Mencintai Dengan Paksaan

Mencintai Dengan Paksaan
Bab 13 Lisa ngambek


__ADS_3

Pagi yang cerah!!!


Seperti biasa resti selalu mengawali harinya dengan berlolah raga lari lari kecil atau joging di taman dekat rumahnya, lalu kemudian ia akan bergegas membuka toko rotinya.


Baru selesai beres beres dan mengatur letak letak roti dan kue bikinannya dan ibunya, rey datang bersama nathan memasuki toko resti.


"Wah, tidak ku sangka kau benar benar membuka toko roti" Ucap nathan penuh kagum.


"Yah, usaha kecil kecilan nat" Sahut resti sambil menarik kursi untuk duduk.


"Yang penting aku bisa sambil ngurus anak dan ibuku" Lanjutnya lagi.


"Sayang sekali bakat desainermu tidak di salurkan" Nathan ingat resti pernah mengambil jurusan desain mode waktu kuliah di luar negeri.


"Anggap saja itu pengalaman dalam hidup" Sahut resti santai.


"Kamu serius tidak ingin menjadi desainer terkenal lagi" Nathan ikut menarik kursi di depan resti.


Resti menarik napas dan menyilangkan tangan di dadanya, ia mengangguk dengan pasti.


Nathan pun tidak meneruskan pertanyaan menyelidiknya, itu adalah keputusan resti selama resti bahagia dengan keputusan yang ia ambil, ia akan selalu mendukungnya.


"Mana lisa, apa dia tidak ikut kesini?" Nathan mengalihkan pembicaraannya.


"Masih di rumah sama ibu, nanti agak siangan juga nyusul kemari"


Saat nathan dan resti asik mengobrol rey datang membawa nampan berisi secangkir kopi dan sepotong kue yang baru resti bikin.


"Cobain nat, ini buatan resti lho" Ujar rey sambil meletakkan nampan yang di bawanya di hadapan nathan.


"Kok cuma satu, buat aku mana?" Protes resti.


"Ambil sendiri.." Ketus rey


"Beneran kamu yang bikin res?" Nathan seolah tidak percaya.


Bagaimana bisa orang yang biasanya memegang gunting jarum dan benang tiba-tiba berkutat di dapur.


Resti tidak menjawab ia hanya sedikit mengangguk sambil tersenyum melihat nathan menyuap sesendok kue hazelnut cheesecake yang baru ia bikin untuk di taruh di etalase tokonya.


"Bagaimana...??" Resti penasaran dengan pendapat nathan tentang kue bikinannya.


Nathan mengecap dan memutar matanya kekiri dan kekanan seolah sedang meresapi dan mencerna rasa yang terdapat pada kue yang barusan ia makan.


"Bagaimana???" Tanya resti lagi dengan wajah yang sudah tidak sabar.


"Emmmm... Rasanya itu kaya ada manis manisnya gitu..." Jawab Nathan dengan gaya ala ala chef yang sedang menilai masakan para peserta lomba masak.


"Apaan sih..." Resti setengah kesal di buatnya.


Nathan yang melihat wajah sewot resti jadi tertawa senang penuh kemenangan, ia memang paling suka melihat resti dengan wajah cemberutnya.


Bagi nathan itu adalah wajah tulus resti yang hanya ia dan orang orang terdekat sajalah yang bisa melihatnya.


Selama ini resti selalu terlihat ramah dengan senyuman yang terukir di wajahnya pada setiap orang.


Meski seberapa lelah dan beratnya bebab hidup yang harus ia jalani, resti tidak pernah menunjukan wajah kecewa ataupun sedih di depan orang orang.


Hanya di hadapan rey dan nathan saja resti bisa menunjukan sisi lemah dirinya.


"Enak... Ini kue terenak yang pernah aku makan" Ucap Nathan setelah puas dengan tawanya.


Namun resti tetap mengacuhkan nathan dan membuang wajahnya.

__ADS_1


Nathan berdiri dan mencondongkan badannya kearah resti lalu kemudian...


Thakkkk~~~


"Auw...." Jerit resti sambil memegang dahinya.


Rey yang tengah melayani beberapa orang pembeli hanya geleng geleng melihat kedua temannya itu.


"Sakit tau...." Resti meringis kesakitan.


"Aduh kasihan... Sini biar aku tiupin" Nathan masih dengan sifat usilnya.


"Mending aku minta tiupin sama rey" Ujar resti masih dengan wajah marahnya.


"Ya sudah..." Sahut nathan kembali keposisi duduknya.


"Kalian ini apa apaan sih, bikin pelanggan kaget saja" Omel rey pada resti dan nathan.


"Nathan tuh...." Tunjuk resti dengan wajah sewotnya.


"Oya nat, tadi kamu bilang ada perlu dengan resti, apaan?" Tanya rey tanpa memedulikan aduan resti.


"Oiya, hampir lupa" Ujar nathan menepuk jidatnya.


"Gini res, besok malam ada makan malam perusahaan kamu temanin aku ya!?" Pinta nathan dengan serius.


"Besok?" Resti memperjelas


"Iya, besok malam"


"Dimana, jam berapa, trus aku pakai apa?" Resti menembakan pertanyaannya bertubi tubi pada nathan.


"Nanti aku jemput" Balas nathan.


"Tapi kalau aku belum siap gimana?" Lanjutnya menekankan.


"Pokoknya nanti aku kabarin" Balas nathan


"Kamu siap siap aja yang penting jangan lupa mandi" Lanjut nathan penuh teka teki seperti biasa, namun resti sudah terbiasa dengan sikap nathan itu.


"Habis ini kamu mau kemana?" Tanya resti.


"Kemana ya...??" Nathan dengan tampang bingungnya makin bikin resti ingin meninju wajah tampannya.


Karena sudah agak siang lisa dan neneknya pun datang menyusul resti ke toko.


Lisa yang melihat nathan dari jauh langsung berlari menghampiri nathan.


"Papa..." Seru lisa dengan girang.


Nathan menoleh kearah lisa dan langsung menggendongnya.


"Papa sudah lama ya?" Tanya lisa dengan suara kecilnya.


"Papa juga baru tiba" Jawab nathan sedikit berbohong.


Karena lisa akan ngambek jika ia tahu nathan sudah dari tadi bersama mamanya tanpa memberitahu lisa.


"Bener mah?" Lisa bertanya kepada resti karena tidak percaya.


"Bohong, papa nathan sudah dari tadi" Rey langsung nyeletuk sebelum resti menjawab.


Resti melotot kearah rey yang disambut dengan meletan dari rey.

__ADS_1


"Huwaaaa papa bohong" Lisa pun menangis kencang akhirnya.


"Cup cup cup... Im sorry, baby" Nathan berusaha membujuk lisa.


"I hate you, dad..." Lisa masih terus menangis.


"tolong maafin papa kali ini, ya?" Ujar nathan dengan wajah menyesal.


"I won't do it again" Nathan mengacungkan dua jarinya.


"do you promise?" Lisa masih menuntut nathan.


"Iya, papa janji" Nathan menghapus air mata lisa dan menciumnya.


Ibunya resti yang memperhatikan dari jauh keakraban lisa dan nathan jadi bertanya tanya.


"Siapa orang ini, kenapa sangat dekat dengan cucuku?" Ujarnya membatin.


"Ibu...." Panggil resti membuyarkan pikiran ibunya.


"Oh... eh, iya..." Sahut ibunya mendekat.


"Bu, kenalin ini nathan teman resti" Resti memperkenalkan nathan dengan ibunya.


"Halo tante, saya nathan" Ujar nathan ramah sambil mengulurkan tangannya.


"Saya mamanya resti, neneknya lisa" Sahutnya sambil menyambut tangan nathan.


Nathan mempersilakan ibunya resti untuk duduk bersama mereka.


"Sepertinya lisa sangat dekat denganmu?" Pertanyaan menyelidik mulai di lancarkan oleh calon ibu mertua.


" Iya, saya sudah dekat dengan lisa dari dia masih kecil" Sahut nathan tanpa mengurangi keramahannya.


"Sejak masih kecil? Bukannya lisa ini masih kecil? Apa maksudanya mereka sudah dekat sejak lisa masih bayi?"


Ibunya resti kembali membatin sambil meneliti nathan dari ujung rambut sampai ujung siku. Soalnya mereka lagi duduk jadi gak bisa liatin sampai ujung kaki.


Pembicaraan mereka pun makin berlanjut penuh suasana kekeluargaan, hingga tidak terasa waktu sudah semakin siang.


Ibunya resti bermaksud mengajak nathan untuk makan siang bersama dengan mereka.


Drrrrt drrrt~~~~


Ponsel nathan bergetar dan ada kotak pesan yang masuk dari asistennya.


"Maaf, saya hampir lupa masih ada urusan" Ujar nathan setelah membuka pesan dari asistennya.


"Mau kemana?" Tanya resti.


"Ada utusan dari perusahaan ingin menemuiku di hotel" Nathan menjelaskan kepada resti.


Nathan bangkit dari tempat duduknya dan menyerahkan lisa yang sejak tadi ia pangku kepada resti.


"Papa ikut...." Lisa mulai menangisi nathan lagi.


"Lisa tinggal sama mama dulu ya..."


" Nanti kalau urusan papa sudah selesai papa akan ajak lisa jalan-jalan, oke!?"


Sebelum pergi nathan tidak lupa mencium lisa seperti anaknya sendiri, hal itu mendapat nilai tersendiri di hati calon ibu mertua. hehehe.


---to be continued

__ADS_1


__ADS_2