Mencintai Dengan Paksaan

Mencintai Dengan Paksaan
Bab 11 Kedatangan Nathan


__ADS_3

"tidak usah, sepertinya chen sedang sibuk lain kali saja" Balas resti dengan sedikit gugup


"Oke kalau begitu, lain kali kita ngobrol lagi bye.." putri pun melangkah pergi sambil melambaikan tangannya.


Resti membalas lambaian putri sembari tersenyum, untunglah saat itu ada pelanggan lain yang datang sehingga resti punya alasan tidak mengantarkan putri sampai kedepan dan bisa menghindar dari bertemu chen.


Baru saja mobil yang dikendarai chen dan putri menjauh dari toko resti, lisa dan neneknya datang.


"Mama...." Teriak lisa dari luar sambil berlari.


"Anak mama, sudah datang.." Sambut resti langsung memeluk lisa sambil menciumi pipinya.


"Mama capek ya.." Tanya lisa


"Iya... Mama capek... Banget" Sahut resti dengan manja.


"Sini lisa pijitin.."


"Terima kasih, anak mama..."


"Tapi mama masih sibuk nanti kalau mama sudah selesai baru lisa pijitin.." Ujarnya sambil menoel hidung lisa.


Resti melepas celemeknya dan mengambil ponsel serta tasnya.


"Mama mau kemana?" Tanya lisa


"Mama mau belanja bahan dulu, lisa tinggal sebentar sama nenek ya.." Jawab resti


"Ingat jangan nakal.." Pesan resti lagi


"Bu, resti pergi dulu ya" Ujar resti pamit kepada ibunya.


"Iya, hati hati dijalan" Pesan ibunya.


Awalnya resti hanya akan berbelanja di super market namun setelah lewat di depan pasar tradisional ia berubah pikiran.


Selain harganya kebih murah biasanyanya buah-buahannya juga masih bagus dan segar segar, pikirnya.


Ringgg~~ ringgg~~~


Resti mengambil ponsel di dalam tasnya, sebuah panggilan masuk dari nathan.


"Halo, nathan ada apa?" Tanya resti begitu tersambung.


"Res, lusa aku akan terbang ke negara M" Sahut nathan.


"Apa, lusa?"


"Iya, kebetulan aku ada bisnis yang harus di urus di kota S"


"Benarkah, lisa pasti sangat senang" Ujar resti.


"Bagaimana kabar lisa?" Tanya nathan


"Dia baik, dia juga sangat senang tinggal dengan neneknya"


"Apakah dia sudah melupakan aku.." Ujar nathan dengan suara sedih


Resti yang mendengar nathan bertingkah begitu jadi tertawa


"Mana mungkin, setiap hari lisa selalu menanyakan tentangmu" Sahut resti


"Baiklah, aku akan mengabari lagi kalau sudah berangkat"

__ADS_1


"Eum, apa perlu aku jemput di bandara?"


"Tidak usah, aku akan mengambil penerbangan malam"


"Jadi kau akan menginap dimana?"


"Di hotel emte empire"


Hotel emte empire adalah hotel mewah terbesar di kota s dan seluruh negara M, sudah cukup terkenal diantara para pembisnis dunia. Juga merupakan salah satu bisnis keluarga chen.


"Halo res, resti..." Panggil nathan mengagetkan resti.


"Oh, iya nat... Maaf"


"Kamu kenapa?" Nathan jadi cemas setelah mendengar suara resti


"Tidak apa-apa, aku sedang belanja di pasar" Sahut resti mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu"


"Iya, bye.." Ujar resti menutup telponnya.


-


-


-


******


Ditaman


Pagi yang cerah, matahari bersinar terang udara yang masih bersih belum ada polusi. resti berlari lari kecil memutari taman sambil sesekali menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di leher.


Seorang pria setengah baya duduk di sampingnya, sepertinya dia sedang kelelahan setelah berolah raga, resti menyodorkan botol minum yang ada ditangannya.


"Terima kasih" Ujar orang itu sambil mengambil botol minum yang di berikan resti.


"Bapak sering olah raga di sini juga ya?" Tanya resti memulai pembicaraan.


"Tidak sering, cuma kadang kadang saja" Sahut orang itu dengan jujur.


"Maklumlah sudah tua, jadi tidak bisa sering sering"


"Kelihatannya bapak masih muda dan cukup kuat" Ujar resti


"Hahaha, kamu bisa saja menyenangkan orang tua" Orang itu pun tertawa mendengar pujian resti.


"Siapa nama kamu?"


"Nama saya resti pak, saya tinggal di dekat sini" Jawab resti


"Resti... Nama yang bagus" Puji orang itu


"Nama saya tian, panggil saja pak tian" Lanjut orang itu.


" Oh, baik pak tian, saya senang bisa mengenal bapak" Ucap resti sambil mengulurkan tangan dan di sambut oleh orang itu.


Mereka pun asik mengobrol hingga tak terasa sudah hampir jam sembilan.


"Maaf pak, saya tinggal dulu sudah mulai siang, saya mau buka toko" Ujar resti seraya bangkit dari duduknya.


"Oh nak resti punya toko?"tanya pak tian

__ADS_1


"Iya pak, cuma toko roti kecil" Sahut resti merendah.


"Wah, tidak di sangka nak resti ternyata seorang pengusaha juga" Puji pak tian


"Bapak bisa saja.." Resti tersipu malu.


"Saya permisi dulu pak" Ujar resti pamit


"Kapan-kapan silahkan main ke toko saya, tidak jauh dari sini" Ujar resti lagi


"Baiklah, kapan-kapan saya pasti akan berkunjung" Sahut pak tian.


Resti pun melangkah pergi meninggalkan pak tian yang masih duduk di kursi dan matanya masih memandang punggung resti yang perlahan menghilang di kejauhan.


"Bapak sedang merhatiin siapa?" Tanya asisten pak tian yang datang tiba-tiba.


"Ah bukan siapa siapa" Sahut pak tian mengalihkan pandangannya.


"Apakah chen sudah berangkat ke kantor?"


"Iya, sudah tuan"


"Baiklah, ayo kita pulang" Ajak pak tian pada asistennya.


******


hari kedatangan nathan


Nathan akhirnya tiba di kota S, setelah menyelesaikan urusannya ia meminta resti dan lisa datang ke hotel untuk menemuinya.


mendengar papa nathan datang lisa sangat senang dan memaksa resti untuk cepat-cepat pergi kehotel tempat nathan menginap.


saat memasuki hotel resti tidak sengaja melihat pak tian tengah berjalan sambil berbicara dengan beberapa orang yang berpakaian rapi dan mengenakan jas.


resti sengaja berjalan menunduk agar tidak dikenali oleh pak tian, ia tidak ingin mengganggu pak tian yang tampaknya tengah sibuk.


Nathan menghampiri resti yang tengah berdiri di depan lift, ia telah menunggu resti dari tadi.


"papa..." panggil lisa sambil memeluk nathan.


"nathan?" seru resti


"apa urusannya sudah selesai?" tanya resti


"sudah, baru saja selesai" jawab nathan


"ayo kita pergi makan, kabarnya makanan di hotel ini terkenal enak" ajak nathan sambil menggendong lisa.


"enakan mana sama masakan mama?" tanya lisa dengan polos


"tentu saja enakan masakan mama.." jawab nathan


"iya, masakan mama paling enak.." ujar lisa sambil mengacungkan kedua jempolnya.


resti dan nathan jadi tertawa melihat tingkah lucu lisa.


Ting~~


pintu lift terbuka, nathan dan resti segera masuk kedalam lift


dari dalam lift melalui pintu yang hampir tertutup resti tidak sengaja melihat sosok yang sangat ia kenal tengah berlalu melewati lift yang ia naiki bersama nathan. matanya terbelalak dan keringat dingin mulai menetes dari dahi dan pelipisnya, ia tidak mungkin salah,


orang yang tingginya sekitar 185 bermata coklat terang dengan rambut agak kecoklatan dan sedang mengenakan jas berwarna navy itu pastilah orang yang selama ini selalu ia benci dan ia hindari, dan tak pernah ingin ia temui, bahkan sekalipun tak pernah berharap akan melihat orang itu lagi dalam hidupnya.

__ADS_1


---to be continued


__ADS_2