
Rasa sakit di kakinya membuatnya tidak sadar kalau dia mengangkat kakinya dan menendang Leo yang ada di depannya.
Beruntung, dengan cepat dipegangi oleh Leo.
"Wanita bodoh, jangan bergerak."
"Sakit"
Chelsea menggoyangkan kakinya sembarangan.
Leo menatapnya dan memegangi kakinya yang terus bergerak.
"Bodoh, jika memar di kakimu ini tidak berkurang, maka kakimu akan membengkak lebih parah lagi besok"
Kemudian Leo mengulurkan tangannya sembari memijat
pergelangan kaki Chelsea dengan perlahan.
"Tapi, itu benar-benar sakit"
Wajah kecil Chelsea berkerut menahan rasa sakitnya.
Melihat penampilannya yang menyedihkan, membuat Leo mengubah nada suara menjadi lebih lembut.
"Tenang saja, kamu akan baik-baik saja."
Dan benar saja. Tak lama setelahnya, Chelsea merasa kakinya menjadi lebih sejuk dan dingin, dan juga sudah tidak terasa sakit lagi.
Melihat Chelsea saat ini dengan wajahnya yang sangat serius, bibirnya yang dingin seperti batu es. Jika diperhatikan lagi dari sudut pandang yang berbeda, sepertinya dia masih punya sedikit... Kelembutan.
Chelsea mencoba menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin Leo bisa bersikap selembut ini padanya?
__ADS_1
"Selama dua hari kedepan, kamu tidak diizinkan untuk mengikuti kegiatan apapun. Jangan memaksakan kakimu. Apakah kamu mendengarku?"
Leo berbicara sambil membalut kakinya dengan kain kasa.
"lya, aku dengar"
Chelsea cemberut. Berpikir jika Leo benar-benar berubah menjadi lembut, rasanya itu hanya sebuah ilusi saja.
Tapi, pria ini tidak kunjung menyelesaikan masalahnya dengan Chelsea.
Dia malah memberinya pijatan secara pribadi, Chelsea jadi merasa sedikit tersentuh.
Ternyata dia hanya terlalu banyak berpikir macam-macam.
"Ok, sekarang urusanmu sudah selesai. Dan sekarang giliran kita berdua." Leo berkata dengan dingin.
"Kita... Memang ada apa dengan kita?" Chelsea gugup.
"Aku.. aku salah. " Chelsea mengatakan dengan lemah.
Leo menatap Chelsea, terlihat ada sedikit air mata yang tersisa di ujung matanya, hidung kecilnya yang memerah, dan pakaiannya yang sedikit berantakan karena usahanya meronta-ronta tadi.
Terlihat seperti seekor kelinci yang meringkuk ketakutan, tak tampak mengganggu, hingga membuat Leo tidak tega memarahinya.
Chelsea menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya yang merah.
Chelsea melamun, pikirannya benar-benar kosong.
Hingga, secara tiba-tiba pintu terbuka dari luar.
"Wow"
__ADS_1
Reaner masuk ke dalam rumah dan langsung melihat pemandangan langkah di ruang tamu hingga membuatnya berteriak dengan semangat.
Dua tangan kecilnya menutupi matanya, dan diam-diam menatap dua orang di sofa dari sela-sela jarinya.
Chelsea yang tersadar dari lamunan seketika mendorong Leo yang ada di depannya karena malu. Dan wajahnya memerah seperti apel merah.
"Ayah, wanitamu mencoba pergi." Teriak Reaner yang takut jika membuat keadaan lebih kacau lagi.
"Kau diamlah!" Chelsea menggertakkan giginya, merasa bahwa anak kecil ini memang pantas untuk dipukul.
Kemudian dia memelototi Leo, si pelaku.
Saat ini Chelsea sudah merasa tenang, dan wajahnya tidak terlihat memerah lagi.
Dia sudah bisa menatap Reaner dengan biasa.
"Aku tahu kamu masih bisa melihat, kan?"
Reaner menjulurkan lidahnya.
Sebaliknya, Leo tidak membantah sama sekali, justru dia terlihat sedang tersenyum.
Chelsea ingin sekali mencari celah untuk pergi dari situasi ini.
Jika ada seorang ayah, pasti ada juga ada seorang putra. Sayangnya, Ayah dan anak ini sama-sama tidak normal!
"Rapikan pakaianmu yang berantakan itu, lalu bangun dan kembalilah ke kamarmu."
"Jangan turun!" ucap Leo dengan mengerutkan kening, kemudian dia berdiri dan mengangkat Chelsea kembali.
Dia berencana membantu Chelsea pergi ke kamar mandi, mengantarnya masuk, lalu keluar kembali.
__ADS_1