
"Yah, bisa nggak sih Ayah itu jangan dingin banget ke Bagas!" bentak ibu.
Sedangkan ayah hanya mengacuhkan ibu yang dari tadi bicara kepadanya dengan nada marah.
"Ayah ini paling nggak itu punya perasaan dikit kepada Bagas Yah...kasihan dia, dia juga kan Anak Ayah...," lirih ibu sambil memegang kerah baju ayah.
"Anakku? Anak kamu kali, bukan anakku, aku nggak pernah punya Anak seperti dia."
"Yah...Ibu mohon Yah...Ibu mohon Ayah berubah," lirih ibu dengan air mata yang sudah keluar.
Ayah menepis tangan ibu yang memegang kerah bajunya dan segera meninggalkan kamar mereka untuk pergi entah kemana.
Sementara ibu, beliau hanya terduduk lemas seraya menangis pelan.
"Hiks...Ayah...kapan kamu berubah Yah, maafin Ibu di masa lalu Yah...."
..........
Keesokan paginya Bagas dan ibu sarapan tanpa kehadiran ayah, entah kemana ayah pergi semalam setelah mereka berdua berdebat.
"Bu, Ayah mana?" tanya Bagas sembari memakan sarapan buatan ibunya.
"Ayah udah berangkat dari tadi pagi Nak, katanya sih ada meeting penting hari ini," bohong ibu.
Bagas hanya mengangguk mengerti.
"Ya udah kalo begitu Bu, Bagas berangkat dulu ya."
"Iya Nak, belajar yang pinter ya," pesan ibu.
"Iya Bu, assalamualaikum," pamit Bagas.
"Waalaikumsalam."
Bagas berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya.
Sesampainya di sekolah Bagas langsung disambut oleh ketiga sahabat baiknya.
"Halo bro," ucap Rendy.
"Assalamualaikum," ujar Bagas.
Rendy jadi salah tingkah karna dia lupa mengucapkan salam terlebih dahulu.
Gilang dan Galang hanya menggelengkan kepalanya karna tingkah salah satu sahabat mereka.
"Waalaikumsalam," jawab mereka bertiga.
"Eh bro, gue mau tanya nih," ucap Rendy.
"Tanya ke siapa?"
"Ke elo lah," ucap Rendy sambil menunjuk Bagas.
"Oh...gue?" tanya Bagas.
"Iyalah, emang siapa lagi hufft...," ucap Rendy sembari menghela napas kasar.
"Yaudah mau tanya apa?"
"Gue mau nanya nih, menurut lo Zahra itu gimana sih?" tanya Rendy.
"Emang kenapa lo tanya dia, lo suka ya sama dia?" tanya Bagas.
"Is...bukan gitu, gue tuh cuman mau nanya pendapat lo aja," elak Rendy.
"Kalo menurut gue Zahra itu orangnya dingin, cuek sama nggak suka mencampuri urusan orang lain," jawab Bagas jujur.
__ADS_1
"Nah sama dong berarti kayak Ayah lo," ujar Rendy.
"Eh iya juga ya."
"Iya lho, Zahra tuh mirip sama Ayah lo, mending lo pepet aja dia," celetuk Gilang.
"Ho'oh, dari pada nanti direbut orang lain," ujar Galang.
"Emang ada yang mau jadi Pacar Cewek dingin kayak dia?" tanya Rendy.
"Eh kayaknya belum ada deh," ucap Gilang.
"Iya, sejauh yang gue inget Zahra tuh belum pernah punya Pacar deh," ujar Galang.
"Udah lah, ini malah pada ngegosip, yok kita masuk kelas, udah bell itu."
"Ayok," ucap mereka bertiga.
'Kalau dipikir - pikir Zahra itu cantik juga ya, baik meski kadang dingin sama jutek.'
Tanpa sadar Bagas dan Rendy memikirikan hal yang sama, yaitu Zahra si cantik yang dingin.
...........
"Ayah dari mana aja?!" tanya ibu dengan kesal.
Ayah tidak menghiraukan pertanyaan ibu, ayah saat ini sedang sangat lelah jadi malas untuk mendengarkan ocehan istrinya tersebut.
"Ayah kalau ditanya jawab kenapa sih," geram ibu.
"Udah deh Ibu diem aja, Ayah tuh pusing denger ocehan Ibu terus!" bentak ayah.
Ibu yang baru dibentak suaminya tersebut hanya mengelus dadanya sambil terus beristighfar.
Ayah memijat pelipisnya lalu meninggalkan istrinya untuk menuju ke kamar mereka.
'Ya Allah, hamba mohon....tolong rubalah Suami hamba menjadi lebih baik, hamba mohon ya Allah....'
"Assalamualaikum Bu, Bagas pulang," salam Bagas.
"Waalaikumsalam Nak, sudah pulang?" tanya ibu.
"Sudah Bu, oh iya ngomong - ngomong apa Ayah udah pulang?" tanya Bagas.
"Udah Nak, dia lagi di kamar buat mandi dulu, udah kamu ke kamar sana, ganti baju terus makan bersama disini," ujar ibu.
"Iya Bu."
Bagas dengan segera masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian-nya.
Bagas lalu turun untuk makan bersama, dan disana dia juga melihat sang ayah yang sudah selesai mandi.
"Udah pulang Yah?" tanya Bagas.
"Hem," balas ayah tanpa melihat kearah Bagas.
Bagas lalu segera duduk untuk mengambil makanan-nya, sementara sang ayah diambilkan oleh istrinya.
'Ya Allah...kapan situasi ini bisa berubah ya Allah.'
Ibu hanya memandang Keluarga kecilnya itu dengan perasaan sedih.
Selama bertahun - tahun tidak pernah ada yang berubah di antara mereka sama sekali.
'Maaf Nak.'
Ucapan itu tak pernah Ayah sampaikan langsung dari mulutnya, melainkan hanya dari hatinya saja.
__ADS_1
..........
'Eh siapa ini.'
Zahra baru saja ingin mandi tiba - tiba ada pesan yang masuk ke ponselnya.
08**********: P
08**********: P
Terlihat ada dua pesan yang masuk secara bersamaan di ponselnya Zahra.
'Siapa dua nomer ini, kok bisa waktunya bersamaan gini sih.'
Tanpa banyak ba bi bu Zahra segera membalas pesan tersebut.
Zahra: Maaf ini siapa Ya?
Zahra: Maaf ini nomer siapa ya?
Zahra mengirim pesan ke dua pengirim tersebut dengan waktu yang hampir bersamaan.
08**********: Save ya Zahra, ini Bagas.
08**********: Sv Rendy.
Ternyata kedua pengirim pesan tersebut adalah Bagas dan Rendy.
Tanpa sengaja mereka berdua mengirim pesan kepada Zahra dalam waktu bersamaan.
'Oh...jadi mereka berdua ini yang selalu jalan bareng sama dua Orang lagi yang mirip itu ya.'
Zahra: Dapat nomer aku dari mana?
Zahra: Kok bisa dapet nomer aku?
Bagas: Aku dapat nomer kamu dari Temen aku.
Rendy: Gue dapet nomer lo dari si Romlah.
Zahra: Ada perlu apa Gas ngirim pesan ke aku?
Zahra: Ada perlu apa lo ngirim pesan ke gue hah?
Bagas: Aku cuman mau nyuruh kamu save nomer aku aja, biar tambah Temen gitu.
Rendy: Kepo lo, udah ya gue off dulu.
'Dih, yang satu sopan dan santun, eh yang satu lagi nggak tau sopan santun, hadeh.'
Zahra hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah kedua sahabat itu.
...........
"Yah, kemarin Ayah kemana aja, jawab jujur," titah ibu.
"Udah deh, kamu mau tau aja, Ayah itu pusing mau tidur," balas ayah.
"Yah, kita ini Suami Istri, paling tidak bisa dong Ayah menghargai aku sedikit saja! Ibu capek Yah, Ibu lelah sama hubungan yang seperti ini terus...."
"Untuk apa aku menghagaimu sementara kamu sendiri dulu seperti apa!" bentak ayah.
"Itu cuman masa lalu aku Ayah, kenapa kamu selalu mengungkit kejadian di masa lalu terus menerus!" bentak ibu yang tidak mau kalah.
"Oh...memangnya kamu sudah memberi tau kejadian yang sebenarnya kepada Bagas?" ucap Ayah santai.
Ibu terdiam seketika tanpa bisa membalas ucapan suaminya.
__ADS_1
"R-rahasia apa yang kamu m-maksud Yah?"
Bersambung..