - jauh dari kamu," tutur Eyang Putri.


Nuri hanya mengangguk sementara Suaminya juga ikut menenangkan sang Istri.


"Tenang ya Bu," ujar Ayah.


...----------------...


Bagas bercerita banyak hal yang dia lalui, tentang dia dan Ibunya yang berusaha untuk meluluhkan hati sang Ayah. Lalu tentang ketiga Sahabatnya, serta dua Wanita yang membuat hatinya bimbang.


Dia menceritakan unek - uneknya kepada sang Papa dan sang Papa mendengarkan-nya dengan seksama untuk bisa memberikan solusi kepada Putranya tersebut.


"Ooo...jadi kamu suka sama dua Wanita begitu?" tanya Ayah.


"Oke gini Gas, dengerin Papa ya. Suka itu hal umum, namun kalau Cinta itu sudah menyangkut hati kecil kamu Nak. Sekarang Papa tanya, yang kamu rasakan ini suka atau Cinta?" tanya Papa.


Bagas nampak berpikir keras tentang rasa yang dia miliki kepada dua Wanita yaitu Susi dan Putri.


"Aku sih sebenarnya udah punya niatan buat jauhin Putri Pa, karna Putri udah punya pasangan. Tapi untuk Kak Susi aku bimbang Pa tentang perasaan yang aku rasakan ini. Aku cinta sama Putri namun aku sudah rela melepaskan-nya namun untuk Kak Susi aku tidak tau ini suka atau Cinta Pa," ujar Bagas.


"Sekarang kamu tanya sama hati kecil kamu tentang Kak Susi mu itu, apasih sebenarnya kamu rasakan."


"Caranya Pa?" tanya Bagas.


"Nanti akan ada saat dimana kamu yakin tentang perasaan kamu Nak," ucap Papa dengan lembut seraya mengelus kepala Putranya tersebut.


...----------------...


Karena Hari sudah malam, Papa mengantar ku untuk pulang. Papa yakin kalau Ibu ku pasti akan gelisah mengingat sudah dari tadi mereka tidak pulang.


sesampainya di Rumah, benar saja Ibu langsung berlari dan memeluk erat diriku seperti takut akan kehilangan Putranya tersebut.


"Kamu tenang aja Nur, aku nggak bakal ambil Bagas dari kamu. Jadi kamu nggak usah khawatir, lagi pula aku itu Ayah Kandungnya jadi aku tidak mungkin menyakiti dia," ucap Papa.


"Diam kamu, aku tidak berbicara sama kamu," ucap Ibu dengan nada tegas dan lantang.


Aku mencoba untuk menenangkan Ibu yang tersulut emosi tanpa sebab.

__ADS_1


"Udah dong Bu, Bagas nggak apa - apa, lagian kan dia itu Papanya Bagas jadi dia nggak mungkin tega buat nyakitin Bagas," ucap ku untuk menenangkan Ibu.


Ibu terlihat sudah sedikit tenang.


"Masuk dulu Mas," tawar Eyang Putri.


Setelah mendengar ucapan itu Ibu langsung menatap Eyang Putri dengan tatapan seperti berkata 'jangan'. Tapi Eyang Putri tak mengerti sama sekali dengan tatapan Ibu.


"Tidak perlu Buk, Saya langsung pamit saja ya, assalamualaikum semua," ujar Papa.


"Beraninya kamu memanggil Ibuk-ku dengan panggilan Buk," ucap Ayah tak terima.


Huffttt...aku dan Eyang Putri hanya bisa menghembuskan napas kasar seraya menggeleng - gelengkan kepala.


Eyang Putri langsung menepuk pundak Ayah sambil berkata.


"Udah biarin aja, dia kan juga Ayah Kandung Bagas. Jadi dia itu juga Anak-ku," celetuk Eyang Putri.


Yah begini lah kehidupan Keluarga ku yang terkadang di penuhi konflik tapi juga ada yang membuat suasana kembali menghangat.


...----------------...


"Eyang Putri," ucap Bagas dengan nada ragu - ragu kepada Eyang yang lagi menonton televisi.


"Hem...ada apa Nak?" tanya Eyang Putri.


"Eyang, Bagas ajeng tanglet, saestu Eyang mboten srengen sami Bagas? ngemut-**** Bagas puniku sanes lare kandung Bapa," ujar Bagas sambil duduk di depan Eyang Putri.


(Eyang, Bagas mau tanya, beneran Eyang nggak marah sama Bagas? mengingat Bagas itu bukan Anak Kandung Ayah)


Eyang Putri hanya menggelengkan kepalanya seraya berucap.


"Ora Nak, Eyang ora nesu karo kowe. toh kabeh wis kedadeyan ya arep priye maneh," ujar Eyang Putri.


(Enggak Nak, Eyang nggak marah sama kamu. Toh semua udah terjadi ya mau gimana lagi)


Bagas bernapas lega karna Eyang Putri mau memaafkan-nya.


"Matur nuwun Eyang," ucap Bagas disertai mencium kedua punggung tangan Eyang Putri.


Eyang Putri hanya mengelus - elus kepala Bagas. Sebenarnya Eyang Putri kecewa, namun bukan kepada Bagas melaikan kepada Nuri.


Namun disisi lain dia bersyukur karena kalau bukan Nuri waktu itu tidak mabuk mungkin dia tidak akan pernah mendapatkan Cucu yang sebaik dan sesopan Bagas, meski Bagas bukan Cucu Kandungnya.


Bersambung..


...----------------...


...Terima kasih karena sudah membaca Novel ini, ini hanya karya Author pemula + amatir, jadi mohon maaf kalau typo tersebar dimana - mana. Kalau ada yang salah boleh tulis komentar berupa Kritik/Saran oke🤗😄....


...Kalau kalian suka sama cerita ini boleh kali tekan Like sama Favoritnya, kalau bisa sih kasih Vote ya Teman - Teman😍....


...Maaf kalau up nya lama, soalnya Author pengen santai - santai dulu sambil menikmati Kopi Hitam buatan Emak😂....


...Matur Nuwun Sampun Maos Novel Puniki...

__ADS_1


...(Terima Kasih Sudah Membaca Novel Ini)...


...See You In The Next Episode🖐...


__ADS_2