
Mobil yang di kendarai Bima memasuki pekarangan Rumah yang lumayan Luas. Setelah memarkirkan mobilnya, Bima turun dan memasuki Rumah yang di hiasi berbagai Bunga indah warna-warni.
Tok tok tok
Bima mengetuk pintu yang di cat warna coklat muda itu. Jantungnya berdegup seakan dirinya sedang berlomba lari marathon. Suara langkah kaki dari dalam membuat nafasnya tak beraturan.
klak pintu terbuka.
Nafas Bima berhenti sejenak, Melihat sang Ayah mertua berdiri tepat di depannya.
"Ehh Nak Bima, Mari silahkan masuk" Ucap Agung sambil mempersilahkan Bima masuk ke dalam.
"Hai Ayah, Lama tidak berjumpa" Kata Bima sambil mencium tangan Sang Papa Mertua dengan lembut
"Istrimu mana kok datang sendiri?" Lanjut Agung kembali.
"Ehhh ada Tamu, Menantuu" Lisa yang baru datang dari dapur memotong percakapan mereka.
"Iya Bu" Ucap Bima singkat sambil mencium tangan sang Ibu Mertua.
__ADS_1
"Lohh, Tapi kok Datangnya sendiri si anak bontotku kemana?" Tanya Lisa heran.
"Iyanih Bu, Aku juga heran si Anna kok ga ikut" ucap Ayah menimpali
"Maaf Yah, Bu sebenarnya itu tujuan Bima Datang kesini, Menyampaikan kabar untuk Ayah dan Ibu. Mungkin Kabar ini membuat kalian kaget" Bima menundukkan kepalanya.
Agung menyergitkan dahinya, Sementara Lisa berusaha bersikap tenang.
"Katakanlah" Ucap lisa tegas.
"Anna menghilang Bu."
Deg
"Apa maksudmu??!!" Agung meninggikan suaranya.
"Maaffin Bima Ayah, Ibu ini semua atas kesalahan Bima." Bima berlutut sambil menangis.
"Ceritakan semuanya." Ucap Lisa berusaha tenang.
__ADS_1
"Ini berawal saat kecelakaan adik saya.
Bima menghembuskan nafasnya kasar. Waktu itu aku salah paham Pada Anna. Aku berpikir bahwa Anna lah yang telah menabrak Adik saya, sehingga saya menaruh dendam untuk Anna. Keadaan itu membuat Mama saya syok hingga akhirnya mengalami serangan jantung dan kemudian meninggal." Bima berhenti sejenak memandang lurus kedepan. Posisinya sudah kembali duduk di kursi.
"Saya Tidak terima atas meninggalnya Mama saya sehingga saya berencana untuk mencari dan membalas dendam pada Anna. Dan secara kebetulan Ibu menyuruh saya untuk menikahi Anak sahabatnya yaitu Anna."
" Tentu saya menerimanya karna itu permintaan terakhir Mama dan berjanji akan mencintainya. Namun saat saya pertama kali bertemu dengan Anna saya langsung mengenalinya sebagai pembunuh adik saya. Dan tujuan saya berubah untuk membalaskan dendam saya kepada Anna."
"Di malam pertama setelah saya menikahi Anna, saya membawanya ke rumah dan menyiksanya disana. Itulah kenapa saya cepat-cepat meminta kepada Ibu dan Ayah supaya kami menginap di rumah saya saja dengan alasan supaya bisa saling mengenal lebih dekat. Namun semakin hari Rasa dendam itu menghilang dan berubah menjadi Rasa cinta atas lembutnya sikap Anna yang tidak pernah membantah perintah saya. Bahkan dia begitu perhatian terhadap saya."
"Kemudian Saya menyuruh anak buah saya menyelidiki ulang kasus itu, dan benar saja semuanya itu adalah kecerobohan saya. Anna sama sekali tidak bersalah dan malah ingin membantu adik saya. Dan saya ingin meminta maaf pada Anna akan tetapi saya masih gugup dan merasa bersalah. Dan tepat sebulan yang lalu saya memutuskan untuk menghilangkan rasa bersalah saya dengan meminum minuman keras di sebuah club dan terjadilah pokok permasalahan yang menyebabkan Anna menghilang." Bima menatap kedua mertuanya mereka tampak begitu syok namun berusaha tetap tenang.
"Lanjutkan!!" Perintah Agung dengan tegas.
"Waktu itu Vani berada disana dan menjebak saya hingga akhirnya Anna salah paham dan pergi meninggalkan saya" Bima menundukan kepalanya, Air mata yang susah-susah di Tahannya sedari tadi akhirnya tumpah sudah.
"Aku paham perasaanmu Nak, tapi kamu tidak boleh menyerah Ibu akan mendukungmu" Bima mentap Ibu mertuanya tak percaya.
"Iya nak, Ayah Juga se pendapat dengan Ibu. Kami akan membantumu" Ucap Agung sambil tersenyum.
__ADS_1
Bima menatap kedua Mertuanya secara Bergantian, Ya Tuhan padahal dirinya telah menyiksa Anna sebelumnya akan tetapi kedua orang tua Anna dengan begitu baiknya tak menyalahkannya, Rasa bersalahnya semakin besar. Bima memeluk kedua Mertuanya dengan linangan Air mata.
'Terimakasih' Batin Bima.