
Bima membuka pintu secara perlahan
seorang pria kesayangannya masih tertidur disana, menutup matanya rapat tak tau entah kapan akan terbangun
Bima melangkah masuk tak lupa dirinya menutup pintu kembali, dia mendudukkan dirinya di sebuah kursi di samping ranjang Roni
Roni adik kesayangan Bima, keluarga yang dia punya satu-satunya kekuatannya hingga bisa bertahan pada saat ini
Lelaki ceria yang sangat suka mengajak abangnya berantam, mengganggu saat abangnya terlalu sibuk bekerja dan lupa waktu, dan sangat suka bermanja-manja ke abang lelaki satu-satunya.
Hidup dengan keluarga yang tak utuh mengajarkan Bima apa itu yang namanya berjuang hidup sambil bekerja keras, menjaga dan menyanyangi ibu dan adiknya
Bekerja keras untuk membiayai hidup keluarganya, dulu ayahnya hanya seorang supir taksi beliau meninggal saat kecelakaan beruntun di jalan tol
meninggalkan Bima yang masih kelas satu SMA, adiknya Roni yang masih duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama dan ibunya yang sudah lama mengalami penyakit jantung
suka tidak suka, mau atau tidak Bima harus menggantikan ayahnya mencari kebutuhan hidup
Bima harus bekerja sambil sekolah,
sering ibunya meminta untuk bekerja dan mengatakan bahwa anak-anaknya harus sekolah, namun Bima tidak pernah mengijinkannya biarlah dirinya saja yang akan menjadi tulang punggung keluarga
dengan kepintarannya dia diterima di sebuah perusahaan yang lumayan besar
bekerja paruh waktu hingga sekarang dia mampu membangun dan mengembangkan perusahaannya ke puncak tertinggi.
Bima meneteskan air mata dalam diam mengingat semua kejadian itu, namun sekarang kebahagiaannya harus menghilang, seorang ibu yang sangat di sanyanginya menyusul sang ayah, dan adik kesayangan satu-satunya harus terbaring lemah dan bertahan hidup dengan bantuan alat-alat kesehatan yang terpasang di tubuhnya.
"Dek ini abang, kamu kapan sehat kembali dan bercanda kembali dengan abang??,
__ADS_1
Abang udah ga marah kok jika kamu usilin
ayo bangun usilin abang aku rindu itu semua dek"
"melihatmu seperti ini membuat rasa benciku kepada wanita itu semakin bertambah, hari ini saja abang hampir membunuhnya tapi aku tidak bisa entah kenapa"
"Dek cepat sadar yahh, aku sangat kangen sama tawa kamu, kemanjaan kamu, ke usilan kamu, sifat ceria kamu abang kangen semuanya"
"Dek, abang pergi dulu yahh nanti abang berkunjung lagi cepat sadar yah" kata Bima tak mampu membendung airmatanya.
Bima menghapus air matanya dan melangkah keluar dari ruangan itu, dan pergi mengecek keadaan Anna
kreeekkk
Anna menoleh ke arah pintu pandangannya sejenak bertemu dengan Bima dan kembali menundukkan kepalanya
"Aku sangat benci wanita ini" batin Bima
"Ga usah sok lemah, aku tidak mau repot-repot menjagamu disini" Lanjutnya lagi
"Kalau begitu ayo kita pulang sekarang tuan, aku juga tidak nyaman disini" kata Anna memberanikan diri
"kau memerintahku??"
"bukan tuan, tapi tuan yang bilang tidak mau repot-repot menjagaku"
"kau mau mengejekku?"
"tidak tuan, saya tidak berani"
__ADS_1
"terus kenapa kau mengulang-ulang ucapakanku"
"saya hanya menje-"
"ahh sudah-sudah aku malas berdebat denganmu" Kata Bima
"Maunya apasih ni orang katanya tadi mau ini sekarang tidak lagi, dasar aneh" batin anna
"aku tau apa yang kau pikirkan, jadi jangan coba-coba berpikir untuk mengutukiku di dalam hatimu" kata Bima dengan memandang tajam ke arah Anna
"ahahaha tidak tuan saya tidak berani"
"baguslah jika begitu, dan bereskan semua barang-barangmu kita akan pulang sekarang"
"yeyy makasih tuan" kata Anna riang sambil memeluk Bima
deg
"sialan kenapa jantungku malah berdetak kencang" Batin bima
"hey jangan sok manja dengan saya dan jangan pernah sentuh saya, saya jijik paham!!" bentak Bima padahal hatinya berkata lain
"ehh maaf tuan, saya terlanjur senang"
"hmmm lain kali tidak di ulangi lagi"
yaelah bang bisa ae lohh sok gengsi padahal mahh maunya lebih lama lagi di peluk-peluk, jangan sampe nyesal lohh
entar juga nanti bucin πππ
__ADS_1
suka tinggal bilang napa??, entar di ambil orang nyesal luu