
Mentari pagi telah mulai menampakkan cahaya ke emasaannya di ufuk Timur. Tomi yang sudah siap dengan segala keperluannya, keluar dari apartemennya dengan hati-hati, di lengkapi dengan masker hitam, topi dan kaca mata yang serba hitam layaknya seorang artis yang menghindari para Fans di tempat Umum dia berjalan menuju tempat yang sudah Vani instruksikan.
Lima menit berjalan dari arah depan tampak sebuah mobil yang sudah menunggunya dengan seorang sang sopir berdiri di samping mobil tersebut.
"Dengan tuan Tomi kan?" ucap sang sopir yang memakai pakaian serba hitam juga.
"Iya saya sendiri." ucap Tomi sambil menganggukkan kepala.
"Baik Tuan, nona Vani sudah menunggu Anda di mobil"
Tomi mengikuti langkah sang sopir yang sudah melangkah mendahuluinya. Pintu terbuka secara otomatis menyambut Tomi.
"Masuk" suara Vani dari dalam.
Tomi masuk ke dalam mobil, sementara barang yang di bawanya sudah di masukkan sang sopir ke bagasi di belakang. Setelah selesai sang sopir melangkah ke pintu depan dan duduk di depan kemudi.
"Jalan pak" Ucap vani memecahkan keheningan.
"Baik nona." ucap sopir sambil menjalankan mobilnya.
"Kenapa kau sendiri yang datang menjemputku?, bagaimana jika anak buah Tomi tiba-tiba melihatmu dan semua rencana kita akan hancur." Omel Tomi yang sudah kaget dari tadi melihat kehadiran Vani disana.
"Aku harus melihat sendiri Kau pergi, aku tidak percaya jika aku menyuruh anak buahku. Bisa saja nanti Para suruhan Bima menghajar dan menyuruh mereka melaporkan berita palsu untukku." Ucap Vani panjang lebar.
"Wahh kau sungguh mempertimbangkan semuanya, aku tidak salah menjalin kerja sama dengan wanita se licik dirimu ha ha ha ha" Tomi tertawa sambil bertepuk tangan.
"Hmmm" jawab Vani sambil tersenyum.
__ADS_1
Perjalanan memakan waktu tiga puluh menit menuju Bandara. Dalam perjalanan Vani menjelaskan apa saja yang harus Tomi lakukan di korea selatan untuk Anna.
"Aku sudah mengurus segala keperluan dan pekerjaanmu disana, dan yang paling penting kamu harus membuat Anna jatuh cinta padamu setidaknya jika tidak bisa buat dia berhutang budi padamu." Ucap vani
"Pekerjaan yang ku urus juga bukan sembarang pekerjaan, kau akan bekerja di sebuah perusahaan ternama dan akan mempunyai jabatan yang lumayan tinggi. Ingat semua itu tidak cuma-cuma kau harus bisa melaksanakan apa saja yang ku sebutkan." Lanjut Vani lagi.
"Baik Tuan putri." Ucap Tomi sambil tersenyum.
Sebenarnya Vani bukanlah wanita yang sangat kejam, masih ada sisi baik dari dalam dirinya. Akan tetapi kebencian menutupi hatinya.
"Jika di perhatikan Vani cantik juga, tidak kalah cantik dari Anna." Batin Tomi sambil tersenyum.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu?, kau jatuh cinta padaku?." Tanya Vani dengan suara mengejek
"Mungkin saja" jawab Tomi enteng yang langsung mendapat bogeman mentah dan pandangan mematikan dari Vani.
"Mak aku jatuh cinta lagi" Batin Tomi sambil menahan perih di pipi kanannya akibat pukulan dari Vani namun dalam hati Tomi tersenyum.
"Jika melihat sisi tomboy Vani dia semakin manis saja." Batin Tomi tersenyum.
Sang sopir yang melihat dari kaca di depan tersenyum sendiri. Baru kali ini dia melihat Nonanya memperlihatkan sisi tomboynya ke orang lain. Biasanya Vani selalu bersikap elegan di depan orang lain termasuk dirinya.
Perjalanan akhirnya sampai juga, Tomi Turun dari mobil dan masuk ke dalam untuk mrngurus segala hal menuju keberangkatannya. Sementara Vani kembali ke tempat apartemen persembunyianya.
Setengah Jam menunggu akhirnya pesawat lepas landas meninggalkan negara Indonesia tercinta.
**********
__ADS_1
*Kantor Bima
"Apa yang bisa kau lakukan Jack?!!. Mencari satu orang saja kau tidak becus!! Bisa-bisanya Tomi kabur dari pengawasanmu" Bima memukul meja kerjanya dengan keras pandangannya Tajam bagaikan mata elang yang sudah siap menerkam mangsa.
"Maafkan saya Tuan." Ucap Jack bergetar.
"Kau pikir dengan ucapan maafmu semuanya akan kembali ke semula. Aku tak perlu Alasan apapun cari dia sampai ketemu." Bima terduduk lemas di bangku kebesarannya. Jack yang melihatnya memilih meninggalkan ruangan Bima.
Sebesar apapun Usaha Bima untuk mencari Anna selalu saja ada halangan, seakan ada dukungan besar di belakangnya. Padahal Bima sudah siap menerima Anna sebagai istrinya. Sudah siap meminta maaf untuknya, sudah siap mencintainya. Namun kenapa?, kenapa semuanya berbanding terbalik? mungkin takdirkah yang tidak merestui?. Ataukah itu karma atas kesalahannya dulu.
Lagi dan lagi Bima harus menghisap rokok yang sudah lama di jauhinya. Demi meringankan sedikit beban pikirannya.
Andai saja semalam Dia tidak meminta bantuan Jack, mungkin saja Tomi sudah jatuh di tangannya sekarang. Benarkah ini takdir?
*Flash back
Setelah Bima melajukan mobilnya dari kantornya, dia menelepon Jack untuk membantunya menjemput dokter kepercayaan keluarganya di luar kota. Saking bahagianya mendengar adiknya telah sadar dia lupa bahwa Jack sedang melakukan misi penting.
"Jack jemput dokter keluarga ke luar kota sekarang, adik saya sudah sadar mungkin Dokter Carli memerlukan bantuannya." Ucap Bima dengan suara bahagia.
"Tapi tuan sekarang..." Mendengar suara Tuannya yang begitu bahagia Jack mengurungkan niatnya menyampaikan hal yang sedang di lakukannya sekarang.
"Kenapa jack, kau ada urusan?" Bima benar-benar sudah melupakan apa yang telah di suruhnya di lakukan jack Tadi pagi.
"Ahh tidak tuan akan segera saya lakukan." Ucap jack tegas. Biarlah Tomi urusan terakhir. Akhir-akhir ini dia jarang mendengar sang Tuan se bahagia itu.
"Baiklah jack, aku percayakan kepadamu Alamatnya akan ku kirim lewat Whatsaap saja" ucap Bima dan memutuskan panggilan.
__ADS_1
Jack bergegas berlari menuju mobilnya dan bergegas menuju Alamat yang telah Bima kirim, dan Dia tidak sadar bahwa dia belum memberi hal yang harus anak buahnya lakukan selanjutnya. Hingga akhirnya Tomi bisa lolos dari pantauan mereka.
Flash Back off.