Menaklukkan Hati CEO Kejam

Menaklukkan Hati CEO Kejam
Jerol Sakit 2


__ADS_3

pagi ini Alea masuk ke kamar Jerol bukan untuk menyiapkan air mandi ataupun pakaian kerja nya melainkan memastikan kondisi tubuh Jerol apakah masih sakit atau sudah sembuh.


"ya Tuhan badan nya semakin panas", Alea berbicara sendiri sambil bergegas ke luar kamar untuk mengambil kompresan di dapur.


setiba nya di lantai atas Alea dengan sigap mengompres kepala Jerol.


"um uh".Jerol mengeliat saat merasakan benda menyentuh kening nya.


"bapak sudah bangun? maaf saya langsung mengompres bapak tanpa minta ijin terlebih dahulu".


"aair"


"oh bapak haus,sebentar saya ambilkan minuman dulu". Alea dengan sigap mengambil minuman untuk Jerol dan membantu mengangkat kepala nya agar Jerol mudah untuk menelan minuman nya.


glek,glek,glek, suara di tenggorokan Jerol begitu kuat terdengar.


setelah kembali membaring kan Jerol Alea kembali mengolesi minyak angin di kepala Jerol.


"apa kepala nya juga sangat pusing?"


"ya"


"saya harus turun ke bawah dulu membuat bubur untuk bapak,setelah sarapan baru kita minum obat penurun panas ya".


Jerol tidak menjawab perkataan Alea, dan Alea pun juga langsung beranjak dari duduk nya.


Sementara itu di dapur mbok inem yang melihat Alea tengah sibuk membuat sesuatu menegur nya.


"Si nduk sedang buat apa?". mbok inem berbicara tepat di belakang Alea.


"Aduh si mbok ngagetin Alea aja"


"habis nya si nduk dari tadi serius bener sampai si mbok masuk ke dapur gak di hiraukan"


"ini, Alea lagi buat bubur buat pak Jerol, dia lagi demam pasti mual jika makan makanan yang berminyak, jadi Alea berinisiatif buatin bubur dan juga sup ayam untuk pak Jerol"


"cie perhatian banget si"


"ih si mbok apaan si". Alea berbicara dengan malu-malu saat mbok inem berusaha menggoda nya.


"oh ya mbok apa ada obat penurun panas?"


"ada itu di lemari atas paling ujung di situ ada kotak obat si nduk cari aja obat penurun panas". mbok inem menunjuk lemari paling ujung karna di situ jauh dari jendela dan juga kompor jadi aman untuk menyimpan obat-obatan.


"semoga semakin ada kemajuan ya nduk". mbok inem berbicara sambil mata nya menatap panci bubur Alea.


"ih si mbok,kemajuan apa coba"

__ADS_1


"ya kemajuan sembuh atuh nduk"


"oh kirain kemajuan apa"


"hayo kemajuan apa yang ada di fikiran si nduk?"


"ih gak ada mbok, jangan godain Alea terus entar masak nya jadi gak kelar-kelar mbok"


"ya udah lanjutin masak nya si mbok mau lanjut nyuci pakaian dulu"


"iya mbok".


mbok inem pun melangkah menuju samping dapur tempat mencuci pakaian,tapi baru hilang sekejap di balik tembok mbok inem kembali lagi sambil berteriak.


"harus ada kemajuan ya nduk".


setelah selesai berkata mbok inem pun berbalik lagi melanjut kan cucian nya,Alea yang terus di goda oleh mbok inem hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala nya saja.


Saat tiba di kamar,Alea masih melihat pemandangan yang sama. Jerol yang masih setia terlentang dengan kain kompres di kening nya. dengan hati-hati Alea membawa nampan menuju nakas.


"pak,pak Jerol ayo sarapan dulu"


"saya tidak selera makan".Jerol menjawab dengan mata yang terpejam.


"bapak harus makan walaupun sedikit,ayo saya suapi"


"saya tidak selera Alea".Akhirnya Jerol bangun juga saat Alea berusaha mengangkat tubuh nya sehingga posisi nya Jerol bersandar pada kepala dipan ranjang.


"yakin bapak tidak ingin makan?,dari semalam bapak pasti belum makan"


"emm"


"ya sudah kalau tidak mau saya saja yang makan". Alea menyeruput kuah sup dan juga memakan sayuran serta daging nya di hadapan Jerol. dia makan begitu lahap.


"ini sangat enak pak".Alea menyodorkan sendok ke mulut Jerol tetapi masih tetap mendapat gelengan.


"anda tau pak, ini adalah masakan yang selalu di buat oleh ibu saya saat saya sedang sakit. ah saya jadi rindu dengan ibu".


sambil terus menyuapi diri nya sendiri Alea masih terus mencoba menyuapi Jerol. setelah mencoba beberapa kali akhir nya tanpa di sadari mereka makan berdua dalam mangkuk yang sama.


"wah bapak sangat pintar menghabiskan makanan nya,sekarang kita minum obat ya"


"kalau itu aku tidak mau"


"memang nya kenapa?"


"aku bilang tidak mau ya tidak Alea"

__ADS_1


"ayolah biar bapak cepat sembuh,hanya satu saja tidak banyak"


"saya bilang tidak Alea saya tidak bisa menelan obat itu".Jerol langsung menutup mulut dengan kedua tangan nya saat menyadari dia telah membuka aib nya sendiri.


Alea yang menyadari bahwa Jerol malu jika dia tidak bisa menelan obat pun tak berani menertawakan nya. bisa-bisa obat ini tidak akan di minum nya nanti.


"oh itu hal yang biasa pak, dulu saya juga tidak bisa menelan obat tapi ibu selalu punya cara agar obat itu tetap tertelan"


"benar kah?


"iya, ayo kita coba"


"tapi itu pasti sangat pahit Alea".Jerol berusaha menolak.


"ah pahit nya tidak akan lama pak,bisa bapak coba saja cara saya ini"


"saya agak curiga dengan kamu Alea".Jerol memicingkan mata nya tetapi Alea hanya tersenyum menanggapi omongan Jerol.


setelah melumatkan obat, Alea memberi nya sedikit air agar mudah di telan.


"sekarang pegang gelas air ini, dan buka mulut bapak dan mata bapak melihat ke atas".Setelah di beri aba-aba oleh Alea, Jerol pun mengikuti nya dengan patuh.


"glek", satu tarikan saja obat itu telah sempurna masuk ke dalam tenggorokan Jerol.


"ah pahit sekali, glek,glek,glek". Jerol meminum air di dalam gelas hingga habis tak bersisa.


"apakah kamu memberikan racun pada saya Alea?"


"tentu saja saya memberikan obat mana mungkin saya berani memberi racun,bapak ini ada-ada saja"


"ah kenapa rasa nya sangat pahit sekali"


"sudah jangan di ingat lagi,itu bisa menghilangkan rasa pahit dengan alami"


"kamu sudah seperti seorang dokter saja".


Alea hanya tersenyum menanggapi omongan Jerol.


"Sudah bapak istirahat lagi,jika masih terus mengoceh bapak tidak akan bisa sembuh".


"kamu mulai berani ya kepada saya saat saya dalam keadaan lemah seperti ini"


"mana mungkin saya berani terhadap bapak, bapak ini ada-ada saja, selalu saja berfikiran negatif terhadap saya".


Alea memperbaiki selimut Jerol,juga dia mencelupkan lagi kain kompresan ke dalam air kemudian memeras nya dan menaruh nya di kening Jerol.


"ayo pejam kan mata bapak,saya harus menyimpan nampan ini di dapur,nanti saya akan kembali lagi ke sini"

__ADS_1


"emm pergi lah".


Saat Alea kembali ke kamar Jerol telah tertidur dengan lelap karna pengaruh obat yang Alea beri, Alea pun terus-menerus memeriksa kompresan Jerol sambil duduk di lantai samping ranjang,jika di rasa kompresan nya sudah mulai menghangat Alea kembali mencelupkan nya ke dalam air kemudian memeras nya dan menaruh nya di kening Jerol, begitu lah seterus nya hingga tanpa sadar Alea ikut tertidur dengan kepala nya di letakkan di ranjang dan akhir nya mereka tidur juga dalam satu kamar yang sama.


__ADS_2