Membongkar Rahasia Sang Ayah

Membongkar Rahasia Sang Ayah
Perempuan Tadi Siapa?


__ADS_3

...Disarankan sesudah membaca untuk tekan Like, sama masukin Novel ini kedaftar Favorit kalian yašŸ¤—...


...----------------...


Sesampainya di Restoran mereka berdua mulai memesan makanan, ya karna ini masih pagi tentu mereka akan memesan makanan berupa Bubur Ayam.


"Makanan-nya enak ya Gas?" Tanya Kak Susi.


"Iya Kak, ini juga tempat makan Bubur Ayam favorit aku Kak. Aku aja udah kenal ama Abang yang jualan Bubur Ayamnya," ujar Bagas.


"Wah kamu sampai kenal sama yang jualan."


Mereka bersenda gurau bersama pagi itu, hingga datang se-Orang Pria paruh baya yang tak lain adalah Papa daru Bagas yaitu Dimas.


Note: Bagi yang belum tau siapa itu Dimas, kalian bisa cek di Episode •Tujuh Belas Tahun Silam• disitu bakal dijelasin siapa Dimas ini.


Oke lanjuttt...


"Kamu disini Nak?" Tanya Papa.


"Eh...Papa disini juga?" Tanya Bagas balik.


"Iya Nak, eh ini siapa? Pacar kamu Ya?" Tanya Papa dengan nada menggoda.


"Ih Papa mah, ini tu Kak Susi. Eh Bagas lupa ngenalin Papa ke Kak Susi, Kak Susi kenalin ini Papa aku, dan Papa kenalin dia Kak Susi dia itu Kakak Sahabatku," ucap Bagas dengan semangat.


"Selamat pagi Om, kenalin nama Saya Susi Prisila," ujar Kak Susi dengan sopan dan lembut.


"Saya Dimas, Saya Papap kandungnya Bagas."


Kak Susi mengernyitkan dahi karna bingung akan maksud dari Dimas.


"Ahhh...Kak Susi pasti bingung sama ucapan Papa, yaudah aku ceritain yang sebenarnya ke Kakak," tutur Bagas.


Bagas pun mulai menceritakan semuanya pada Kak Susi, Dimas sedari tadi hanya menyimak ucapan Bagas.


Dimas mulai berpikir apakah ini Wanita yang dibicarakan Bagas dengan-nya beberapa Hari lalu.


"Ooo...jadi begitu ya ceritanya," ucap Kak Susi yang sudah mulai mengerti apa yang terjadi.


Mereka bertiga berbincang layaknya sebuah Keluarga bahagia.


...----------------...


Malam hari pun tiba, kami ber-empat berbincang bersama hingga Ibu melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat ku bingung harus menjawab apa.


"Nak, kamu sudah Pacar?" Tanya Ibu.


Terlihat mata semua Orang yang ada di meja makan itu fokus pada Bagas.


"Eee...Bagas masih Sekolah Bu, Bagas masih belum mau punya Pacar," ujarku.


"Iya Bu, bener apa kata Bagas. Dia masih Sekolah jadi nggak mungkin dia Pacaran," tutur Ayah.


"Yahh...padahal aku ingin segera menggendong Cucu," celetuk Ibu.


Setelah mendengar hal itu, sontak membuat aku, Ayah, serta Eyang Putri tersedak hingga batuk.


Uhuk...uhuk...uhuk yah begitulah ucapan Bumil hingga membuat Orang yang mendengarnya terkejut bukan main.


"Bu, Bagas itu masih kecil hahhh...," ucap ku disertai helaan napas panjang.


Ayah dan Eyang Putri juga melakukan hal sama seperti yang aku lakukan, yaitu menghela napas panjang karna harus extra sabar dalam mengahadapi Bumil satu ini.


"Yahhh...tapi aku kan mau gendong Cucu hiks," ucap Ibu dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


Aku, Ayah, serta Eyang Putri pun menepuk dahi kami karna pusing dengan tindakan Bumil satu ini.


"Nur, dengerin Ibuk. Nur mau Cucu Nur nanti nggak dikasih makan sama Bagas?" Tanya Eyang Putri.


Ibu menggeleng tapi masih dengan mata yang masih berkaca - kaca.

__ADS_1


"Nah mangkanya biarin Bagas lulus trus nyari kerja dulu baru dia nyari Istri agar bisa buatin kamu Cucu Nur," tutur Eyang Putri.


Ibu terdiam sejenak lalu berkata.


"Yaudah deh Ibu mengerti, makasih ya Buk udah bikin Nuri mengerti," ucap Ibu sambil memeluk Eyang Putri.


"Sama - sama Nak, itu udah tugas Ibuk."


'Ya Allah, semoga Keluarga kecilku selalu bahagia. Aminn.'


...----------------...


Ke-esokan harinya Keluarga Aditara kedatangan Tamu yang tak diundang, yaitu Hilda Wulandari, umur 38 Tahun seperti Ibu, dia juga masih keliatan muda.


"Halo semua, selamat pagi," ucap Wanita itu dengan nada yang tak sopan menurut kami.


"Ada apa kamu kesini?" Tanya Ayah dengan nada dingin.


"Duh kok kamu selalu dingin ke aku sih," ucap Wanita itu.


Tanpa diduga Wanita itu langsung mendatangi Ayah dan duduk di paha Ayah.


"Beraninya kamu!" Bentak Ayah dan langsung mendorong Wanita itu.


"Ahhh...kamu kenapa dorong aku?" Tanya Wanita itu.


"Pergi kau, dasat menjijikan!!!" Ucap Ayah dengan memberi ekspresi jijik kepada Wanita itu.


"Dasar tak sopan siapa kamu hah?!" Bentak Eyang Putri yang dari tadi cuma diam.


"Oh maaf sebelumnya perkenalkan nama Saya Hilda Wulandari. Salam kenal Ibu Mertua," Ucap Wanita yang bernama Hilda itu.


Eyang Putri langsung menghempaskan tangan Wanita itu dengan kasar.


"Cih aku tak sudi punya Menantu sepertimu."


"Penjaga usir Wanita ini!!" Bentar Ayah dengan suara yang menggelegar di seluruh penjuru Rumah yang besar itu.


"Puji apa kamu lupa Hari yang kita lalui bersama hah?!" Tanya Wanita itu dengan nada membentak.


Hufffttt...Ayah menghela napas panjang karna masalah yang di hadapi Keluarga Aditara datang dengan bertubi - tubi.


"Yah, Perempuan tadi siapa?" Tanya Ibu yang sedari tadi cuman diam.


"Hah...dia Putri tunggal dari Keluarga Wulandari," ujar Ayah.


"Keluarga Wulandari itu Keluarga pemilik Perusahaan batu bara terbesar di Indonesia kan Yah?" Tanya Bagas.


"Iya Nak, dari dulu Hilda tak pernah berhenti mengejar Ayah. Bahkan dari Ayah Kuliah hingga punya Istri."


"Dia tak punya malu apa?" Tanya Eyang Putri dengan geram.


"Yahh...seperti yang tadi Ibuk lihat, dia emang dari dulu tak pernah punya malu, dia harus selalu mendapatkan apa yang dia inginkan," ujar Ayah sambil memijat pelipisnya.


"Ambisius," celetuk Bagas.


Ayah hanya mengangguk.


"Apa ini tidak akan menjadi masalah Yah?" Tanya Ibu.


"Ayah tidak tau Bu," ujar Ayah.


"Sudah sebaiknya kalian disini dulu, Puji ikut Ibuk," ucap Eyang Putri.


Ayah hanya mengangguk.


...----------------...


Mereka sampai di Ruang tertutup untuk berbicara empat mata.


"Ceritakan yang sebenarnya pada Ibuk Puji," ucap Eyang Putri dengan nada dingin

__ADS_1


"Hah...dia itu dulu pernah Pacaran sama aku Buk," ujar Puji.


"Kapan?" Tanya Eyang Putri.


"Sudah dari sebelum aku menikahi Nuri."


Plak...sebuah tamparan tepat mengenai pipi kiri Puji dari Ibuk nya.


"Dasar biadab kamu Puji, apa kamu tak punya hati hah?!" Bentak Eyang Putri karna tak habis pikir dengan kelakuan Putranya ini.


"Itu karna aku dulu belum men-Cintai Nuri Ibuk. Aku dulu masih men-Cintai Hilda," ucap Puji.


"Katakan pada Ibuk apa saja yang sudah kamu dia lakukan?" Tanya Eyang Putri.


"Kami belum melakukan apapun Ibuk, kami hanya sekedar ciuman," celetuk Ayah.


Plak...satu tamparan lagi diberikan Eyang Putri pada pipi kanan Anaknya.


Ayah mendesis karna kesakitan akibat tamparan dari sang Ibuk, pipi kanan Puji juga sedikit sobek.


"Kenapa kamu tidak mencoba untuk men-Cintai Nuri, justru malah men-Cintai Wanita lain Puji!!!" Bentak Eyang Putri, dia sudah muak dengan kelakuan Putranya itu.


"Katakan pada Ibuk apa lagi yang sudah kamu lakukan pada Wanita itu?" Tanya Eyang Putri dengan nada dingin.


"K-kami tidak melakukan hal lain selain berciuman Ibuk," jawab Puji dengan gagap.


"Jangan b.o.h.o.n.g pada Saya Puji!!!" Ucap Eyang Putri sambil menekan kata - katanya dan mengganti panggilan dari aku jadi Saya.


"K-kami sudah pernah melakukan hubungan badan Buk," jawab Puji dengan nada takut karna dia belum pernah melihat Ibuknya seperti ini.


"Dasar biadab!!!" Bentak Eyang Putri yang akan menampar Puji lagi.


"Berhenti Ibuk."


Eyang Putri pun berhenti begitu mendengar suara seseorang, begitu juga Puji yang meresa tak asing dengan suara tersebut.


Puji dan Eyang Putri segera melihat kearah pintu keluar yang terlihat Nuri dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Puji dan Eyang Putri terkejut karna melihat Nuri datang dengan mata yang sudah membasahi pipinya.


"Nur," panggil Eyang Putri pelan karna tak tega melihat Menantunya bernasib seperti ini.


"Cukup Buk, jangan tampar Eyang Putri lagi," ucap Nuri dengan pelan.


Eyang Putri pun mulai mengontrol kembali emosinya yang tadi sempat meledak karna ulah Putranya itu.


"Ayo Yah, Ibu bantu obati lukanya," tutur Nuri.


Ayah pun hanya mengikuti Nuri masuk ke Kamar mereka.


"Sudah berapa banyak yang kamu dengar tadi Bu?" Tanya Ayah.


"Semuanya Yah," ujar Ibu pelan sambil menahan air matanya agar tidak keluar.


Mendengar semua yang dikatakan Suaminya tadi benar - benat membuat hatinya hancur sehancur - hancurnya.


"Bu, Ayah minta ma-" belum sempat Ayah menyelesaikan ucapan-nya, Ibu sudah lebih dulu momotong ucapan Ayah.


"Ibu tau kok Yah, Ibu yang harusnya minta maaf karna dulu kurang berusaha untuk membuat Ayah men-Cintai Ibu," tutur Ibu dengan pelan sambil mengobati luka Ayah.


"Enggak begitu kok Bu, Ayah lah yang salah karna telah terlambat menyadari perasaan Ayah pada Ibu, maafin Ayah Bu," ujar Ayah.


"Yah, k-kita sebaiknya c-cerai aja Yah gimana?" Ucap Ibu dengan nada bergetar.


...----------------...


...Terimakasih sudah membaca Novel ini ya Teman - Teman. Author ingetin lagi kalau sudah baca tekan Likenya ya, kalau bisa sih sama Favoritnya ya hehešŸ˜…...


...Kalau ada yang salah dalam kata membuat kalian tidak nyaman boleh komentar dibawah ya, agar Author cepet Revisi. Author masih pemula soalnya jadi butuh banyak belajaršŸ™...


...See You In The Next EpisodešŸ‘‹...

__ADS_1


__ADS_2