
🌄Pagi Hari pun Tiba
Seperti biasa Ibu menyiapkan makanan di meja makan.
dimeja makan hening, cuman ada suara sendok dan garpu yang menghasilkan bunyi ting.
POV Bagas
Aku melirik ke arah Ayah untuk melihat perubahan Ayah, tapi Ayah juga melirik ku dan aku pun langsung menunduk karna takut melihat tatapan tajam dari Ayah.
Aku memulai dialog dengan Ayah tapi dengan nada dingin dan datar.
"Yah apa Ayah pernah merasa jatuh cintah?." Tanyaku pada Ayah dengan nada dingin dan datar.
Ayahpun menghembuskan napas berat seraya berkata.
"Jatuh cinta ya..emm Ayah tidak tau apa itu jatuh cinta, karna sedari kecil Ayah sudah dituntut untuk belajar dengan bimbingan yang sangat keras dari Kakekmu dulu. Hah jadi Ayah tidak pernah bertemu dengan seseorang yang Ayah cintai karna Ayah sudah jadi seorang CEO di usia muda. Hal itu membuat Ayah tidak bisa merasakan masa muda seperti Anak - Anak lainnya." Ucap Ayah dengan nada sendu.
Aku dan Ibu yang mendengarkan hal itu pun termenung tak percaya, karna Kakek yang aku kenal itu lembut dan sangat memanjakanku.
Aku dan Ibu menjadi ikut - ikut'an sedih setelah mendengarkan masa lalu Ayah yang begitu pahit dan kejam.
.
.
.
.
.
Sesampainya disekolah aku biasanya langsung menyapa Putri.
Tapi berhubung kemarin malam aku sudah dinasihat'i Ibu untuk menjauhi Putri agar dia bisa bahagia, aku pun langsung bertegur sapa dengan Sahabat - Sahabatku saja.
"Oi bro, kemarin kalian liburan kemana?." Tanya Rendy dengan semangat.
"Gue sama Keluarga gue liburan ke Pantai ××." Jawabku dengan antusias.
"Kami sih diRumah tidur aja ya kan lang?." Tanya Gilang pada Galang.
"Ho'oh kita mah mending tidur sampe waktu mandi." Ucap Galang.
"Yahh..kalian mah kaum nolep sih, wibu ya..." Ucap Rendy dengan nada menggoda.
"Biarin kita wibu. Yang penting mah kita bukan beban Keluarga, ya nggak Lang?." Ucap Galang pada Gilang.
"Yoi Lang, paling nggak kami jajan duit kami sendiri." Ucap Gilang dengan nada menggoda.
Seketika itu Rendy langsung diam tak menjawab lagi.
Aku yang melihat itu langsung melerai mereka dan mentraktir mereka.
"Udah - udah berantem mulu sih heran deh...gimana kalo kita jajan aja, gue traktir deh." Ucapku.
"Boleh tuh tapi traktirr..."Ucap Rendy sambil melirik ke arah Galang dan Gilang.
__ADS_1
"BAKSO PAK MAMAT" Ucap mereka serentak.
"Yaudah deh ayo." Ucap ku pasrah.
Pas diKelas aku juga tetap tidak menyapa Putri karna mengingat nasihat Ibu untuk'ku.
'Semoga kamu bahagia Put, kamu bisa tertawa lepas sama pria itu. Sementara aku tidak bisa membuatmu tertawa seperti kemarin, aku rela Put melihat kamu sama Pria itu asalakan kamu bahagia.' Pikir ku sambil melirik ke arah Putri.
Melihat Putri yang melirik ke arahku, akupun menatap lurus kedepan dengan exspresi datar.
Putri juga langsung melihat kedepan papan tulis mengingat ada Guru yang sedang mengajar didepan.
.
.
.
.
.
Sesampainya di Rumah, aku melihat Ibu sedang mencuci piring, seketika aku membantunya dengan bersih - bersih.
Karna dari kecil aku sudah diajarkan cara untuk bersih - bersih, agar bisa mandiri sedari dini.
Aku memulai percakapanku dengan Ibu dan dengan Bahasa yang sopan dan santun.
"Ibu emang Ibu nggak lelah?." Tanyaku pada Ibu.
"Enggak Nak Ibu enggak lelah, karna ini sudah kewajiban Ibu untuk jadi Ibu rumah tangga di Keluarga kita." Ucap Ibu.
"Bu sudah biar Bagas saja yang menyelesaikan pekerjaan Ibu ini." Ucapku pada Ibu.
"Enggak usah Nak kamu kan capek habis Sekolah, sekarang mending kamu ganti baju terus makan aja. Disini biar Ibu yang nyelesaiin." Ucap Ibu meyakinkanku.
"Baik Bu" Ucap ku pada Ibu.
Sesampainya di Kamar aku langsung ganti baju sesuai perintah beliau.
Kadang aku heran kenapa Ibu masih melayani Ayah walau tidak dalam bentuk Nafkah batin, padahal Ayah itu dingin dan aku sendiri sempat ragu Ayah bisa berubah jadi lebih baik.
Tapi Ibu meyakinkanku kalau Ayah itu pasti bisa berubah jadi lebih baik.
Katanya 'Insyallah dengan kekuatan Allah SWT yang Maha mebolak - balikan hati manusia pasti Ayah bisa berubah, tugas kita hanyalah berusaha agar Ayah bisa berubah' Begitu Ucap Ibu beberapa Hari lalu.
Malam Hari pun tiba
Ayah pun pulang lebih cepat dengan membawa makanan dari luar yang berupa Sate Lontong.
Sebelumnya Ayah memang sudah memberitahu Ibu kalau Ayah nanti pulang cepat sambil membawa Sate Lontong untuk makan malam.
Setelah makanan disiapkan oleh Ibu, aku tanpa banyak basa basi langsung menyikat habis Sate Lontong bagianku setelah membaca doa sebelum makan.
Ayah memulai percakapan di meja makan yang hening itu.
"Ehem Nak apa kamu diSekolah belajar dengan baik?." Tanya Ayah padaku.
__ADS_1
"Baik Yah." Ucapku dengan nada dingin dan datar. Karna aku dan Ibu sedang pura - pura dingin terhadap Ayah.
"Oohh.." Ayah ber'ohh ria namun dengan nada kecewa.
.
.
.
.
.
Setelah menghabiskan makan malam aku langsung masuk kekamarku sendiri, sementara Ayah dan Ibuku masuk kekamar mereka sendiri juga.
Sebenarnya aku sangat berharap mereka membuat sosok Adik diRumah ini, namun apa daya, Ayah tidak mau memberi Nafkah batinnya pada Ibu.
Ibu sebenarnya juga butuh Nafkah batin mengingat Usianya tak lagi muda, yaitu 38 Tahun.
POV Ayah
"Ehemm..Bu eee...apa Ibu masih mengharapkan seorang Anak dariku?." Tanya Ayah dengan ragu - ragu.
"Eee....m-masih dong Y-Yah." Jawab Ibu dengan nada bergetar.
"Ayah nggak tau Bu apa Ayah bisa mencintai Ibu sesuai yang Ibu dan Bagas minta. Ayah sendiri tidak mengerti apa itu cinta. Jadi Ayah nggak mau membuat Ibu dan Bagas kecewa karna Ayah tidak bisa mencintai kalian berdua, ka-kalo Ibu mau b-bercerai Ayah siap." Ucap Ayah dengan nada bergetar.
"Yah Ibu nggak peduli Ayah nggak cinta sama Ibu, karna Ibu yakin kalo Ayah pasti akan cinta sama Ibu dan Bagas. Karna Ibu dan Bagas terus memanjatkan doa kami kepada Allah SWT yang Maha membolak - balikan hati manusia. Ibu nggak perduli kapan Ayah akan jatuh cinta sama Ibu dan Bagas, tapi kami berdua pasti akan menunggu Ayah jatuh cinta dengan kami berdua, meski itu akan memakan waktu sangat lama." Ucap Ibu dengan nada sendu tapi dengan tatapan yakin.
Ayah yang mendengar penuturan Ibu pun sedikit tersentuh, karna dirinya sudah lama mengabaikan Istri serta Anak semata wayangnya.
Tapi mereka masih mengharapkan Dirinya yang sudah banyak membuat mereka kecewa.
"Yah, Ibu tetep nggak bakal pernah setuju untuk bercerai dengan Ayah sampai kapanpun, karna menurut Ibu pernikahan itu bukan main - main. Setelah Ayah mengucapkan Ijap Qubul, itu berarti kita sudah berjanji kepada Allah SWT untuk selalu bersama dalam sebuah ikatan yang abadi. Dan hanya maut yang dapat memisahkan kita." Lanjut Ibu.
Ayah pun termenung mendengar penuturan dari Ibu.
"Bu Ayah tau ini sedikit terlambat tapi Ayah ingin mengatakan, Ayah akan belajar mencintai Ibu dan Bagas. Setelah mendengar perkataan Ibu barusan Ayah jadi sedikit tersentuh Bu. Dan Ayah akan berusaha untuk mencintai kalian berdua dengan tulus." Ucap Ayah yakin.
Ibu pun meneteskan air mata karna tak menyangka bahwa Suaminya yang dingin dan datar itu mengucapkan kata barusan.
Bersambung..
.
.
.
.
.
Oke Teman - Teman bagaimana kabar kalian? semoga sehat selalu ya, author ingin terima kasih ke kalian karna sudah mau liat cerita author ini. Ini cuman karangan otak author aja
Terus suport author dengan cara klik Like Share ke temen - temen kalian serta klik tombol Favoritnya ya teman - teman.
__ADS_1
Sampai jumpa di next episode..