
"Halah...udahlah, aku capek mau tidur,'" ucap ayah yang bergegas akan tidur.
Ibu hanya menghela napas kasar lalu ikut tidur juga bersama suaminya, mereka saling memunggungi satu sama lain.
Suami istri yang bisa dibilang jauh dari kata harmonis dan bahagia. Senda gurau juga jarang terjadi diantara mereka, kedua pasangan itu bak orang asing yang tinggal satu atap.
Jarang ada kontak diantara mereka kalau ibu tidak membuka pembicaraan terlebih dahulu.
'Yah, maafin Ibu Yah....'
Ibu meneteskan aii matanya sambil memunggungi sang suami. Ibu lalu kembali bangun u
ntuk melakukan salat tahajud.
'Ya Allah, maafkan kesalahan hamba dimasa lalu ya Allah...hamba sadar bahwa hamba itu salah. Sangat salah besar, tapi...apa kesalahan itu sama sekali tidak bisa dimaafkan ya Allah.'
Ibu berdoa dengan kedua tangan yang terangkat keatas dan sambil meneteskan air matantya dia meminta pengampunan kepada Tuhan.
Disisi lain Bagas juga sedang melakukan salat tahajud agar diberi petunjuk untuk permasalahan yang sedang dihadapi Keluarga kecilnya ini selama bertahun - tahun.
'Ya Allah...Bagas ingin minta ya Allah, Bagas mohon ringankan masalah yang sedang di hadapi Keluarga Bagas ya Allah...beri petunjuk kepada Keluarga Bagas ya Allah...'
Bagas tanpa sadar mulai meneteskan air matanya, kedua tangannya terangkat keatas untuk meminta pertolongan kepada Tuhan.
Bahkan Bagas sampai tertidur di sajadah yang dia gunakan untuk salat. Masalah yang dihadapi Keluarga kecilnya membuat Bagas lelah secara mental.
...........
"Hoam...eh aku ketiduran disini semalam?"
Bagas pun segera membereskan semuanya lalu bergeges untuk mandi.
"Pagi Yah, Bu," salam Bagas.
"Pagi Nak," balas ibu.
Sementara sang ayah hanya tidak menanggapinya, dia hanya fokus memakan makanan yang sudah dimasak istrinya tersebut.
Bagas sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, ibarat kata dia sudah kebal akan sikap dingin yang diberikan oleh sang ayah.
Bagas lanjut duduk dan segera memakan makanan yang dibuat sang ibu terCinta yaitu Nasi Goreng.
"Bu, nanti aku dianter Supir aja ya," ucap Bagas disela - sela mereka makan.
"Lho kenapa Nak?" tanya ibu heran.
Tak biasanya Bagas minta diantar oleh seorang Supir, karena setiap harinya dia selalu menggunakan motor kesayangannya tanpa mau diantar oleh sang Supir.
"Motor Bagas rusak Bu," ucap Bagas sambil menggaruk tengkuknya.
"Oh ya udah, nanti kamu panggil aja Supirnya sendiri ya," ujar ibu.
"Siap Bu," jawab Bagas sambil menunjukan hormat bak tertawa.
Semua orang melihat adegan lucu yang dibuat oleh Bagas, termasuk Pembantu - Pembantu yang ada di rumah ini, tapi tidak dengan sang ayah, dia hanya menunjukkan wajah datarnya.
"Ayah berangkat dulu, Assalamualaikum."
Tanpa menunggu balasan dari sang istri serta anaknya, ayah segera berdiri dari kusinya dan bergegas menuju keluar untuk berangkat ke Kantornya.
"Waalaikumsalam," jawab Bagas dan sang ibu
"Kapan sih Bu, Ayah bisa berubah, Bagas capek liat keadaan Keluarga kecil kita yang tetap seperti ini selama bertahun - tahun," ucap Bagas sambil memasang wajah sendu.
Ibu tak tega melihat wajah anaknya tersebut berubah menjadi sendu, segera menghiburnya dengan kata - kata yang bisa menjadi penyemangat untuk Bagas.
"Sabar ya Nak, Insyaallah Ayah pasti bisa berubah, itu semua tak lepas dari Allah SWT yang ikut membantu dalam setiap permasalahan kita. Jadi kita harus banyak - banyak berdoa ya Nak," tutur ibu dengan lembut.
"Iya Bu, Bagas ngerti, kalau begitu Bagas pergi dulu ya Bu, Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Bagas segera memanggil Supir yang bekerja dirumahnya agar bisa mengantar dirinya ke Sekolah.
"Pak, anterin Bagas ke Sekolah ya." Titah Bagas.
"Oh siap Den," ucap Supir tersebut.
Tanpa basa - basi lagi sang Supir segera mengambil mobil untuk mengantarkan Bagas ke Sekolahannya.
Tak berselang lama datanglah sang Supir tersebut sambil membawa sebuah mobil mewah lalu segera memanggil Tuan mudanya yang tengah fokus bermain handphone.
"Ayo Den kita berangkat," ujar si Supir.
Bagas sedikit terkejut dengan suara yang menyadarkannya dari dunia internet milik handphonennya.
"Eh iya Pak, ayo," ucap Bagas.
Mereka segera berangkat untuk ke Sekolah, si Supir ingin agar Tuan mudanya tak terlambat ke Sekolah pun menaikan kecepatan mobil dengan agak kencang.
Bukannya diberi pujian, sang Supir justru mendapat teguran dari Tuan mudanya tersebut.
"Pak, jangan ngebut - ngebut ya, santai aja dari pada nanti bikin kita kecelakaan," tegur Bagas.
"O-oh siap Den, m-maaf ya Den," ucap si Supir sembari menurunkan kecepatan mobil yang tengah dibawa nya.
"Iya Pak, lain kali jangan begitu lagi ya Pak, soalnya bahaya, bisa bikin orang lain juga yang terkena dampaknya," tutur Bagas.
Sang Supir hanya mengangguk, karena memang disini dirinya lah yang salah, karna dirinya bisa saja membahayakan orang lain serta Tuan mudanya.
Mereka pun sampai di Sekolah, pandangan mata semua orang tertuju pada mobil mewah yang berhenti di depan Sekolah.
Pintu mobil itu terbuka dan terlihatlah Bagas keluar dari mobilnya, tapi sebelum itu dia berpesan kepada sang Supir.
"Pak, nanti jemput Bagas ya, nanti masalah jam pulang Bagas kirim," ujar Bagas.
"Oh siap Den, kalau begitu saya pamit dulu ya Den," ucap si Supir.
"Assamualaikum," salam sang Supir.
"Waalaikumsalam," jawab Bagas.
Mata kaum Hawa fokus pada Bagas yang terlihat beda dari biasanya.
"Eh, itu Bagas ya?"
"Eh iya dong, dia keliatan lebih tampan ya."
"Iya, biasanya kan dia bawa motor sendiri, jadi nggak keliatan keren, sekarang bawa mobil jadi keliatan beda."
"Mungkin pakai motor bikin rambut nya keliatan kusam gara - gara kena helm, sama seragamnya yang jadi lecek gara - gara kena terpaan langsung dari angin."
"Aduhai ganteng banget, kok aku baru sadar ya Bagas itu ganteng."
Kira - kira begitulah ucap para Wanita yang ada di Sekolah nya yang melihat Bagas hari ini.
Ketiga sahabat Bagas segera menghampirinya.
"Tumben lo naik mobil Gas, diantar sama Supir lagi," ucap Rendy.
"Iya, biasanya kan lo naik motor kesayangan lo itu, motornya kemana emang?" tanya Gilang.
"Rusak bro, dari kemarin mogok - mogok mulu, jadinya ku benerin di bengkel deh."
"Putra dari Keluarga terkaya di Indonesia nggak mau ganti motor? motorkan murah kalo dipegang sama Keluarga lo," ujar Rendy.
"Pengen sih ganti motor, tapi...masih sayang sama motor yang ini, jadi enggak dulu deh," jawab Bagas.
Bagas memang sangat menyanyangi motor miliknya, bahkan sang ibu pernah menyuruh Bagas untuk mengganti motor tersebut karena motor itu sudah tua.
__ADS_1
"Orang kaya kalau mau ganti motor gampang banget ya, tinggal gesek - gesek karna atau nggak transfer udah muncul barangnya," ucap Gilang dengan raut wajah sedih.
"Iya ya Lang, kapan hidup kita ini berubah ya," sahut Galang.
Gilang dan Galang terlahir dari Keluarga kurang beruntung, mereka berempat sudah bersahabat sedari SMP.
Dulu saat mereka akan masuk ke SMA mereka ingin masuk ke SMA yang sama, tapi SMA yang Gilang dan Galang akan masuki tergolong mahal jadi mereka berdua dulu tidak bisa masuk ke SMA tersebut.
Untungnya ada Bagas yang bersedia membayar semua biaya saat mereka akan masuk ke SMA ini, jadi mereka berempat sekarang dapat masuk ke SMA yang sama.
"Yang sabar ya bro, semoga saja di masa depan kalian dapat merubah nasib Keluarga kalian," ujar Bagas.
"Amin."
"Udah yuk kita masuk, udah bell itu," ucap Bagas yang mendengar bunyi bell masuk Kelas.
Mereka berempat segera masuk ke Kelas bersama, dan tepat saat mereka berempat masuk datanglah Pak Guru mereka.
"Assalamualaikum Wr.Wb."
"Waalaikumsalam Wr.Wb," jawab seluruh murid yang ada di Kelas tersebut.
"Oke Anak - Anak, pelajaran akan kita mulai jadi Bapak mohon tolong tenang dan perhatikan baik - baik ya," ujar Pak Guru.
"Baik Pak."
...........
Sementara itu Ibu sedang belanja bersama teman - temannya.
"Eh Jeng, ngomong - ngomong Suami kamu itu masih dingin ya ke kamu sama Anak kamu itu ya Jeng?" tanya salah seorang teman ibu.
"Yah begitulah Jeng...aku capek seperti ini terus," ucap ibu dengan memasang wajah sedih.
"Yang sabar ya Nur, insyaallah kamu sama Anak kamu itu bisa menghadapi semua ini."
"Amin Jeng."
Para ibu - ibu itu mulai shopping, perawatan agar bisa menyenangkan suami mereka, tapi Nuri tidak pernah bisa menyenangkan suaminya sendiri.
Saat Nuri ingin memancing suaminya dulu untuk berhubungan badan, suaminya itu selalu menolaknya. Suaminya pernah bilang kalau Nuri itu kotor dan dia berkata dia tidak akan pernah menyentuh Nuri.
Setelah mendengar hinaan dari suaminya itu, Nuri tidak lagi mencoba untuk membuat suaminya menyentuh dirinya.
Tidak mengharapkan bukan berarti menyerah ya, Nuri terus - menerus berusaha agar suaminya tidak dingin kepadanya. Minimal kepada Bagas, dia sedari awal lahir belum pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.
Nuri terus berdoa kepada Tuhan agar suaminya itu berubah, paling tidak demi Bagas, tapi ayah tidak pernah memiliki keinginan untuk berubah sama sekali.
Hati ayah sudah tertutup oleh es, dan hal itu membuatnya menjadi b*ta akan Cinta tulus yang diberikan oleh istrinya.
Untung saja Keluarga besar mereka tidak mengetahui akan sikap dingin ayah kepada istri dan anaknya.
...........
Di Kantor, ayah sedang meeting bersama Karyawan lainnya, tapi dia kebanyakan melamun saat meeting tersebut sedang berlangsung.
"Bagaimana menurut Bapak?" tanya salah seorang Karyawan disana.
"Hah, eh ee...i-iya bagus kok bagus," ucap ayah yang baru tersadar akan lamunannya.
"Pak...dari tadi saya perhatikan Bapak ini kebanyakan melamun, apa meeting ini kita hentikan saja dulu," ujar Karyawan tersebut.
"Iya, sebaiknya begitu dulu, meeting kita akhiri sampao disini," tegas ayah.
Ayah lalu kembali ke ruangan kerjanya dan kembali melamun seperti tadi.
'*Ya Allah, apa hamba salah bersikap selama ini, tapi hamba tidak masih tidak terima akan perbuatan istri hamba di masa lalu ya Allah.'
'Bagas sebenarnya tidak bersalah disini, namun setiap kali melihat wajah Bagas, kenapa aku jadi kesal ya*?.'
__ADS_1
Bersambung..